Wartawan Radar Banten Ahmad Lutfi (ketiga dari kanan), Director MCC PT Yakult Persada Antonius Nababan (kiri) dan rombongan berfoto di patung Dr Minoru Shirota di Yakult Central Institute.

Puncak dari kunjungan ke Tokyo adalah mengunjungi Pusat Penelitian Yakult (Yakult Central Institute) di Kunitachi. Di situ kita belajar banyak tentang kesehatan.

Yakult Central Institute berdiri di sebuah lingkungan yang sangat asri. Letaknya memang agak ke pinggir dari pusat Tokyo, Jepang. Di sini tidak banyak gedung tinggi. Di sekitarnya justru lebih dominan lahan terbuka yang ditumbuhi oleh aneka tanaman. Sangat sejuk dan nyaman.

Pusat penelitian Yakult ini punya standar keamanan yang supertinggi. Yang berdiri di lingkungan yang asri. Lebih banyak ruang terbuka dengan aneka pohon yang berdiri. Tingkat kebersihannya juga level atas. Tak bisa sembarangan keluar masuk di lingkungan ini. Pengunjung yang ingin foto-foto pun hanya boleh di lobi. Dilarang untuk foto di dalam ruangan, apalagi di tempat penelitiannya. Sangat privat. Ini adalah garis keras. Tidak ada toleransi apa pun. Tidak boleh ada yang melanggar.

Di depan lobi, ada patung setengah badan Dr Minoru Shirota. Shirota adalah penemu bakteri asam laktat yang bermanfaat untuk menekan pertumbuhan bakteri merugikan yang hidup di dalam usus manusia. Ia juga yang menciptakan minuman probiotik Yakult.

Meski ada garis keras di Yakult Central Institute itu, kami beserta rombongan dari delapan negara, tetap bisa menikmati kunjungan itu. Peserta tur berasal dari Indonesia, Filipina, Tiongkok, Meksiko, Singapura, India, dan Timur Tengah. Wartawan Radar Banten jadi satu-satunya peserta asal Provinsi Banten yang diundang PT Yakult Indonesia Persada dalam ajang bertajuk 2018 Japan Tour for Journalist from Overseas tersebut.

Director Marketing Communication and Commercial (MCC) PT Yakult Indonesia Persada Antonius Nababan mengatakan, kunjungan ini rutin digelar sejak 2004. “Tujuannya untuk memberi edukasi seputar prebiotik hingga dunia kesehatan secara umum di Jepang,” katanya.

Negara matahari terbit ini memang punya kultur ciamik dalam hal kebersihan dan kesehatan. Contoh kecil, saat semingguan di Jepang, kami memang sulit menemukan pria dewasa maupun wanita dewasa yang berperut buncit. Tubuh mereka proporsional.

Kunjungan ke pusat penelitian Yakult pada Rabu (23/5) pagi itu diawali seminar pembukaan di hall yang mirip studio teater film. Kursinya berjejer memanjang bertangga-tangga. Panggung depan posisinya di bawah. Saat peserta berbicara, kala mikropon meja dinyalakan maka kamera di langit-langit otomatis akan bergerak. Menyorot ke si wajah pembicara. Lantas wajah yang berbicara muncul di layar di bagian panggung agar dapat dilihat oleh banyak orang.

Sejumlah peneliti terkemuka Yakult yang bekerja di pusat penelitian ini hadir saat pembukaan. Dari berbagai bidang. Mulai dari spesialisasi makanan, kosmetik, dan obat-obatan. Mereka memperkenalkan pusat penelitian, yang walaupun terdiri atas lima bangunan megah, ternyata pekerjanya hanya 300-an orang. Di kompleks penelitian ini, gedung bundar yang berdiri paling depan dan paling mencolok adalah bangunan utamanya. Ada tulisan Yakult warna merah di bagian atas. Gedung-gedung didesain tahan gempa. Seperti gedung bundar, terlihat di sekelilingnya ada gorong-gorong kecil. Bersih dan airnya pun mengalir lancar. Lancar sekali.

Tiap bangunan di kawasan ini berisi bidang penelitian masing-masing. Di antaranya, pusat penelitian kosmetika dan farmasi, pusat penelitian makanan hingga obat-obatan. Di pusat penelitian inilah bakteri dikembangkan. Menjadi aneka jenis minuman kesehatan yang nantinya akan diproduksi di pabrik Yakult Fuji Susono Plant. Yang posisinya di kawasan kaki Gunung Fuji.

Pada pembukaan itu, hadir juga Shunichi Uekusa, General Manager International Business Department, Liaison Office, Yakult Honsha Co Ltd. Yakult Honsha adalah sebutan untuk kantor pusat Yakult di Tokyo.

Saat berbicara, Uekusa sempat menyinggung sejarah Jepang yang juga ‘kelam’. Kata dia, seratusan tahun yang lalu, Jepang bukanlah negara yang kaya seperti sekarang. Saat itu banyak anak-anak yang meninggal karena gangguan infeksi. Seperti keracunan makanan, disentri, kolera, dan lainnya. Saat itu penanganan masih sebatas pengobatan. Ada kasus baru ditangani.

Belum tersosialisasi dengan baik tentang pencegahan penyakit dan penerapan pola hidup sehat. Kemudian Dr Minoru Shirota, doktor kesehatan dari Universitas Kyoto, membuat perubahan yang signifikan dalam penanganan kesehatan di Jepang. “Setelah dia menemukan bakteri baik, Lactobacillus casei strain Shirota (LcS),” ujarnya.

Hingga kini, temuan Dr Shirota sangat dekat dengan warga dunia. Tercatat, perusahaan Yakult kini sudah ada di 28 negara, tak termasuk Jepang. Secara kawasan dan negara mencakup 37 wilayah, juga belum termasuk Jepang. Botol Yakult berbagai jenis, yang dijual per hari mencapai 29.822.741 buah. Dengan tenaga kerja di seluruh dunia mencapai 22.392 orang. Sementara Yakult Ladies, yang menjadi garda terdepan memasarkan produk dan mengedukasi penduduk berjumlah 46.559.

MUSEUM SHIROTA

Di gedung utama, pihak Yakult menyiapkan kawasan khusus untuk museum. Namanua, Shirota Memorial Museum. Pengunjung bisa tur keliling seperti di museum kebanyakan. Ditemani guide pula. Di museum ini, kita dapat melihat dari dekat aneka barang pribadi sang mastero, hingga sejarah perjalanannya dalam dunia kesehatan. Juga dokumentasinya bersama keluarga dan saat masih mengenyam pendidikan.

Pria dengan nama lengkap Minuro Shirota itu lahir di Nagano, Jepang pada 1899. Namanya harum sebagai peneliti terkemuka mikrobiologi dan pelopor probiotik di dunia. Dr Shirota punya paham, “Kita bisa hidup lebih lama dengan menjaga kesehatan saluran usus tempat nutrisi diserap ke dalam tubuh.”

Salah satu statement Dr Shirota yang terkenal hingga kini adalah, “Saya ingin memberikan pelayanan kesehatan yang baik, yang diinginkan oleh semua orang dengan harga yang terjangkau”. Menurut Dr Shirota, sangat penting untuk fokus pada pencegahan penyakit daripada hanya bergantung pada pengobatan. Itu jugalah yang memotivasinya terus melakukan penelitian-penelitian di bidang kesehatan. Sampai menemukan LcS. Lalu ikut berkontribusi dalam membangun kultur hidup sehat di Jepang, yakni mengutamakan pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat. Yang sudah tertanam bahkan sampai anak-anak usia sekolah.

****

Pada awal tur di museum akan disajikan perjalanan hidup Dr Shirota dalam bentuk grafis di dinding. Tahun-tahun penting. Dipadu dengan kalimat-kalimat motivasi dari Shirota lainnya. Seperti, “Big dream in a small bottle (mimpi besar dalam botol kecil)”. Diketahui, kemasan Yakult adalah botol kecil warna krem.

Ada juga barang-barang pribadi sang tokoh kesehatan yang tersimpan rapi. Di atas meja tertutup kaca. Ada topi, tongkat, buku, dan kacamata. Juga arloji kantong dan kamera. “Ini salah satu mikroskop yang dulu dipakai Dr Shirota,” ujar guide perempuan, berbaju putih, menunjuk pada meja kaca.

Juga foto-foto Shirota dalam beraktivitas di laboratoriumnya dan tentunya gambar dia bersama keluarga. Juga foto suasana awal pengemasan Yakult oleh kaum hawa di Jepang.

Dr Shirota menjadi yang pertama di dunia berhasil membudidayakan strain bakteri asam laktat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Bakteri ini diberi nama LcS. Penemuan bakteri ini tercatat pada 1930. Seperti tertulis di dinding museum.

Sementara, nama Yakult berasal kata dari johurto yang berarti yoghurt. Ini adalah minuman susu fermentasi yang memberikan manfaat kesehatan karena membawa miliaran bakteri baik ke dalam usus.

Sejak keberhasilan penemuan itu, Dr Shirota terus menumpahkan perhatiannya terhadap dunia kesehatan. Pada 1935 itu, dia mendirikan Laboratorium Penelitian Yakult di Fukuoka. Inilah basis produksi dan pemasaran untuk Yakult. Nama pusat penelitian diubah menjadi The Shirota Institute for Research on Protective Bacteria pada tahun yang sama dan Yakult secara resmi didirikan. Pada tahun itu pula produk Yakult mulai dipasarkan.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 1938, Yakult terdaftar sebagai merek dagang. Saat itu dijual dengan kemasan yang sangat sederhana. Botol kaca dengan penutup plastik. Botol kaca kemasan awal ini juga jadi pajangan di museum. Perkembangan minuman kesehatan ini semakin masif. Tercatat, pada 1955, korporat mendirikan kantor pusat, Yakult Honsha Co dan The Shirota Institute didirikan di Kyoto. Baru pada 1967 lembaga penelitian dipindahkan ke Kunitachi, Tokyo (Kemudian menjadi Yakult Central Institute) hingga kini. Sementara, kantor pusat Yakult Honsha berdiri di tengah hiruk pikuk Kota Tokyo.

Sejak saat itu sayap-sayap penelitian di pusat ini semakin berkembang. Tak sebatas minuman prebiotik. Ada juga pembangunan pusat penelitian pangan, energi terbarukan, kosmetika, dan obat-obatan. Tak hanya di Jepang. Pusat penelitian Yakult juga merambah Eropa. Pada 2006, dibangun Pusat Penelitian Mikrobiologi Eropa Yakult Honsha, ESV di Belgia. (Ahmad Lutfi)