Korban Bencana Banjir dan Longsor Semalaman Terisolasi dalam Kondisi Gelap

Gubernur Banten Wahidin Halim memantau kondisi pengungsi di gedung PGRI Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Kamis (2/1). Wahidin meminta agar pengungsi mendapat prioritas penanganan.

LEBAK – Banjir bandang dan longsor yang menerjang enam kecamatan di Kabupaten Lebak, Rabu (1/1), menyisakan cerita sedih. Ratusan warga di Kampung Bolang dan Susukan, Desa Bungurmekar, Kecamatan Sajira, yang terkepung banjir terisolasi.

Ratusan warga yang terisolasi itu hanya pasrah di dataran tinggi. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena banjir sudah mengepung permukiman mereka. Beruntung tim relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak dan Taruna Siaga (Tagana) akhirnya mengevakuasi ratusan warga itu. “Alhamdulilah setelah semalaman gelap gulita tidur di lapangan, bantuan datang juga untuk mengevakuasi kami,” ujar Jaelani, warga Kampung Susukan, seusai dievakuasi di gedung PGRI Sajira, Kamis (2/1).

Kata dia, di kampungnya terdapat 50 kepala keluarga (KK) yang rumahnya terendam akibat meluapnya Sungai Ciberang. Banjir itu menyebabkan jembatan gantung di Kampung Bolang terputus sehingga tidak bisa digunakan.”Warga terisolasi semenjak kemarin karena putusnya jembatan gantung. Bukan hanya satu tapi dua jembatan penghubung utama Kampung Susukan dan Kampung Bolang terputus. Kami tak bisa berbuat apa-apa karena arus Sungai Ciberang masih deras,” katanya.

Akibat meluapnya Sungai Ciberang, kata dia, selain membuat jembatan gantung di kampungnya terputus juga merendam rumah warga. “Saat kejadian (Rabu, 1/1) kami mengungsi ke  lapangan yang datarannya tinggi. Kami tetap bertahan malam itu dengan keadaan gelap gulita,” ceritanya.

Sementara itu, Alang, relawan Tagana Lebak yang ikut membantu mengevakuasi mengatakan, akibat terputusnya jembatan gantung  menyebabkan kedua kampung terisolasi. “Pada hari pertama banjir meluap kami tak bisa berbuat banyak. Kita terus berpikir bagaimana bantuan makanan bisa sampai dengan cara apa pun. Karena air Sungai Ciberang cukup deras, bila harus dilalui melalui perahu karet. Baru hari kedua pasca-banjir kita bisa evakuasi,” kata Alang.

Beruntung tim relawan memiliki inisiatif memperbaiki seling jembatan gantung yang diperuntukkan mengangkut bantuan logistik menyeberangi aliran Sungai Ciberang untuk sampai di lokasi warga yang terisolasi itu. “Ya, proses evakuasi dilakukan ketika air sungai sudah surut. Satu per satu warga dinaikkan ke perahu karet untuk menyeberang meninggalkan Kampung Susukan karena kondisinya sudah tidak memungkinkan dan dikhawatirkan terjadi banjir susulan,” katanya.

Salah satu dampak banjir bandang menyebabkan 205 gardu listrik padam dari 597 gardu  PLN Unit Induk Distribusi (UID) Banten. General Manager PLN UID Banten Doddy Pangribuan mengatakan,  pemadaman listrik dilakukan sejak 1 Januari 2020 pukul 10.00 WIB.  “Pokoknya apabila aman kami segera nyalakan,” katanya.

Ia menambahkan, daerah yang masih padam yakni Lebak sebanyak 105 gardu. Ada dua hal yang bisa menyebabkan pemadaman listrik saat banjir yakni rumah pelanggan terendam dan gardu distribusi terendam. Ia mengimbau, saat pemadaman listrik untuk mematikan instalasi di dalam rumah, cabut peralatan yang masih tersambung dengan kontak listrik, naikkan alat elektronik ke tempat yang lebih tinggi. Selain itu, bila aliran listrik yang terendam banjir tidak segera lapor ke PLN. (nce-skn/alt/ags)