Kolaborasi Dagang Antarumat di Musim Pandemi

0
505 views

Oleh : Wari Syadeli, M.Si

Kepala Departemen Litbang FSPP Banten dan Anggota Satgas Covid 19 MUI Banten, Pegiat Pemberdayaan Umat

Pandemi Covid – 19 menjadi momok menakutkan bagi semua negara. Lockdown adalah hal yang coba dihindari oleh negara karena berdampak serius pada ekonomi. Maka tak heran satgas covid secara struktur dibawah koordinasi tim yang bekerja double track yakni pemulihan ekonomi dan penanganan covid, di musim pandemi persaingan bisnis mendadak melemah karena melambatnya laju bisnis disebabkan menurunnya omset yang melanda semua jenis usaha. Yang terjadi saat ini adalah mulai muncul matinya kegiatan usaha besar, menengah dan kecil.

Ancaman krisis pangan pun didepan mata, bagi negara pengimpor kesulitan mensuply cadangan pangannya kecuali menguatkan ketahanan pangan lokal seperti strategi yang diambil oleh Indonesia. Sedangkan negara penghasil pangan menahan produknya untuk konsumsi lokal dan tidak melakukan ekspor seperti vietnam.

Denyut nadi bisnis tetap berjalan meskipun berdenyut lambat, usaha kecil terdampak luar biasa disebabkan penurunan omset terdampak karena adanya kebijakan penanganan Covid – 19 namun usaha mereka tidak boleh mati karena menyangkut kebutuhan pokok, pangan keluarga yang mereka tanggung. Kondisi ini menuntut kesadaran kita bahwa era kompetisi di masa kini akan berakhir, akan datang era baru yakni era kolaborasi ditandai dengan satu kondisi saling ketergantungan (Interpendensi) disebabkan perubahan kondisi lingkungan (environtmental). Perubahannya cukup dinamis dan terus berubah. Sam’un Jaja Raharja mengatakan dalam jurnalnya “Perubahan atau pergeseran dari sifat independen ke interdependen telah melahirkan berbagai pemikiran yang mengarahkan kepada model pengelolaan bisnis berdasarkan kemitraan, tidak lagi berdasarkan kompetisi persaingan. ” Hal ini diperkuat oleh Bleeke dan Ernst bahwa di masa datang akan terjadi peningkatan strategi kolaborasi dibanding strategi kompetisi sebagai upaya untuk menyongsong terjadinya hubungan ekonomi dan bisnis lintas batas.

Tanpa kita sadari Tiongkok telah bekerja mati-matian untuk mewujudkan strategi kolaborasi global. Mereka membuat suply chain raksasa dan mencoba memanage market global melalui literasi sejarah ‘jalur sutra’ dimasa kini dikemas menjadi OBOR ‘one belt one read.’, Kami mencoba lakukan analisis data pada transaksi e-commerce banyak hal yang aneh terjadi, strategi bisnis industri Tiongkok tidak hanya menyasar kelompok bisnis namun menyasar langsung konsumen (B2C). Coba perhatikan di marketplace tidak sedikit pelapak asal Tiongkok yang menjajakan langsung produknya bahkan industri Tiongkok memamerkan dagangannya langsung dengan ongkos kirim yang murah bahkan bisa COD atau tanpa ongkos kirim. Hal ini tidaklah mungkin dilakukan kecuali mereka telah didukung infrasktruktur suply chain yang besar dan kuat serta dikawal negara Tiongkok yang bekerja sama dengan pihak yang memiliki otoritas di sini.

Di masa yang akan datang pergeseran sifat bisnis dari independen ke kolaborasi akan menguat. Bisa kita amati saat ini entitas bisnis Tiongkok menggunakan strategi kolaborasi meski warga Tiongkok dan keturunan mereka bisnis secara otonom di Indonesia. Namun semuanya bekerja bersama menuju tujuan kolektif di mana unit yang lemah menguatkan unit bisnis lain sehingga wajar dominasi praktik bisnis mereka cenderung dominan. Entitas Tiongkok termasuk keturunan mereka berjasa besar pada majunya industri manufaktur di Tiongkok tidaklah mengherankan bila kue besar transaksi baik offline ataupun online dikuasai oleh mereka. Pada transaksi online kue pasarnya hampir sembilan puluh persen menguntungkan industri Tiongkok karena produk yang diperdagangkan sebagian besar berasal dari tiongkok dan tidak berdampak pada industri lokal di Indonesia. Bagaimana dengan kondisi ekonomi umat sebagai entitas besar di negeri ini.

SPIRIT ISLAM

Di musim pandemi upaya-upaya untuk memperkuat ekonomi haruslah kita perjuangkan. Islam sejatinya telah mengajarkan model-model kolaborasi dagang yang baik dan menguntungkan antar umat, spirit Islam mengajarkan untuk saling tolong menolong, saling menguatkan dan saling membantu saudara yang ditimpa kesulitan. Islam mendorong terjadi kerja sama aktif antar umat dalam hal ekonomi karena kerja sama bisnis adalah bentuk tolong menolong (ta’awun), bentuk ketinggian peradaban dan hal yang positif. Seorang muslim yang kuat hendaknya menolong yang lemah itu adalah doktrin Islam yang agung, seorang yang dermawan mendapatkan jaminan dari Allah atas kenikmatan dunia akhirat.

Kolaborasi dagang antar umat akan melahirkan berkah, kolaborasi bisnis pada pokoknya adalah bentuk dari prinsip komplementari. Kompelentari dapat menciptakan pasar bersama bahkan memperluas pangsa pasar. Nalleboff dan Branderburger memberikan ilustrasi beberapa toko dengan lokasi dan komoditi yang sama maka semua toko mudah dijangkau oleh pembeli. Komplementari oleh beliau digambarkan seperti bila toko berada ditempat yang sama maka semua toko mudah dijangkau oleh pembeli dengan mudahnya aksesibilitas maka tingkat interaksi meningkat dan kepercayaan pun tumbuh. Satu toko saling melengkapi toko yang lain sehingga memudahkan orang untuk belanja di tempat tersebut.

Terkait tempat bisa secara offline atau online. Untuk online praktik kanalisasi toko oleh pemilik aplikasi e-commerce memenuhi prinsip yang disampaikan oleh Nalleboff dan Branderburger pada saat yang sama akan terjadi namanya ko-opetisi dan kolaborasi. Namun ada yang lebih menarik bagi umat mengingat mereka memiliki spirit yang sama dan identitas yang sama bila ini dikapitalisasi dalam bentuk semangat memperkuat umat maka segmentasi pasar yang spesifik ini dapat menjadi modal besar tumbuhnya ekonomi umat. Dalam model kolaborasi culture menjadi kekuatan relasi, selain itu visi besar penguatan ekonomi umat juga menjadi perekat transaksi. Idealnya pertumbuhan populasi muslim sejalan dengan pertumbuhan ekonomi umat namun karena lemahnya kolaborasi dagang antar umat hal kuenya diambil oleh orang lain, bagaimana langkah agar kolaborasi dagang antar umat dapat terjadi?

Pada masa kolonial para pejuang kemerdekaan telah mempraktikan kolaborasi dagang antar umat melalui Sarikat Dagang Islam. Kenapa mereka bisa tumbuh berkembangan dan kuat karena mereka memiliki strategi dan visi besar yang sama yakni melawan ketertindasan, dan mereka memiliki perasaan yang sama yakni ketertindasan. Artinya sejarah mencatat kolaborasi dagang antar umat pernah terjadi, upaya-upaya kolaborasi dagang antar umat sebetulnya pernah dicoba secara partial oleh entitas muslim ada yang gagal dan ada yang meninggal masalah, yang gagal cenderung karena mengingkari visi. Keberhasilan praktik kolaborasi dagang antar umat juga tidaklah sedikit hal itu menunjukkan peluang kolaborasi dagang antar umat sangatlah besar untuk dicoba terus-menerus sampai berhasil. Apalagi di musim pandemi seperti ini, karena sebagian besar rakyat yang terdampak Covid 19 secara ekonomi adalah umat Islam. Semoga Allah majukan kembali kejayaan Islam hingga dapat terlahir kembali Abdurrahman bin Auf abad kini, Wallahua’lam bisshowab. (*)