DARI KIRI: Heny, Mutiara, Elis, dan Qolbi saat ditemui Radar Banten di Tokyo Camii and Turkish Culture Center, Tokyo, Sabtu (27/5).

Sangat sulit untuk menemukan masjid di Tokyo. Meski demikian, bukan berarti tidak ada tempat salat di sana.

Salah satu masjid terkenal di Tokyo adalah Masjid Turki. Masjid ini berdiri megah di dekat Stasiun Yoyogi Uehara, Shibuya, Tokyo. Nama lengkapnya Tokyo Camii and Turkish Culture Center. Masjid ini mampu menampung ribuan jamaah.

Di tempat wudunya, ada pengumuman berbahasa Indonesia.  Begini bunyi pengumumannya ‘Notice: Sandal ini khusus untuk di toilet saja. Naik atas pakai sepatu sendiri’. Di bawah pengumuman berbahasa Indonesia, barulah pengumuman berbahasa Inggris dan Jepang yang artinya sama dengan pengumuman berbahasa Indonesia itu. Di beberapa masjid di luar negeri memang ada pengumuman yang menggunakan bahasa Indonesia. Itu tentu untuk mengakomodasi informasi warga Indonesia yang tercatat sebagai umat muslim terbanyak di dunia.

Kami mengunjungi masjid ini pada Sabtu (26/5) sekira pukul 10.31 waktu setempat. Sambil menunggu waktu zuhur, kami mengelilingi masjid ini di luar. Setengah jam kemudian, kami masuk ke dalam masjid. Terdengar alunan ayat suci Alquran dari kelompok kecil yang sedang belajar mengaji. Ada tiga perempuan. Semuanya berhijab. Dan satu lagi, seorang laki-laki. Tiga perempuan yang mengenakan gamis hitam-hitam itu duduk berbaris. Di depan mereka, mushaf bertumpu pada rehal.

Di sisi kanan para penuntut ilmu itu,  tampak seorang pengajar berwajah Timur Tengah. Ia bersandar di dinding dengan santai. Laki-laki paruh baya itu memiliki jenggot yang sudah beruban. Berpakaian kotak-kotak. Kepalanya ditutup peci putih. Dia membaca Surah Al-Maun yang diikuti salah satu dari muslimah.

“Ara aitalladzii yukadz dzibu biddin,” sang guru membaca. “Ara aitalladzii yukadz zi…,” ujar si murid. “Yukadz-dzibu biddin,” ajar sang guru. “Yukazzibu,” turut si murid. “Yukazzibu biddin,” ujar si guru lagi. “Fit,” ulang si murid. “Biddin,” kata sang guru membenarkan.

Siang itu, mereka sedang belajar membaca Surah Al-Maun. Perempuan lain juga diajarkan ayat-ayat pendek yang berbeda. Anak-anak dari salah satu jamaah perempuan setia menanti ibu mereka mengaji. Berlari-lari kecil, sesekali berbaring di lantai masjid dilapis ambal dominan biru tua itu. Bocah perempuan itu juga mengenakan hijab. Para muslimah itu adalah mualaf. Mereka adalah warga Jepang.

Melihat aktivitas mereka, salah satu rombongan dari kami mengabadikan kegiatan mengaji itu. Dari jarak sekira lima meter, salah satu rombongan kami mengarahkan kamera handphone ke wajah mereka. Cekrak-cekrek. Ada empat foto yang diambil. Tiba-tiba, satu perempuan yang duduk di tengah berbicara pelan dengan bahasa Jepang. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak senang. Dia lalu protes melalui sang guru bahwa ia tidak senang difoto. Apalagi oleh orang asing, seperti kami.

Kami baru tahu. Ternyata,  kalau mau memfoto orang di Jepang harus minta izin dulu. Mereka sangat menjaga privasinya. Tidak senang difoto dan dipublikasikan di koran. Mereka benar-benar menjaga diri.

Kalau tidak izin, bisa panjang urusannya. Orang yang difoto tanpa izin, jika tidak berkenan, bisa menuntut. Merasa bersalah, rombongan kami yang tadi memfoto lalu menghampiri jamaah itu. Langsung minta maaf dan menghapus foto-foto yang tadi diambil. “No foto,” ucap kami kepada kelompok muslimah itu. Kalimat singkat itu sudah dimengerti. Wajah perempuan yang protes tadi pun langsung berseri. Ia sangat senang karena kami menghapus foto mereka. Kami lega, dan kami kembali duduk di tempat semula di dalam masjid itu.

Selain aktivitas belajar mengaji siang itu, sejumlah turis domestik, berwajah lokal, menjadikan masjid ini sebagai destinasi wisata. Menikmati keindahan ornamen dalam masjid yang indah dengan tulisan-tulisan kaligrafi. Sebelum masuk, turis harus berpakaian tertutup. Kain melingkari kepala. Walau ada pengunjung yang sebagian kakinya masih terlihat.

Turis laki-laki yang bercelana pendek, harus mengenakan jubah hitam. Sudah disediakan pengelola masjid. Barisan jubah digantung di sisi kiri pintu masuk. Dengan corak ukiran khas Timur Tengah warna abu di bagian lengan.

Masjid di Tokyo ini dikenal juga dengan Masjid Turki. Bangunannya berlantai dua. Tangga menuju lantai dua yang merupakan masjid ada di bagian luar. Di lantai satu, dengan gerbang tinggi adalah pusat kebudayaan Turki. Di sini juga dijual aneka suvenir khas Masjid Camii. Macam-macam. Gantungan kunci hingga kartu pos dengan foto Masjid Camii.

Pertama masuk pengunjung bisa mengambil brosur di bagian depan ruangan. Tertulis gratis dalam bahasa Inggris.

BERTEMU MUSLIMAH

Di Masjid Camii, kami bertemu empat muslimah. Warga Indonesia. Heny yang baru dua bulan di Jepang. Ia ikut suaminya yang sudah bekerja di Jepang selama 16 tahun. Mutiara atau Tara baru sebulan. Dia magang di ANA Airlines, maskapainya Jepang. Selama ini, Tara kuliah di Beijing, Tiongkok. Warga Jakarta itu dapat beasiswa jurusan sastra Jepang. Dua lagi adalah Elis dan Qolbi. Sama-sama perawat tapi bekerja di tempat berbeda. Elis bekerja di panti jompo. Merawat para manula, warga Jepang. Sementara Qolbi di rumah sakit khusus orang-orang jompo. Elis dan Qolbi tinggal di Saitama. Satu jam perjalanan menuju Tokyo.

Suami Heny sudah 16 tahun lebih di Jepang. Kerja di perusahaan. Mereka juga tinggal di apartemen di Saitama.  Setelah menikah, perempuan 22 tahun asal Makassar, Sulsel, itu langsung diboyong suami. Karena masih baru, Heny itu sering kangen Indonesia. Apalagi saat bulan puasa. “Kangen banget sih Indonesia, terutama makanannya,” ujar Heny.

Menurut Heny, biasa orang Indonesia berkumpul dan beribadah di masjid Indonesia di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Tokyo. Kegiatan keagamaan kerap dihelat di sini. Salat Jumat hingga tablig akbar seminggu sekali. Tak jarang tablig akbar mendatangkan penceramah terkenal dari Indonesia. “Kalau toleransi beragama setahu saya bagus saja. Alhamdulillah,” katanya.

“Pernah ada acara di masjid Indonesia, diikuti warga Jepang. Saat itu, warga Jepang yang nonmuslim membuat makanan nugget halal yang dinikmati warga Indonesia,” lanjutnya.

Soal puasa, diakuinya banyak godaan. Maklum, ini adalah Ramadan pertamanya di Jepang, jadi belum terbiasa. “Paling godaannya pas kita lagi jalan-jalan. Orang di sini (Jepang) kan mayoritas nonmuslim. Jadi, ya kayak biasa saja mereka makan-minum. Paling yang begitu saja. Sama rindu banget rasanya dengan keluarga di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Qolbi bercerita, sudah setahun tinggal di Jepang. Dia bekerja di rumah sakit khusus untuk kaum manula. Kata dia, permintaan perawat di Jepang cukup tinggi. Gaji yang diberikan juga menggiurkan. Walau memang biaya hidup di negeri ini juga meroket. “Alhamdulillah masih bisa kirim ke Indonesia,” kata perempuan itu, tersipu.

Tiap bulan dia mendapat gaji 167 ribu yen. Setelah dipotong asuransi dan lainnya, dia mengantongi gaji bersih 130 ribu yen. Jika dirupiahkan Rp16.640.000 dengan kurs 1 yen Rp128.

Saat bom bunuh diri meneror Surabaya beberapa waktu lalu, warga Jepang yang dirawat di rumah sakit, sempat bertanya-tanya kepada dirinya. Suasana kerjanya sempat heboh menanyakan hal itu. Sejumlah televisi di Jepang juga memberitakan bom bunuh diri Surabaya yang menyerang gereja. “Ada yang tanya bagaimana Indonesia? Enggak apa-apa ya? Ngeri juga ya?” ujar Qolbi menceritakan pengalaman ditanya-tanya orang Jepang saat berita soal bom itu ramai.

“Ya sebisa mungkin saya jelaskan kalau bom itu enggak ada hubungannya dengan agama,” katanya.

“Kalau saya ada pengalaman. Pas di kereta, ada orang Jepang baca koran pas headline-nya tentang bom itu. Saya berdiri di belakangnya. Saya berharap dia enggak menoleh ke saya, takutnya kaget nanti lihat orang Indonesia,” ujar Mutiara menambahkan, lantas tertawa.

Elis punya pengalaman lain. Memang bukan seputar bom. Pernah satu waktu saat masih pertama-tama tinggal di Jepang, dia bertanya alamat kepada warga lokal. Orang yang ditanyanya terlihat kaget dan gemetaran. “Saya juga bingung kenapa dia gemetaran. Bahkan sampai kami tinggal juga tetap gemetaran,” katanya, berbagi pengalaman. (AHMAD LUTFI)