Warga mengambil bata dari rumah yang digusur.

CILEGON – Warga Lingkungan Keramat Raya, Kelurahan Gerem, yang digusur rumahnya oleh Pemkot Cilegon hingga saat ini masih bertahan dengan mendirikan tenda. Untuk menyambung biaya hidup, mereka meminta sumbangan kepada pengguna jalan, seperti yang terlihat pada Selasa (23/8).

Menggunakan kardus para remaja tersebut berdiri di tengah jalan, tidak jauh dari rel kereta Statomer, Kecamatan Grogol. Mereka menyodorkan kardusnya kepada kendaraan yang melintas.

Eni, warga korban gusuran yang masih bertahan, meminta sumbangan kepada pengguna jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya anaknya sekolah. “Iya itu yang minta di pinggir jalan anak-anak kita di sini. Mau bagaimana lagi kalau tidak seperti itu, bisa-bisa anak tidak ada ongkos untuk kesekolahnya,” katanya.

Dijelaskan Eni, ongkos dan keperluan sekolah anaknya di sebuah SMK Rp20.000 per hari. “Kalau tidak seperti itu mau bagaimana lagi. Yang penting dia bisa sekolah, cukup emaknya saja yang tidak berpendidikan,” ujarnya.
Terpisah, Lurah Gerem Samlawi tidak mengakui lagi warga gusuran sebagai warganya. Samlawi lepas tangan akan nasib dan situasi yang dialami puluhan warga. “Mereka sudah bukan warga Gerem lagi, kan sudah digusur. Kalau mendirikan tenda di situ dan meminta sumbangan kepada pengguna jalan itu bukan tugas kami untuk menertibkan. Semua sudah diserahkan ke Satpol PP dan Dishub,” ujarnya. (Riko)