KONI Minta Selektif Pilih Atlet

SERANG – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banten bakal
lebih selektif menentukan atlet yang akan berangkat Pra PON 2019. Atlet yang
memiliki kans sempit untuk memeroleh juara tidak akan diturunkan.

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Banten Hengky S Breemer mengatakan, Pra PON 2019 harus diikuti oleh atlet yang sudah terukur. Seluruh pengurus provinsi (pengprov) cabang olahraga (cabor) bisa menentukan pilihannya.

“Saat ini hanya atlet yang paling layak dan paling berpeluang saja yang harus diturunkan. Pra PON ini syarat menuju PON, kalau multievent ini ajang prestasi dan prestise. Gaungnya lebih besar, jadi harus berpikir lebih logis untuk memboyong atlet,” kata Hengky, Rabu (6/2).

Hengky mencontohkan, dari 20 kelas pertandingan cabor, bisa saja hanya sepuluh orang atlet yang diturunkan. Kebijakan itu disesuaikan dengan nilai anggaran yang mengalami penurunan.

“Kita tidak mau mendengar bahwa semakin banyak yang diturunkan
maka peluang semakin besar. Acuannya harus jelas, hanya atlet juara kejurnas
dan PON 2016 lalu yang bisa diberangkatkan. Kalau berbicara untuk menambah jam
terbang atlet, itu nanti di kejurda dan sejenisnya,” beber Hengky.

Kata Hengky, informasi sementara, KONI Banten akan menerima dana hibah pada 2019 sebesar Rp45 miliar. Nilai itu memiliki selisih Rp20 miliar dari kebutuhan KONI Banten yang diajukan ke Pemprov Banten. Yakni, sebesar Rp75 miliar.

“Oleh karena itu, kita harus selektif dan mengetatkan ikat pinggang (berhemat-red). Anggaran KONI terbatas, padahal ini tahun yang krusial karena sedang menyambut Pra PON. Kita jangan pernah bermimpi bisa berprestasi di PON kalau di Pra PON tidak lolos,” kata Hengky.

Sekretaris Umum (Sekum) KONI Banten Sutaryono mengatakan, anggaran Rp45 miliar itu selain dialokasikan untuk Pra PON 2019, juga untuk persiapan kejuaraan daerah (kejurda) dan kejuaraan nasional (kejurnas) serta honor pengurus dan atlet pelatda jangka panjang (PJP).

“Ini juga untuk kejurda dan kejurnas. Maka itu, kita tidak bisa menurunkan atlet sebanyak-banyaknya pada Pra PON. Pengprov harus bisa memilih jumlah atlet secara ideal, yang punya kans untuk tembus tiga besar,” kata Sutaryono.

Ketua II Pengprov Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Banten Joe Manalu mengaku prihatin dengan imbauan KONI Bantan perihal tersebut. Apalagi, Forki Banten telah jauh hari menentukan timnya untuk Pra PON 2019. “Sejak dua tahun lalu sudah disiapkan atlet untuk Pra PON 2019. Seleksi juga sudah. Ada 16 atlet untuk 14 kelas pertandingan. Kalau harus dikerucutkan lagi akan menjadi perhatian karena di FORKI terdiri dari berbagai perguruan,” jelas Joe. (Riko B/RBG)