Kisah Suher Sainan, Aktif di Pramuka Selama 49 Tahun

0
144
Suher Sainan (kiri) berdedikasi tinggi aktif di Pramuka sejak 1970

Di Luar Dipanggil Kakak, di Rumah Dipanggil Kakek

Sejak 1970, Suher Sainan telah mengenal gerakan Pramuka. Saat itu ia duduk di bangku kelas tiga SD Trikora Baja Cilegon 1. Hingga saat ini, usianya telah 58 tahun, ayah tiga anak itu masih tetap aktif di Pramuka.

BAYU MULYANA – CILEGON

Rumah Suher Sainan berada di Jalan Brigjen KH Syam’un nomor 12, RT 01 RW 04, Lingkungan Ramanuju, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil. Rumahnya tak jauh dari kantor walikota Cilegon dan DPRD Kota Cilegon. Untuk bisa tiba di rumahnya cukup menempuh waktu sekira lima menit dari kantor walikota Cilegon menggunakan sepeda motor.

Kedatangan Radar Banten di kediaman Suher pada Senin (19/8) sekira pukul 15.30 WIB diterima oleh anak keduanya, M Lufe’il Susmay Albana. Istri Suher, Maysastra, langsung mempersilakan duduk, sedangkan Lufe’il Susmay Albana memanggil ayahnya.

“Tunggu sebentar ya, Pak. Lagi di kamar mandi,” tutur pria yang baru saja menyelesaikan pendidikan strata satunya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tersebut pada Radar Banten yang sejurus kemudian menuju kamarnya.

Sekira lima menit kemudian, Suher tiba di ruang tamu mengenakan baju koko berwarna putih dengan sarung kotak-kotak berwarna ungu. Senyum ramah tersungging di bibir pensiunan aparatur sipil negera (ASN) tersebut. 

Di usia Suher kini, ia pun telah mempunyai dua orang cucu dari anak pertamanya Alin Susmay Yunisas. Keduanya, yaitu Ibrohim Zaid berusia dua tahun dan Sarah Rumaisah berusia dua bulan. Namun, panggilan kakek, bapak, atau panggilan takzim lain bagi pria yang telah berusia kepala lima hanya berlaku di dalam rumah. Di luar rumah, khususnya di lingkungan Pramuka, ia tetap dipanggil dengan sebutan kakak.

Sejak duduk di kelas tiga SD hingga sekarang, Suher masih aktif di gerakan kepramukaan. Ia kini menjabat sebagai wakil ketua di Kwarcab Kota Cilegon. Sejak pertama kali mengenal Pramuka pada 1970, berarti ia telah 49 tahun berkecimpung di dunia kepramukaan.

Sebagai orang yang telah puluhan tahun aktif di Pramuka, panggilan kakak bukan suatu yang membuatnya risi atau tidak nyaman, justru ia mengaku sangat menikmati panggilan tersebut. “Di Pramuka kan hanya ada dua, yaitu peserta didik dan yang mendidik, adik sama kakak. Di bawah usia 25 tahun peserta didik, 25 tahun ke atas pembina, namanya kakak,” tutur Suher.

Suher bercerita, sejak SD, kemudian masuk SMPN Cilegon, berlanjut di SMAN Serang, dan kuliah di IKIP Bandung jurusan Matematika, ia tidak pernah melepaskan kegiatan Pramuka. Ia sudah jatuh hati pada gerakan tersebut.

Prestasi sudah banyak ia torehkan, saat SMP, ia berhasil membawa regunya menjuarai lomba tingkat Kabupaten Serang. Saat di SMA, ia sudah mewakili Kabupaten Serang mengikuti Jambore Nasional kedua di Medan. Di masa yang sama ia pun berhasil membentuk Saka Bhayangkara Komres Cilegon.

Ia pun salah satu sosok yang menginisiasi pembentukan Kwarcab Kota Cilegon tahun 1999. Saat itu, tepatnya pada Juli, ia bersama empat orang lainnya, yaitu Sumantri, Zaenal, Tuti Lestari, dan Hamdani mendapatkan mandat untuk mendirikan Kwarcab Cilegon dari Kwarda Jawa Barat.

Pada Oktober tahun 2000, ia sebagai sekretaris Kwarcab Cilegon mengikuti Musdalub Kwarda Jabar di Jatinangor, Bandung. Mengingat tahun itu Banten mulai terbentuk menjadi provinsi, ia bersama perwakilan dari Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Tangerang, mendapatkan mandat untuk menggelar Musda Kwarda Banten.

Usai melakukan segala persiapan yang berat pada April 2001, musda pertama Kwarda Banten bisa digelar di Islamic Center Kota Serang. Dengan kata lain, Suher menjadi salah satu sosok di balik pendirian Kwarda Banten.

Pada Radar Banten, Suher menceritakan hal-hal yang membuatnya terus aktif di kegiatan kepramukaan. Latar belakang sebagai tenaga kependidikan salah satu hal yang membuatnya terus konsisten bergerak. Ia sejak 1988 diangkat sebagai ASN, terus bertugas di dunia pendidikan. Mulai dari guru di SMAN 1 Cilegon hingga kepala SMKN 2 Cilegon dan di SMAN 4 Cilegon.

Selain itu, alasan lainnya adalah ia merasakan kenyamanan saat berpramuka. Rasa nyaman itu tidak pernah hilang sejak 1970 hingga tahun ini. “Saya merasakan kepuasan batin di Pramuka, bukan tentang uang, banyak yang nanya dapat apa sih di Pramuka, tapi kepuasan batin itu tidak bisa dibohongi,” cerita Suher.

Ia pun menilai, sebagai tenaga pendidik dan Pramuka sebagai jalan hidup yang sudah digariskan Allah untuknya. Hal itu karena pada 1979 lalu ia mengikuti tes Akabri. Namun, gagal karena tinggi badannya kurang memenuhi syarat. Saat itu tinggi badannya 157, sedangkan syarat minimal 160.

Hingga ia kuliah di IKIP, ia masih berusaha masuk Akabri dengan membeli alat peninggi badan. Namun, sudah satu tahun ia lalui, tinggi badannya hanya bertambah satu sentimeter. Di sisi lain, kegiatan Pramuka semakin membuatnya nyaman dan jatuh cinta.

Terlebih, ia mendapatkan dukungan dari Maysastra, perempuan yang ia nikahi pada 17 Agustus 1991 tersebut, dan seluruh anggota keluarganya.

Maysastra bercerita, sejak pertama menikah, ia kerap diajak oleh suaminya itu untuk mengikuti kegiatan Pramuka. Hal itu juga dilakukan kepada anaknya. “Suka diajak kamping. Dari situ saya semakin tahu kegiatan-kegiatan Pramuka itu seperti apa saja,” tuturnya.

Menurut May, ia menyerahkan sepenuhnya pada suami. Sebagai seorang istri, ia pun tidak akan melarang hobi yang disukai suaminya selama tidak menyimpang dan masih bisa membagi waktu dengan keluarga. (*)