Wartawan Radar Banten Ahmad Lutfi (kedua dari kanan) bersama Director MCC PT Yakult Indonesia Persada Antonius Nababan (kanan) dan jurnalis lain di kantor pusat Yakult, Jepang.

Selama seminggu, Radar Banten diajak keliling Jepang oleh PT Yakult Persada Indonesia. Perjalanan dimulai sejak Minggu (20/5) dan berakhir Minggu (27/5) sore. Selama sepekan itu, Radar Banten menghadiri simposium kesehatan, mengunjungi kantor pusat Yakult, dan mengunjungi destinasi wisata di sana.

Kami, berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Minggu (20/5),  sekira pukul 23.40 WIB. Naik pesawat Garuda Indonesia Airways (GIA) berjenis Boeing. Malam itu, penumpang yang terbang ke Tokyo tidak terlalu penuh. Cukup lapang. Sehingga beberapa penumpang memilih tidur di kursi yang masih kosong. Cukup nyenyak tidurnya karena bisa sambil selonjoran.

Rombongan kami terdiri atas delapan orang. Lima wartawan (Radar Banten, Radar Lampung, Solo Pos, Kaltim Pos, dan Singgalang), satu dosen dari Universitas Udayana Bali (dr Ni Nengah Dwi Fatmawati), dan dua perwakilan PT Yakult Indonesia. Pemimpin rombongan adalah Antonius Nababan, Director Marketing Communication and Commercial (MCC) PT Yakult Indonesia Persada didampingi Kenta Matsuzaki, Marketing Advisor.

Rombongan kami  berada di Negeri Matahari Terbit untuk menghadiri sejumlah seminar kesehatan yang digelar Yakult Honsa, sebutan untuk pusat Yakult. Di antaranya seminar dengan menghadirkan narasumber Prof Naomi Aiba dari Kanagawa Institute of Technology, Jepang. Prof Aiba memberikan pemaparan mengenai “Shokuiku (Food and Nutrition Education).”

Penerbangan ke Jepang, sebut pramugari lewat pengeras suara di pesawat,  ditempuh selama enam jam dan 45 menit. Baru  satu setengah jam di udara, pramugari yang cantik memberikan semua penumpang camilan. Roti isi daging ayam, air mineral botol. Rotinya cukup besar. Lumayan mengganjal perut, di tengah suhu dingin kabin pesawat Boeing 777-300ER itu. Para penumpang dengan lahap menyantap camilan yang sudah ada di hadapan mereka masing-masing. Maklum, camilan yang dihidangkan cukup nikmat.

Tak selang lama, kembali pramugari menghampiri para penumpang. Kali ini, pramugari memberikan hidangan bagi penumpang yang akan menjalankan ibadah puasa  esoknya, Senin (21/5). Pramugari dengan ramah menawarkan pilihan menu sahur. Ada dua pilihan. Nasi ikan atau omelet telor. Omelet awalnya memang sangat menggoda. Awalnya, kami akan memilih omelet. Namun, pramugari kembali menegaskan bahwa omelet itu dengan kentang. Tidak ada nasi. Lantaran untuk berpuasa besok, maka pilihan kami jatuhkan kepada nasi ikan. Itu pilihan yang rasional agar lebih kenyang. He-he-he.

Walau menunya masih hangat, tetapi rasanya kurang pas. Mungkin karena di udara, jadi di lidah rasanya masih ada yang kurang. Meski demikian, tetap juga habis dan hanya tersisa mangkuk dan sendoknya saja. Tampaknya sahur di pesawat, soal rasa bukan urusan penting. Yang terpenting adalah sahur dengan nasi. Untungnya, setelah tiba di Bandara Hanneda, Tokyo, jelang siang, suhu sangat mendukung. Matahari cerah, tetapi tak bikin gerah. Udaranya sangat sejuk sehingga kami yang berpuasa tidak terlalu kepanasan di siang hari itu.

Suhu semakin dingin menginjak sore hari.  Puasa menjadi lebih ringan walau kaki melangkah sebanyak 17.044, sesuai dengan catatan fitur kesehatan di ponsel. Hari pertama di Tokyo itu banyak melangkah karena keluar dari bandara yang luas, pindah-pindah terminal saat naik kereta atau line.

Dalam pergerakan sehari pada Senin (21/5) itu memang mengandalkan transportasi umum, yang sudah sangat bagus di Jepang. Kami naik bus dan kereta api yang sangat nyaman dan bersih. Jelang senja, sebelum waktu berbuka, rombongan kami ini menuju Ginza. Ginza adalah distrik di Chuo, Tokyo, letaknya di selatan Yaesudan Kyobashi, sebelah barat Tsukiji, sebelah timur dari Yurakucho dan Uchisaiwaicho, atau sebelah utara dari Shinbashi.

Kawasan ini dikenal sebagai kawasan mewah di Tokyo. Di tempat ini terdapat berbagai toko serbaada, butik, restoran, dan kafe. Ginza dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di dunia. Toko-toko utama dari merek busana elite berada di sini, Chanel, Dior, Abercrombie dan Fitch,  Gucci, dan Louis Vuitton. Di sini juga terdapat ruang pamer Sony dan Apple Store Ginza.

Kawasan ini disebut Ginza karena dulunya di tempat ini terdapat percetakan uang logam perak yang dibangun tahun 1612 (zaman Edo). Pemandangan Ginza pada akhir 1870-an-1880-an (model miniatur di Museum Edo-Tokyo)

Setelah kawasan Tsukiji habis terbakar pada tahun 1872, Pemerintah Meiji menetapkan kawasan Ginza sebagai model modernisasi. Pemerintah memprakarsai pembangunan gedung dari bata tahan api, dan pembangunan jalan-jalan yang lebih lebar untuk menghubungkan Stasiun Shinbashi dan enklave orang asing di Tsukiji, serta gedung-gedung pemerintahan yang penting

Di kawasan Ginza itulah kami berbuka puasa. Waktu berbuka di Jepang adalah pukul 18.48 waktu setempat. Tidak seperti sahur di pesawat yang hanya dua pilihan menu, maka berbuka di Ginza, kami disodorkan banyak pilihan. Menu halal, tentu saja. Di bagian depannya bertuliskan Tendon dan ada keterangan halal. Untuk ke Ginza ini, dari tempat kami menginap di Hotel Villa Fotaine, harus naik kereta, dengan satu stop. Jaraknya tidak terlalu jauh. Bila ditempuh dengan jalan kaki, sekira 2-3 kilometer.

Tendon adalah masakan khas Jepang yang terdiri aneka gorengan berlapis tepung. Ada ikan, udang, terung, buncis, hingga telur. Dan semuanya langsung digoreng. Jadi, pas dihidangkan aneka makanan berlapis tepung itu masih panas di atas mangkuk. Sementara nasinya, berada di bagian bawah. Di atas nasi itu aneka gorengan tepung itu ditata dengan rapi dan sangat menggoda. Sentuhan terakhir dengan siraman saus. Lantaran penasaran, kami memesan dengan porsi besar. Tak terasa, Tendon pun habis dilahap. (Ahmad Lutfi)