Kisah Tiga Bocah yang Nekat Gowes dari Palembang ke Tangerang

0
2.095 views
PEMBERANI: Dari kiri, Muhammad Okta Firmansyah, Muhammad Afrizal, dan Aslam Alamsyah (di boncengan) di rumah orang tuanya Jumat (30/6) di Ciledug, Tangerang. (Puguh Sujatmiko/Jawa Pos/JawaPos.com)

Demi bisa berlebaran dengan sang ibu, tiga bocah nekat mengayuh sepeda dari rumah nenek mereka di Palembang, Sumatera Selatan, menuju Ciledug, Tangerang, Banten, tempat tinggal orang tuanya. Aksi ketiganya sempat ’’menghebohkan’’ media sosial.

DIAN CAHYANI, ADI FATRIANSYAH, dan FERLYNDA PUTRI, Palembang

TIGA bocah itu bernama Muhammad Okta Firmansyah, 15, dan adiknya, Muhammad Afrizal, 13, serta Aslam Alamsyah, 11, anak tetangga mereka di Tangerang. Ketiganya sempat ’’terdampar’’ di Indralaya, Ogan Ilir (OI), tepat pada hari raya Idul Fitri, Minggu (25/6). Ketika itu, sekitar pukul 12.30 WIB, mereka tiba di Pos Pelayanan (Pos Yan) Km 32 Indralaya.

NGEMONG: Rizki Dwianda dari PT ASDP Indonesia Ferry Persero Cabang Bakauheni (tengah) bersama tiga bocah bersaudara asal Palembang. (Dokumen PT ASDP Indonesia Ferry Persero Cabang Bakauheni for Radar Lampung/JawaPos.com)

’’Kami mau naik truk. Tapi, tidak ada truk yang lewat,’’ ujar Aiptu Syukrial, petugas Pos Yan Km 32, menirukan penuturan Rizal cs. Saat datang ke pos, tiga bocah itu membawa dua sepeda butut yang dikendarai dari rumah nenek mereka di Palembang.

Lantaran dianggap menempuh perjalanan ’’tidak lazim’’, tiga bocah tersebut lantas dikirim ke Panti Sosial Dharmapala Km 32. Tidak jauh dari Terminal 32 Indralaya. ’’Saya sendiri yang mengantar,’’ ujar Syukrial kepada Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group) yang menemuinya kemarin (30/6).

Di panti, mereka diperlakukan dengan baik. Mereka mendapat tempat istirahat di bangunan paling belakang. Kondisi tiga bocah tersebut tampak kusut, kelelahan. Pakaian mereka juga lusuh dan tanpa bekal yang cukup untuk bepergian jauh.

’’Mereka lalu saya minta mandi dan setelah itu makan,’’ ujar Wismantoro, pengurus panti.

Begitu mereka selesai makan, 30 menit kemudian turun hujan deras. ’’Saya iseng cek ke asrama, tempat anak-anak itu istirahat. Eh, ternyata mereka sudah tidak ada di kamar,’’ jelas Wismantoro.

Anak-anak itu, rupanya, kabur. Padahal, kata Wismantoro, besoknya mereka dicarikan bus ke arah tujuan dan dititipkan kepada sopir bus. ’’Tapi, itu tadi, mereka keburu kabur.’’

Wismantoro belum sempat memperoleh data detail tentang tiga bocah tersebut. ’’Saat ditanya alamat, jawabnya simpang siur. Katanya di Ciledug, asal Palembang,’’ ungkapnya.

Pengakuan lain, orang tuanya bernama Nasir. Bekerja di PO Arya Prima. ’’Sebagai sopir atau kernet, mereka tidak bisa menjelaskan secara detail,’’ katanya. ’’Ini nomor telepon Pak Dori, teman ayahnya,’’ kata Wismantoro sembari menyerahkan secarik kertas berisi nomor handphone.

Dari Dori, wartawan koran ini mengantongi alamat tiga bocah itu. Yakni, Jl Merdeka, Lr Pangeran Marto No 167, Kelurahan 19 Ilir, Bukit Kecil, Palembang. Alamat itu dihuni Iskandar dan Megawati yang tak lain adalah kakek dan nenek mereka. ’’Iya benar, saya neneknya Rizal,’’ ujar Megawati ramah.

Duduk lesehan di ruang tamu, sebuah rumah sederhana, Megawati yang biasa dipanggil Wak Era terdengar mengeluh ketika koran ini menyebut nama tiga cucunya yang nekat pulang ke Ciledug dengan hanya bersepeda BMX. ’’Anak-anak itu memang suka nekat. Waduh…,’’ katanya, lantas menghela napas dalam-dalam.

Menurut Wak Era, Rizal dan Okta adalah cucu dari anaknya yang bernama Sulastri, 40, dan menantunya, Muhammad Nasir, 41. Sedangkan Aslam adalah tetangga di Tangerang. ’’Rizal sama Okta sudah lama tidak ke Palembang,’’ jelasnya.

Hanya, pada Ramadan lalu, dua cucunya itu ke Palembang. Tepatnya sehari sebelum bulan puasa, Sabtu (27/5). ’’Waktu buka pintu, sekitar pukul 04.00 subuh, saya terkejut lihat mereka datang. Saya tanya siapa yang mereka ajak (Aslam), katanya tetangga di Tangerang.’’

Selama Ramadan di rumah neneknya di Palembang, ketiganya juga menjalankan puasa. Rizal dan Aslam rajin berpuasa. ’’Tapi, Okta, meskipun paling tua, puasanya bolong-bolong. Banyak batalnya.’’

Tiga bocah itu sempat mengutarakan keinginan berlebaran di Palembang. ’’Mereka sering cerita, suka kesal lihat ayahnya pulang kerja sering mabuk,’’ lanjut Wak Era.

Okta dan Rizal merupakan enam bersaudara. Adiknya masih kecil-kecil. Yakni, Jefri, Ridwan, Irham, serta si bungsu Gibran yang masih 1,5 tahun.

Nah, sehari sebelum Lebaran, Sabtu (24/6), Okta mendapat telepon dari adiknya, Jefri, yang mengabarkan bahwa ayah dan ibunya bertengkar hebat. Mereka diminta segera pulang untuk mengurus empat adiknya yang lain.

’’Setelah dapat telepon itulah mereka pengin balik (pulang, Red) ke Tangerang,’’ jelas Wak Era.

Ketika itu, sang nenek sedang tidak enak badan. Dia tak bisa mengantar ketiga bocah pulang. ’’Mereka baleknyo (pulangnya, Red) jam duo (14.00 WIB). Saya cuma kasih uang untuk bekal balik,’’ ungkapnya.

Wak Era mengaku tidak tahu bahwa tiga anak itu pulang ke Tangerang dengan naik sepeda BMX. ’’Mereka pakai sepeda siapa?’’ ujarnya keheranan.

Meski demikian, Wak Era membenarkan bahwa cucunya memang sering nekat. Pernah suatu hari muncul di rumah sang nenek dengan diantar sopir bus. ’’Mereka itu sering menumpang bus dari Jakarta. Karena ayahnya lama bekerja sebagai kernet bus Aria Prima,’’ lanjutnya.

Bahkan, belum lama ini, Okta dan Rizal sempat ke Jambi sebelum ke Palembang. Selain itu, mereka hendak berangkat ke Padang untuk menemui pamannya. ’’Mereka sering ikut bapaknya kerja. Tapi, mereka juga sering kena marah karena sering pulang pergi Palembang–Jakarta.’’

Namun, ada alasan lain mengapa cucunya sering bepergian tanpa pamit orang tuanya. Yakni, mereka kesal melihat bapaknya setiap pulang kerja sering dalam kondisi mabuk. ’’Dua cucu saya ini juga kerap melihat orang tuanya tengkar,’’ cerita Wak Era.

Sementara itu, Muhammad Afrizal masih terlihat kelelahan saat ditemui di rumahnya, kawasan Kelurahan Kereo, Tangerang Kota, kemarin (30/6). Maklum, dia baru sampai rumahnya pukul 01.00. Bocah 13 tahun itu baru saja melakukan perjalanan selama enam hari dari Palembang ke Tangerang. ’’Saya kangen sama orang tua,’’ katanya saat ditanya alasannya melakukan perjalanan nekat tersebut.

Sebenarnya ini bukan perjalanan nekat pertama tiga bocah itu. Sebulan lalu Rizal, Okta, dan Aslam juga nekat ke Palembang. Mereka pergi ke rumah kakek dan neneknya tersebut dengan menumpang truk. ’’Kalau saya tahu pasti tidak akan saya perbolehkan,” ujar Sulastri, ibu Rizal dan Okta.

Rizal yang sering ikut ayahnya, Muhammad Nasir, ke Palembang merasa tahu jalan menuju rumah neneknya. Untuk itu, dia merasa percaya diri ketika pergi ke Palembang bersama Okta dan Aslam. Ketika sampai Palembang, barulah ketiganya menyampaikan pesan via Facebook kepada sepupunya yang tinggal tak jauh dari rumah orang tuanya di Tangerang. Pesan itu lantas disampaikan kepada orang tua mereka.

Ternyata, berpisah jauh dengan orang tua membuat mereka rindu rumah. Seminggu sebelum Lebaran, rasa kangen mereka semakin menggebu. Apalagi, banyak orang yang mudik ke kampung halaman masing-masing. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sabtu (24/6), tepatnya saat malam takbiran, niat untuk bertemu orang tua semakin besar. Rizal kemudian nekat meminjam sepeda BMX sepupunya untuk pulang. Tapi, dia meminjam tanpa izin yang punya.

Mereka membawa bekal uang Rp 150 ribu. ”Uang itu tabungan hasil jualan tas kresek,” kata Rizal. Sayang, uang Rp 150 ribu hanya bisa digunakan untuk naik bus dan makan. Dari Palembang hingga Terminal Rajabasa, Lampung. Padahal, dari Terminal Rajabasa ke Pelabuhan Bakauheni, jaraknya masih jauh. Lebih dari 60 kilometer. Jarak itu dia tempuh dengan bersepeda. Okta dan Rizal bergantian membonceng Aslam. ”Kalau sudah gelap, kami istirahat,” tuturnya.

Perut lapar selama di perjalanan harus ditahan. Pasalnya, uang tinggal sepuluh ribu rupiah. Uang itu untuk naik kapal. Ketiganya tidak mau mengemis. ”Sempat dikasih makan dan uang sama ibu-ibu. Lainnya saya ngamen,” cerita Rizal.

Banyak pengalaman seru yang mereka alami. Yang diingat adalah mereka dikejar anjing saat berada di tengah hutan. Mereka harus mengayuh lebih kuat lagi. Rizal yang membonceng Aslam pun ngos-ngosan. Namun tak pantang menyerah. Kecelakaan kecil pun mereka alami. ”Kakak saya sempat jatuh di perjalanan. Saya dan Aslam sampai Bakauheni lebih dulu,” cerita anak kedua di antara enam bersaudara itu.

Sambil menunggu Okta, Aslam dan Rizal beristirahat di pos PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry. Saat itulah mereka bertemu dengan Rizki Dwianda, vice president services and assurance PT ASDP. ”Awalnya saya tidak percaya kalau mereka mau beli tiket,” kata Rizki saat dihubungi Jawa Pos.

Pria 30 tahun itu mengira Aslam dan Rizal sebagai warga sekitar pelabuhan. Rizal yang berbadan lusuh langsung duduk di depan kipas angin. ”Pak, saya tidak punya handphone. Kalau beli tiket di sini bisa?” kata Rizki menirukan perkataan Aslam. Aslam menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki uang Rp 20 ribu.

Permintaan itu tidak lantas dikabulkan Rizki. Dia takut Aslam berbohong. ”Saya tanya orang tuanya mana. Aslam bilang datang dengan kakaknya,” ucap Rizki. Si kakak yang disebutkan Aslam itu adalah Rizal. Rizki pun menanyakan latar belakang mereka hendak menyeberang ke Jawa.

Berselang satu jam, Okta datang. Barulah Rizki mulai percaya bahwa tiga anak tersebut akan mudik ke Tangerang, tapi tidak punya uang. ”Saya sempat ajak mereka makan dulu. Setelahnya, saya seberangkan pakai mobil,” tutur Rizki.

Pertemuan di pos ASDP itu juga membuat ketiganya mendapatkan tambahan uang saku. Beberapa orang dari ASDP memberikan uang bekal untuk ketiganya. ”Saya pesan, uang ini untuk orang tua mereka,” imbuh Rizki.

Di rumah, Sulastri dan Muhammad Nasir, suaminya, belum mendapat kabar bahwa anaknya pulang dari Palembang. ”Jam 01.00 ada rombongan bawa anak saya. Ada wartawan. Saya takut,” tutur Sulastri. Mereka pikir anak-anaknya membuat onar.

Setelah mendapat penjelasan, akhirnya perempuan 40 tahun itu paham. Air matanya meleleh ketika mendengar cerita anaknya. ”Kalau tahu, ya tidak bakal saya bolehkan (pulang dengan naik sepeda, Red). Tapi, kalau kami harus nyusul ke Palembang juga nggak ada ongkos,” katanya.

Sementara itu, Aslam dan Okta tidak banyak cerita ketika Jawa Pos datang. ”Saya kapok,” ujar Aslam. (*/c5/c10/ari)