Ilustrasi foto: Meetdoctor.com/JPNN

Citra kopi hitam sebagai minuman yang identik dinikmati kalangan kolot alias tua, kini perlahan bergeser.

Anak muda generasi milenial pun mulai tertarik menyeruput kopi hitam tanpa balutan gula. Sebut saja arabika, robusta, sapan toraja, dan lainnya. Untuk dapat mencicipinya, tak melulu mesti datang ke kedai kopi yang biasa buka petang hingga dini hari. Sebab kini gerai kopi elite pun menghadirkan menu khusus kopi hitam, tentu dengan versinya tersendiri.

Kini, kopi hitam tak lagi identik dengan jadulnya. Bahkan sudah menjadi bagian keseharian, termasuk untuk diunggah dan dipamerkan ke media sosial, terkadang dengan diiringi caption atau keterangan foto menarik yang menunjukkan jati diri si penikmat kopi.

Sebagai gudangnya tanaman kopi, Indonesia punya stok kopi berlimpah dan mendunia, di antaranya Kopi Gayo, Toraja, Kintamani, Flores, Lanang, Sidikalang, juga Luwak yang cita rasanya tak bisa diragukan.

Kemarin (4/1), terik matahari menyinari Kota Serang sepanjang hari. Cuaca yang cocok untuk sekadar bersantai sembari menyeruput kopi ini dimanfaatkan Radar Banten mampir ke sebuah kafe yang berada di daerah Cipocokjaya, Kota Serang. Setelah membuat janji terlebih dahulu, seorang barista berkacamata hitam dengan rambut klimi datang menghampiri. “Saya udah dari zaman sekolah dulu memang sukanya minum kopi, tapi masih pakai gula. Semenjak jadi barista, saya mulai minum kopi hitam tanpa gula,” cerita Reza Nur Fauzi, salah seorang barista di tempat tersebut.

Guna mendapatkan sensasi ngopi yang nikmat, kami memilih mengobrol di spot yang letaknya dekat dengan kolam air. Di meja persegi dengan payung itu, Reza tak lupa membawa secangkir kopi hitam.

Sebagai seorang barista, ia dituntut untuk mengetahui macam-macam rasa kopi. “Seorang barista itu yang diandelin adalah hidung sama lidah, pokoknya harus tahu bedanya kopi,” kata pria asal Surabaya itu. Ia pun diwajibkan detail terhadap kopi. “Kan kita langsung ke customer, karena kalau mereka enggak puas, mereka komplain ke kita,” tuturnya.

Lalu, sebagai pencinta sekaligus berkarir di dunia kopi, berapa gelas ia yang habiskan dalam sehari? “Kopi item (hitam) biasanya dua cup (gelas) sehari. Kadang minumnya malam, kalau lagi shift sore, kan biar lebih fresh juga. Kayak udah dibilang kecanduan sih ke kopi hitam, seumpama kalau enggak minum ya kayak ada yang kurang gitu,” kata Reza.

Walaupun ada anggapan bahwa jenis kopi yang dipilih seseorang menandakan kepribadian diri, Reza tak sepakat dengan ungkapan tersebut. Menurutnya, ngopi adalah selera, setiap orang bebas menentukan kopi apa yang ingin dinikmati. “Oh enggak. Kalau menurut saya enggak ada. Di dunia kopi, enggak ada hubungannya, selera aja. Pasti setiap orang minum yang berbeda-beda,” kata kelahiran 7 November 1995 itu.

“Pasti arabikalah, dia lebih fruity aja sih. Biasanya yang suka pahit akan pilih robusta, kalau senang asem pilih arabika,” ungkap Reza saat ditanya jenis kopi favoritnya.

Kemudian timbul pertanyaan, apa bedanya kopi hitam sachet Rp1.000 dengan segelas kopi hitam yang mencapai Rp50 ribu? “Dari segi rasanya berbeda, prosesnya juga. Apalagi kalau belinya di restoran yang udah punya nama. Brand ternama juga bikin harga naik. Tentu kualitas kopinya juga berbeda,” ungkapnya.

Kata Reza, kopi best seller saat ini adalah Arabika Sapan Toraja. Kopi ini, sangat disukai dan cocok di lidah orang Indonesia. “Harganya bisa sampai Rp80 ribu per 200 gram. Itu kira-kira bisa dua puluhan cup lah, itu baru kopinya doang ya,” katanya sambil sesekali menyeruput segelas kopi hitam di hadapannya.

Untuk mendapatkan hasil maksimal dan mengetahui karakter kopi, hendaknya disajikan dengan air antara suhu 90 sampai 95 derajat celcius. Reza percaya, rasa kopi dapat dipengaruhi dari penyajian dan keadaan hati sang peracik. “Rasa sih tergantung orangnya juga. Cuma biasanya gini, Mas. Seumpama ada dua orang bikin jenis kopi yang sama dan ukuran sama, meski prosesnya sama pasti rasanya akan berbeda. Biasanya karena bikin kopi itu pakai feel. Kalau yang bikin feel atau mood-nya lagi enggak bagus, kopinya ikutan enggak enak juga,” tutur Reza.

Lantas, di antara kenikmatan menghirup aroma dan menenggak segelas kopi hitam, apakah tetap aman dan bebas efek samping? “Saya ‘kan udah empat tahunan rutin minum kopi, jadi punya asam lambung. Karena sering minum kopi yang rasanya kuat banget, itu asam lambung bisa naik, bahkan sampai sekarang. Biasanya saya minum fresh milk buat netralin perut. Pokoknya bahaya juga kalau kebanyakan,” jelasnya.

Selain itu, efek kopi hitam dapat menyebabkan candu. Hal tersebut diutarakan Futeh Sirazudin, seorang maniak kopi hitam dari kalangan mahasiswa saat Radar Banten menemuinya. Saking seringnya ia meminum kopi hitam tanpa gula, ia bahkan dijuluki sebagai peminum kopi dukun oleh teman satu tongkrongannya.

“Paling dua gelas sehari, malam dan siang. Maksimal paling tiga kalilah. Kalau enggak ngopi item (hitam), kadang terasa pusing,” cerita mahasiswa asal Rangkasbitung ini.

Menurut Futeh, kopi hitam punya cita rasa mantap. Untuk satu gelas, ia biasa menghabiskannya dalam tempo 30 menit. “Walaupun minum di tempat kopi modern, saya biasa pesan americano, tetap enggak pakai gula. Satu gelas itu biasa diseruput dua kali lah kira-kira,” ungkapnya.

Futeh menjelaskan, kopi berperan penting dalam interaksi sosial. Sebab kehadirannya membuat suasana cair. Selain itu, sebagai mahasiswa dengan segudang tugas, kopi baginya menjadi teman tatkala merampungkan kewajibannya sebagai seorang pembelajar.

“Kopi hitam itu lebih mencirikhaskan adanya interaksi sosial. Bagi saya juga sebagai cara agar inspirasi mengalir. Mengerjakan tugas kuliah juga cocok sih, biar enggak ngantuk juga,” ungkapnya seraya tersenyum. (mg05/air/ags)