Kredit Rumah Subsidi Disederhanakan

SERANG – Mekanisme kepemilikan rumah subsidi dari program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) disederhanakan. Langkah ini dilakukan agar masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi target program dapat menikmatinya dengan mudah.

Ketua DPD REI Banten Roni Hadiriyanto Adali mengatakan, menyambut baik penyederhanaan mekanisme program BP2BT sehingga mempercepat proses kepemilikan rumah. Ada beberapa hal yang disederhanakan, antara lain pemohon menyediakan uang muka paling sedikit satu persen yang sebelumnya 5 persen, tabungan pada sistem perbankan paling singkat tiga bulan dengan batasan saldo terendah tabungan pemohon. “Sebelumnya tabungan pada sistem perbankan harus enam bulan,” kata Roni, kemarin.

Penyederhanaan lain, lanjut Roni, bank pelaksana melakukan penandatanganan perjanjian kredit atau pembiayaan dengan penerima manfaat paling lama 30 hari kerja. “Dari waktu tersebut dapat ditambah waktunya 20 hari,” katanya.

Ia mengungkapkan, persyaratan lain yang sebelumnya menghambat yakni Sertifikat Layak Fungsi dari pemda sebagai syarat akad, sekarang itu tidak perlu. Yang penting sekarang ada surat pernyataan kelaikan fungsi bangunan rumah dari pengawas bersertifikat (SKA). Ini sama dengan yang diberlakukan di Fasilitas Likuiditas Pembiayaan (FLPP) dan Selisih Suku Bunga (SSB) yang dasarnya IMB. “Ini terus dilakukan sosialisasikan agar segera direalisasikan,” katanya.

Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi, Promosi, dan Pameran DPP REI Ikang Fawzi mengatakan, penyederhanaan tentu akan mempermudah masyarakat. “Ini tentu akan menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah,” katanya.

Menurutnya, program ini diprediksi akan menggantikan program rumah subsidi yang sebelumnya karena kuota semakin sedikit. Dengan program ini tidak akan membebani anggaran negara karena BP2BT didanai Bank Dunia. “Ini tentu akan mempercepat kepemilikan hunian,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, penyederhanaan ini semakin mempermudah konsumen dan dapat menurunkan angka kebutuhan rumah (backlog) di Indonesia yang sekarang mencapai 11 juta unit di seluruh Indonesia. “Semoga realisasinya semakin cepat sehingga membawa manfaat,” ungkapnya.

Kepala BTN Cabang Cilegon Benny Budi Anggara mengatakan, penyederhanaan mekanisme ini akan mempercepat realisasi kepemilikan rumah karena syaratnya lebih mudah. Misalnya uang muka hanya satu  persen dari sebelumnya 5 persen, konsumen merasa tidak terbebani. “Sementara untuk dana tabungan di sistem perbankan juga lebih singkat dari 6 bulan menjadi 3 bulan,” katanya. (skn/aas/ags)