Komoditas Unggulan Lebak Rambutan Tangkue Terancam Punah

0
1.493 views
Staf UPT Pertanian Maja Asep menunjukkan rambutan tangkue di samping kantornya, di Desa Curugbadak, Kecamatan Maja, Senin (9/1).

MAJA – Komoditas rambutan tangkue yang menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Lebak terancam punah. Soalnya, jumlah pohon rambutan tangkue berkurang hingga 50 persen, yaitu dari 40.000 pohon berkurang menjadi 20 ribu pohon pada akhir 2016.

Staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pertanian Kecamatan Maja Asep mengatakan, rambutan tangkue merupakan komoditas unggulan yang tumbuh di Kecamatan Maja, Curugbitung, dan Sajira. Di Kecamatan Maja, jumlah pohon rambutan mulai berkurang akibat masuknya investor properti ke daerah tersebut. Berdasarkan data yang dimiliki UPT Pertanian, jumlah pohon rambutan berkurang hingga 50 persen. “Sekarang, jumlah pohon rambutan di 14 desa hanya sebanyak 20 ribu batang. Jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu yang mencapai 40 ribu batang,” kata Asep ketika ditemui Radar Banten di kantor UPT Pertanian Maja di Desa Curugbadak, Kecamatan Maja, Senin (9/1).

Asep menjelaskan, rambutan tangkue dari Maja cukup berkualitas. Bahkan, rambutan tersebut menjadi komoditas ekspor ke beberapa negara di Asia seperti Arab Saudi dan negara di kawasan Timur Tengah lainnya. Ia meminta kepada masyarakat Maja untuk mempertahankan rambutan tangkue yang ada di kebun dan pekarangan rumah. Jangan sampai ditebang karena rambutan tersebut menjadi buah unggulan Kabupaten Lebak yang digemari masyarakat luar daerah. “Tahun ini, petani rambutan gigit jari. Akibat cuaca ekstrem, rambutan tidak berbuah sehingga para petani merugi,” ujarnya.

Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Lebak Diding Jamaludin mengingatkan Pemkab untuk berkomitmen mempertahankan pengembangan komoditas rambutan tangkue. Soalnya, jika komoditas rambutan tangkue punah, akan merugikan masyarakat dan pemerintah daerah. “Saya harap masyarakat tetap menanam rambutan di pekarangan rumah. Saya enggak ingin komoditas unggulan tersebut sampai punah,” ujarnya.

Tokoh pemuda Desa Binong, Kecamatan Maja, Deni Sopandi membenarkan populasi rambutan tangkue di Maja sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu. Penyebabnya, yaitu masuknya investor ke Maja. “Sekarang pengembang perumahan sedang membangun ribuan unit rumah di beberapa desa di Maja, yang berdampak lahan pertanian berubah menjadi permukiman,” katanya. (Ali/Radar Banten)