Komentar di Medsos, Mahasiswa Diamankan

Bernada Menghina Polri

SERANG – Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Banten berinisial TY (19) diamankan polisi, Jumat (3/4). TY dinilai telah menuliskan komentar bernada menghina Polri pada video yang diunggah oleh akun Instagram insta_nyinyiir.

Informasi yang diperoleh Radar Banten, komentar TY itu bermula saat akun insta_nyinyiir mengunggah video berisi aksi seorang polisi yang sedang menemui dua warga.

Akun insta_nyinyiir dalam keterangan video mengajak warganet agar mematuhi dan menghargai aparat penegak hukum. Diduga ajakan itu terkait imbauan pemerintah untuk mencegah penyebaran wabah virus corona atau Covid-19.

Kamis (2/4) lalu, TY melalui akun Instagram arch_astaroth memberi tanggapan terhadap video tersebut. Komentar yang ditulis TY dinilai bernada hinaan terhadap insitusi kepolisian. 

“Kalau begitu yaudah polisi juga gak usah lah diluar biar ngebantu ngurangi rantai penularan penyakit. Kan kalau bapaknya sakit siapa nanti yang jadi an*** pemerintah,” tulis TY dalam kolom komentar akun insta_nyinyiir yang dilihat Radar Banten, Jumat (3/4).

TY juga menyebut sosok perwira Polri dalam video yang belum diketahui lokasinya tersebut bersikap otoriter. “Polisi gak usah gawe lah biar terhindar….Btw bisa gak itu tongkat ga usah ditunjuk-tunjuk sok otoriter lu,” tulis TY.

Kebetulan, komentar TY dibaca oleh anggota Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten yang sedang melakukan patroli siber. Polisi bergegas mencari identitas pemilik akun media sosial (medsos) milik TY. Dalam hitungan jam, polisi berhasil menemukan identitas pemilik akun Instagram tersebut.

Usai menerima alamat TY, polisi menjemputnya di kediamannya di daerah Tangerang. TY kemudian dibawa ke Mapolres Serang Kota untuk diperiksa.

“Iya ada kasus tersebut. Dia (TY-red) ada di Polres (Polres Serang Kota-red) sekarang,” kata Kasubag Humas Polres Serang Kota Ajun Komisaris Polisi (AKP) Badri Hasan, Jumat (3/4).

Saat diperiksa, TY mengakui perbuatan yang dialamatkan kepada dirinya. Tetapi, polisi memilih penyelesaian masalah itu di luar peradilan atau restorative justice terhadap kasus TY.  “Sudah menyatakan permohonan maaf. Pernyataan maafnya (TY-red) nanti akan dimuat di medsos,” kata Badri.

Langkah restorative justice itu lantaran TY masih muda dan telah meminta maaf kepada institusi Polri atas perbuatannya.  “Dia (TY-red) juga berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya,” ucap Badri.

Sementara pengacara TY, Deny Mulyawan memuji langkah kepolisian untuk menempuh restorative justice. Padahal,kliennya dapat dijerat pidana melalui UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

 “Kami juga mengucapkan permohnan maaf  yang sedalam-dalamnya kepada institusi Polri yang mungkin tidak berkenan atas komentar klien kami di medsos tadi malam,” kata Deny.

Deny berharap kasus tersebut menjadi pelajaran bagi semua masyarakat agar menjaga etika dalam menggunakan medsos. “Semoga kejadian ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua dan juga semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi oleh siapapun,” tutur Deny. (mg05/nda/ags)