Kramatwatu Jadi Tempat Transit Pembuangan Sampah

0
1.613 views
MENUMPUK: Salah satu tumpukan sampah di Jalan Kramatwatu-Waringinkurung, Kamis (29/6). Sampah-sampah mudah ditemui di sepanjang jalan ini. FOTO: NIZAR/RADAR BANTEN

KRAMATWATU – Kecamatan Kramatwatu, terutama di wilayah perbatasan kecamatan, menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga. Perilaku masyarakat itu membuat wilayah kecamatan perkotaan itu kumuh dan bau.

Kamis (29/6) sekira pukul 13.00 WIB, Radar Banten menjumpai onggokan sampah di sepanjang Jalan Waringinkurung-Kramatwatu, di Desa Lebakwana. Pemandangan serupa juga dijumpai di ruas Jalan Raya Serang-Cilegon, Desa Kramatwatu, dan ruas Jalan Pegadingan, tepat di belakang kantor Kecamatan Kramatwatu. Tumpukan sampah mengganggu pengguna jalan karena berceceran hingga badan jalan dan menimbulkan bau tak sedap.

Kondisi itu membuat seorang warga Desa Kramatwatu yang mengaku bernama Duki menyebut wilayah kecamatannya sebagai tempat transit pembuangan sampah. Ia menuding, pembuang sampah rumah tangga secara sembarangan itu adalah warga dari luar Kecamatan Kramatwatu.

“Tapi mau bagaimana, ngasih tahunya susah. Orang, kadang sambil lewat pakai motor buangnya. Seringnya malem buangnya. Mungkin biar enggak ketahuan,” ujarnya.

Kades Kramatwatu Tubagus Edi Suhadi mengatakan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga di desanya dilakukan oleh dua instansi. Yakni, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang dan pihak swasta. Kendati demikian, pengelolaan sampah di Desa Kramatwatu belum tertangani dengan baik.

“Sebetulnya, pengelolaan sampah sudah berjalan. Masalahnya, di kita banyak sampah transit. Bukan orang Kramat (menyebut Kramatwatu-red) yang buang, tapi orang yang melintas,” keluh Edi melalui sambungan telepon seluler.

Permasalahan sampah sering menjadi pembahasan warga dan aparat Desa Kramatwatu. Namun, masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan akibat tidak sadar kebersihan.

“Sudah pernah beberapa kali kepergok di pinggir-pinggir jalan (orang-red) yang buang sampah itu. Ternyata bukan orang Kramat, tapi orang luar yang melintas sambil bawa kendaraan,” tukas Edi.

Edi menyarankan kepada DLH dan pihak swasta yang mengelola sampah agar menempatkan petugas kebersihan di lokasi yang dijadikan tempat pembuangan sampah sembarangan. Atau, dengan memasang papan larangan membuang sampah.

“Seperti di Kampung Baru depan SD, itu (pembuang sampah-red) bukan orang Kramat, tapi sampah transit. Setelah diangkut truk sampah, bak ditinggal. Jadi, yang lewat seenaknya buang sembarangan. Susah mau nertibin (menertibkan-red) orang luar,” keluh Edi.

Edi juga mengakui, pihaknya belum menyediakan tempat pembuangan sementara (TPS). Bukan hanya karena faktor keterbatasan anggaran pemerintah desa, tetapi juga karena warga Desa Kramatwatu tidak ingin desanya menjadi bau akibat keberadaan TPS.

“Sampah di kita itu harus terus dipantau. Ini (pembuangan sampah sembarangan-red) akibat kurang kesadaran masyarakatnya, bukan masyarakat kita,” ujarnya.

Edi sepakat jika pengelolaan sampah dilimpahkan dari DLH kepada pemerintah kecamatan sehingga bisa lebih baik. “Jangan sekadar menukar fungsi saja. Kecamatan nanti harus lebih intens mengontrol ke lapangan,” harapnya.

Kecamatan Kramatwatu merupakan satu dari tujuh kecamatan penghasil sampah rumah tangga terbanyak di Kabupaten Serang. Volume sampah rumah tangga yang dihasilkan di Kecamatan Kramatwatu, Kibin, Kragilan, Ciruas, Cikande, Cinangka, dan Anyar minimal 162 meter kubik per hari.

Berdasarkan analisis DLH, ketujuh kecamatan ini termasuk wilayah perkotaan. Dari segi karakteristik wilayah, terdapat aktivitas perdagangan di pasar, industri, pariwisata, dan jasa.

Lantaran itu, Bupati Ratu Tatu Chasanah akan melimpahkan kewenangan pengelolaan sampah kepada pemerintah kecamatan di tujuh wilayah itu. Pelimpahan kewenangan pengelolaan sampah ini akan dilaksanakan pada 2018. Nantinya, pemerintah kecamatan sekadar mengumpulkan atau mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong di Kecamatan Taktakan, Kota Serang. (Nizar S/RBG)