Korban Meninggal Ledakan Pabrik Mercon Jadi 51 Orang

Setelah Atin, Fatimah Berpulang

0
80
Warga membawa jenazah Siti Fatimah ke lokasi pemakaman di Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Selasa (31/10) pagi.

TANGERANG – Korban tewas meledaknya pabrik mercon PT Panca Buana Cahaya Sukses, di Kosambi terus berjatuhan. Siti Fatimah (15) meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan selama lima hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tangerang, Selasa (31/10) sekira pukul 02.35 WIB.

Siti Fatimah merupakan pekerja di bawah umur yang jadi korban kebakaran pabrik mercon pada Kamis (26/10) silam. Kematian putri pasangan Didi dan Sinah menyisakan getir bagi keluarganya, karena menjadi tulang punggung mereka.

”Iya benar, korban atas nama Siti Fatimah meninggal dunia di ICU (Intensive Care Unit) pukul 02.35 WIB,” kata Humas RSUD Kabupaten Tangerang, Ade Yudi Firmansyah, Selasa (31/10).

Fatimah mengalami luka bakar di atas 50 persen saat dirawat. Dengan luka bakar yang hampir dialami di sebagian besar bagian tubuhnya, membuat luka yang dialami Siti dikategorikan sebagai luka yang serius. ”Jenazah sudah dibawa ke rumah duka oleh pihak keluarga pukul 07.20 WIB tadi,” tuturnya.

Jenazah langsung disambut tangisan oleh ibu korban dan kerabatnya di Gang SMPT, Selembaran Jaya, Kosambi. Sekira pukul 08.30 WIB, jenazahnya langsung dimakamkan yang hanya berjarak 50 meter di dekat rumah korban.

Ibu korban Sinah mengatakan bahwa anaknya bekerja adalah menggantikan posisi ayahnya yang sudah tidak bekerja lagi karena sakit pada bagian kaki. Anaknya itu juga memilih untuk tidak melanjutkan sekolah setingkat SMP karena terkendala biaya.

”Dia pengin kerja karena buat bantu keluarga, soalnya bapaknya sudah enggak kerja lagi, sering sakit-sakitan di kaki. Dia ngomong nanti gaji hariannya buat bantu keperluan sehari-hari. Dia juga sudah putus sekolah. Waktu sekolah lalu MTs yang ada di Kampung Melayu, desa sebelah,” katanya.

Karena niat baik anaknya itu, Sinah mengikhlaskan anaknya bekerja. Hal itu karena kebutuhan keluarga dan lokasi pabrik yang tidak jauh dari rumahnya. Meski telah diterima di gudang kembang api tersebut, sang anak merasa tak cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, minggu ini adalah waktu-waktu terakhir anaknya bekerja di perusahaan tersebut.

”Sebenarnya Siti mau berhenti Senin depan ini. Dia baru kerja dua minggu. Sebenarnya dia ingin keluar karena gajinya enggak cukup. Dia dari anak harian ke anak borongan. Dari harga Rp 55 ribu (turun) sampai Rp 30 ribu per hari kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore kerjanya,” terangnya.

Sebelumnya, pasien korban kebakaran yang meninggal dunia usai dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang adalah Nurhayati (20) yang meninggal pada hari Sabtu (28/10) dan Atin Puspita (20) pada Minggu (29/10) malam. Jika ditambah dengan jumlah korban meninggal di lokasi yang berjumlah 48 orang, maka korban tewas dari kebakaran pabrik mercon ini sudah 51 orang.

Sementara itu, RSUD Kabupaten Tangerang masih merawat sembilan orang korban ledakan yakni, Sami (35) M Khadiman (25), Anggi (18), Juleha (23) Widia (20), Wiwi (39), Umam (16), Uwang (35). Tiga orang diantaranya terpaksa menjalani operasi karena mengalami luka bakar di atas 50 persen, ketiga pasien tersebut yakni Sami, Anggi, dan Juleha.

Wakil Direktur Penunjang Medik RSU Kabupaten Tangerang, dr Shirley LM mengatakan, jumlah pasien korban luka bakar awalnya berjumlah 12 orang, namun tiga orang korban meninggal dunia yakni, Nurhayati (20), Atin (20), dan Siti Fatimah (15).

”Sisanya tinggal 9 orang yang dirawat di RSU Tangerang, lima orang korban dirawat di ruang Dahlia, tiga orang dirawat di ICU” terang dr Shirley LM kepada wartawan.

Kondisi korban kata dr Shirley LM sudah berangsur membaik, karena dokter terus memantau perkembangan kondisi pasien. Untuk luka bakar di atas 50 persen diharuskan si korban berada di ruangan yang steril. ”Luka bakar di atas 50 persen harus butuh penanganan serius dari dokter, karena biasanya akibat luka bakar, akan merusak jaringan tubuh” tandasnya. (Togar H/RBG)