Korupsi Bapelkes KS Rp29,9 M, Direktur PT BM Divonis Sembilan Tahun

0
67

SERANG- Direktur PT Bahari Megamas (BM) Andi Gouw dinilai telah merugikan keuangan negara sebesar Rp29,953 miliar. Kerugian tersebut akibat perkara korupsi dana program kesehatan pensiunan (prokespen) PT Krakatau Steel (KS) tahun 2013-2014. Kamis (30/1), Andi Gouw terbukti bersalah dan divonis 9 tahun penjara di Pengadilan Tipikor Serang.

Vonis itu dijatuhkan usai majelis hakim yang diketuai Emy Tjahjani Widiastoeti menilai Andi Gouw telah memenuhi unsur dakwaan primer. Yakni. Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Selain pidana penjara, Andi juga dijatuhi pidana denda Rp250 juta subsider dua bulan kurungan dan uang pengganti Rp29,953 miliar subsider dua tahun penjara.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama 9 tahun dikurangkan selama terdakwa berada di dalam tahanan,” kata Emy Tjahjani Widiastoeti membacakan putusan.

Hukuman itu lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Banten. Andi sebelumnya dituntut pidana 13 tahun penjara, denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp25 miliar subsider 6 tahun dan enam bulan penjara.

Andi menurut majelis hakim telah bersikap sopan selama persidangan dan telah berusia lanjut sebagai pertimbangan meringankan. Sedangkan hal memberatkan, perbuatan Andi mengakibatkan kerugian negara dan dan tidak mendukung program pemerintah memberantas korupsi.

Diuraikan majelis hakim, pada 2012 Andi Gouw bertemu dengan Manajer Investasi Yayasan Badan Pengelola Kesehatan (Bapelkes) KS Triono. Pertemuan itu difasilitasi oleh Dirut PT Novagro Indonesia (NI) dan PT Lintasan Global Nusantara (LGN) Ryan Anthoni Ryan Antoni.

Andi menawarkan kerja sama operasi (KSO) perdagangan dan penjualan batubara. Andi menyerahkan dokumen perusahaan PT BM untuk dipelajari. Ketua Yayasan Bapelkes KS Herman Husodo menerima KSO tersebut.

Usai penandatanganan KSO, Bapelkes KS mengucurkan dana prokespen secara bertahap dengan total Rp60,9 miliar. KSO itu dinilai majelis hakim tidak sesuai arahan investasi dari pembina Bapelkes KS. “Tanpa kajian mendalam Herman Husodo menandatangi (perjanjian KSO-red),” kata Emy.

Selain itu, PT BM tidak menyertakan jaminan aset kepada Bapelkes KS sebagai syarat wajib dalam perjanjian KSO. “Terdakwa dari awal sudah mempunyai niat memanipulasi fakta sehingga ada penyimpangan. Seharusnya perjanjian tersebut tidak ditandatangani akan tetapi tetap ditandatangani,” kata Emy.

Dana KSO itu ditransfer ke dua rekening milik PT BM. Sebagian dana KSO itu dipercayakan Andi Gouw kepada Ryan Anthoni untuk dikelola. “Padahal, Ryan Antoni sama sekali tidak terlibat dalam KSO tersebut, “ ucap Emy.

Oleh Ryan Anthoni uang tersebut digunakan untuk membeli kapal, bisnis batubara dan keperluan lain.

“Terdakwa telah mengembalikan (Rp23 miliar-red) kepada Yayasan Bapelkes KS,” kata Emy.

Usai pembacaan vonis, Andi yang didampingi kuasa hukumnya menyatakan pikir-pikir. Sikap yang sama diambil JPU Kejati Banten. (Fahmi Sa’i)