Koperasi MadeinITB Superconnection: Langkah Nyata untuk Kemajuan Koperasi Konsumen Indonesia

0
3325

Sejarah koperasi muncul sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat, dan linier dengan hal tersebut, dari sejak mula pertama koperasi berdiri sebagai gerakan modern telah mengambil pola yang utuh dari proses pemenuhan kebutuhan riil masyarakat lokal yang berarti menuntun kita pada konsep kemandirian ekonomi (self reliance).

Sejarah koperasi konsumen di Indonesia sendiri, betapapun di negara lain telah menunjukkan sebuah succes story,sampai hari ini kita belum melihat ada sebuah konsep yang mapan yang dikembangkan sebagai keunggulan basis komparatif dengan model pengembangan bisnis ritel swasta kapitalistik.

Proses lesson learned ini penting untuk dijadikan pondasi bagi strategi baru pengembangan koperasi konsumen di Indonesia, seperti yang diinisiasi oleh komunitas MadeinITB Superconnection yang merupakan komunitas alumni ITB dan tokoh nasional beserta jaringannya dari berbagai kalangan di dalam negeri maupun luar negeri. MadeinITB Superconnection akan memprakarsai kegiatan industri, teknologi dan bisnis dengan membuat produk-produk dan jasa hasil karya anak negeri sendiri (made in Indonesia) dan mengembangkan jiwa kewirausahaan generasi muda Indonesia untuk mewujudkan Indonesia Emas Industri Berdikari dan Rakyat Sejahtera 2030.

Pendirian koperasi konsumen  untuk membantu perekonomian dan memberikan dukungan kepada petani, peternak dan nelayan lokal sehingga komoditas lokal dapat terbantu pemasaran dan penggunaannya, serta secara lebih luas bertujuan agar bisa mengintegrasikan pengembangan UKM dan koperasi ke dalam global supply chain. Saat ini permasalahan yang terjadi di masyarakat adalah, adanya gangguan demand dan supply, dengan sistem koperasi diharap bisa menjawab pemetaan masalah dari keduanya.

Founder dan Chairman Komunitas MadeinITB SuperConnection  I Made Dana M Tangkas menyampaikan,  koperasi telah ditetapkan menjadi soko guru pembangunan ekonomi dan juga menjadi model bisnis yang sangat relevan dalam menghadapi situasi ekonomi dan pandemik Covid-19 belakangan ini. “Besar harapan kami dengan partisipasi aktif dan profesional dari anggota yang ahli dalam bidang industri, teknologi dan bisnis ini akan dapat menjadi role model dan contoh tata kelola yang modern dan maju dalam kegiatan per-koperasian di negeri Indonesia yang kita kita cintai,” kata I Made Dana M Tangkas dalam keterangan resminya.

Dia memaparkan, saat ini pendirian Koperasi Konsumen MadeInITB Superconnection Indonesia dilaksanakan dahulu untuk wilayah Jabodetabek sebagai pilot project pertama. Diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 alumni ITB yang tinggal di kawasan Jabodetabek. Dengan jumlah yang cukup banyak ini merupakan potensi untuk bisa menjadi mitra strategis bagi para produsen pangan halal, organik dan berkualitas. Melihat peluang ini, sejumlah alumni ITB melakukan rapat dan sepakat mendukung gagasan untuk meluncurkan sebuah inisiatif bersama dengan jiwa koperasi.

Koperasi Konsumen MadeInITB Superconnection Indonesia didirikan saat masyarakat merayakan Hari Koperasi pada tanggal 12 Juli 2021, dirancang untuk bisa memasok kebutuhan pangan halal, organik dan berkualitas bagi alumni ITB di Jabodetabek. Pendirian tersebut didukung oleh Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, yang secara garis besar menyampaikan bahwa tujuan dari pembentukan koperasi ini sejalan dengan Rencana Program/ Kegiatan Transformasi KUMKM 2021-2022. Sesuai dengan Amanat RPJMN bahwa arah kebijakan dalam rangka peningkatan nilai tambah ekonomi pada tahun 2020-2024 mencakup penguatan kewirausahaan, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi.

Adapun secara susunan pengurus organisasi, Koperasi Konsumen MadeInITB Superconnection Indonesia terdiri atas,  H Eko Budhi Suprasetiawan S.T M.Si (Ketua), Iman Abdullah S.Si M.T (Sekretaris), Muhammad Chaerul Imam M.T (Bendahara), Ir Muhammad  Ghazali MM MA IPM (Pengawas), Ir. I Made Dana Tangkas, M.Si, IPU. ASEAN.Eng (Penasehat)

Sekjen Koperasi yang ditunjuk anggota yaitu Iman Abdullah menegaskan, koperasi akan berfokus kepada pemenuhan kebutuhan pangan bagi alumni ITB, keluarga dan masyarakatnya sehingga manfaat keberadaan koperasi ini tidak hanya terbatas untuk alumni ITB semata. “Kami ingin koperasi ini bukan saja menjadi kegiatan bersama alumni ITB di bidang ekonomi bisnis, khususnya pangan, tetapi juga menjadi cara semua alumni ITB dari berbagai kubu politik yang ada untuk bersama memberi dampak kepada masyarakat secara terukur,” kata Iman.

Karena itu, Eko Budhi Suprasetiawan mengajak semua alumni ITB yang mempunyai investasi di bidang pertanian, peternakan dan perikanan untuk bisa menjadi mitra dan memasok kebutuhan alumni ITB di Jabodetabek. “Kawan-kawan alumni yang membina petani, peternak dan nelayan akan mempunyai akses kepada pasar dan secara signifikan mengubah cara kita dalam pemberdayaan perdesaan,” kata Eko.

Penulis buku  Desanomics ini percaya bahwa koperasi konsumen bisa menjadi aksi strategis alumni-alumni ITB dalam memastikan ketercukupan pangan dan sekaligus memberdayakan desa.

Good corporate governance khususnya akuntabilitas dan keterbukaan akan menjadi key success factor yang disiapkan oleh Muhammad Chaerul Imam selaku bendahara,  Imam berharap alumni ITB, baik Sarjana dan pascasarjana untuk bahu-membahu dan bersama meningkatkan kesejahteraan petani di hulu dan mengharumkan nama almamater sambil menikmati produk-produk premium di hilir.

“Alumni ITB bisa meniru Koperasi Fonterra di New Zealand, yang akhirnya dapat menopang hidup petani dan menjadi tulang punggung ekonomi negara. Konsepnya adalah memberi ruang kepada petani di hulu untuk menghasilkan produk terbaiknya serta memberikan jaminan mutu kepada konsumen di hilir bahwa produk yang mereka konsumsi adalah produk terbaik dengan harga yang sangat pantas.  Ditopang manajemen bisnis secara profesional, yang sesuai dengan nilai-nilai berbangsa dan bernegara serta dalam tuntunan agama akan memberikan perbaikan berkesinambungan dalam kinerja koperasi dan akhirnya memberikan dampak sosial. Semoga bisa membawa kebersamaan, kebahagiaan dan dampak sosial,”ungkapnya.

Anggota-anggota yang mendukung pendirian koperasi ITB tersebar dari angkatan 1970-an sehingga 2010-an dari berbagai jurusan seperti Teknik Sipil, Fisika, Planologi, Rekayasa Hayati, dan lainnya. Dalam diskusi yang terjadi, alumni-alumni ITB di 10 kabupaten/kota di Jabodetabek akan membangun Distribution Centre,  di antaranya di Kota Bogor, Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan. Distribution Centre ini hanya akan berfokus kepada distribusi pangan yang halal, organik dan berkualitas. (*/aas)