Kumala dan Pamdal Berdamai, Laporan ke Polisi Dicabut

0
102
Aktivis Kumala dan Pamdal DPRD Banten saat mediasi pasca kekerasan yang menimpa aktivis Kumala, Jumat (6/9).Pertemuan digelar di ruang Ketua Sementara DPRD Banten Andra Soni.

SERANG – Pimpinan Sementara DPRD Banten melakukan inisiasi untuk memediasi persoalan yang melibatkan aktivis Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala) dengan petugas pengamanan dalam (Pamdal) DPRD Banten.

Rapat mediasi digelar di ruang Ketua Dewan Sementara Andra Soni yang dihadiri pengurus Kumala dan alumni Kumala, Pamdal DPRD Banten, Sekretariat DPRD Banten dan sejumlah anggota DPRD Banten dari Partai Gerindra. Dalam pertemuan tersebut, korban aksi kekerasan Ahmad Jayani memaafkan tindakan oknum petugas Pamdal DPRD Banten yang sebelumnya telah dilaporkan Kumala ke Polda Banten.

Ketua Umum Koordinator Kumala Dede Abdul Kodir mengungkapkan, pengurus Kumala telah memaafkan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum petugas Pamdal terhadap kader Kumala. Melalui pertemuan yang difasilitasi pimpinan Dewan sementara, Kumala dan korban sepakat untuk mencabut laporan pengaduan ke polisi.

“Dengan kesepakatan ini, kasus ini sudah dianggap selesai. Kami sudah memaafkan,” kata Dede usai pertemuan, Jumat (6/9).

Ia berharap, kejadian yang menimpa kader Kumala tidak terulang di kemudian hari kepada aktivis mahasiswa lain yang sedang melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Banten. Menurutnya, unjuk rasa merupakan salah satu cara mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dari masyarakat kepada Wakil Rakyat.

“Ini jangan terulang lagi. Kalau sampai terulang, Kumala akan membawa ke jalur hukum ke depannya,” tegasnya.

Ketua Sementara DPRD Banten Andra Soni mengapresiasi pengurus dan alumni Kumala yang berbesar hati memaafkan oknum petugas Pamdal DPRD Banten. Menurutnya, kasus tersebut sudah selesai.

“Alhamdulillah selesai dengan kekeluargaan. Korban telah memaafkan dan pelaku telah meminta maaf,” ungkapnya.

Senada, anggota DPRD Banten dapil Kabupaten Lebak Ade Hidayat yang hadir dalam pertemuan tersebut menambahkan, langkah berdamai yang diambil di kedua belah pihak merupakan langkah yang baik. “Memang lebih baik memaafkan, apa yang sudah terjadi menjadi bahan evaluasi ke depan agar tidak terulang kembali,” ujarnya.

Aktivis mahasiswa yang melakukan aksi, lanjut Ade, merupakan aset bagi masa depan Banten. Mereka memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap kondisi yang terjadi dalam masyarakat. “Dewan butuh masukan dan kritikan dari mahasiswa sehingga pembangunan di daerah bisa diawasi semua pihak,” ungkapnya.

Sebelumnya, aktivis Kumala Ahmad Jayani menjadi korban kekerasan petugas Pamdal DPRD Banten saat menerobos masuk ruang paripurna Dewan yang sedang menggelar pelantikan anggota DPRD Banten periode 2019-2024 pada Senin (2/9).

Jayani sempat melemparkan selebaran kertas dari lantai dua ruang paripurna. Akibat aksinya itu, ia mendapatkan sejumlah tindakan kekerasan dari oknum petugas Pamdal saat mengamankannya dari ruang paripurna. (den/alt/ira)