Kunti Mudah Pikat Lelaki dengan Ubah Penampilan Lebih Seksi

Pagi itu Kunti (33), nama samaran, menutupi wajahnya dengan handuk. Hanya terlihat mata dan keningnya yang tampak malas karena belum mandi. Beberapa tetangga yang sibuk memilih sayur untuk bahan masakan, menatap sinis penasaran. Ketika ditanya, Kunti mengaku, sedang sariawan.

Anehnya, Kunti yang biasanya banyak bicara dan ikut mendengar obrolan pagi bersama ibu-ibu, hari itu tampak berbeda. Hanya memesan tahu tempe tanpa bumbu masakan, ia terlihat buru-buru sambil mengangguk pamit. Namun, ketika seorang ibu menyentuh lengan kirinya, Kunti menjerit kesakitan. Lekas ia mempercepat langkah menuju rumah.

Apa yang dialami Kunti membuat ibu-ibu semakin penasaran. Ya, yang namanya tinggal di kampung, ada hal aneh sedikit, pasti langsung menyebar ke mana-mana. Muncullah berbagai isu tak sedap, mulai dari menuduh Kunti terkena penyakit kulit, sampai terkena serangan santet. Oalah. Memang kenapa sih, Teh?

“Kalau saja sekarang masih sama dia, mungkin saya enggak bakal berani ceritain ini ke Kakang. Saya sering disiksa, Kang,” curhat Kunti kepada Radar Banten.

Kunti terlahir dari keluarga sederhana, tidak miskin tidak juga kaya. Sang ayah yang bekerja sebagai pegawai pabrik dan ibu tak bekerja, membuat hidup Kunti bersama tiga adiknya berlangsung apa adanya. Tidak banyak menuntut pada orangtua, selepas menamatkan sekolah SMA, ia mencari nafkah guna membantu ekonomi keluarga.

Kunti mengaku, sebenarnya ia tak ingin mengakhiri masa lajang di usia muda. Masih banyak hal yang belum dicapai, bahkan Kunti berniat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Namun, apalah daya lantaran banyak teman seusia yang menikah setelah lulus sekolah, pola pikir kedua orangtua pun ikut terbawa lingkungan. Waduh, maksudnya dipaksa cepat-cepat nikah gitu, Teh?

“Ya, enggak dipaksa sih, Kang. Cuma mereka pada nyindir dan banding-bandingin gitu sama yang sudah nikah. Kan kesal juga,” ungkap Kunti.

Kalau dilihat dari wajah, Kunti memang tidak terlalu cantik. Namun, kulit putih dan bodi seksinya, dijamin bakal bikin lelaki tak bisa tidur nyenyak. Bayang sosok Kunti akan selalu menghantui. Widih, ini mentang-mentang namanya Kunti, kok kesannya kayak hantu saja ya. Hehe.

Apesnya, di saat rongrongan orangtua menerpa meminta segera menikah, Kunti dilanda gelisah galau merana lantaran belum ada lelaki pujaan hati yang mengisi relung jiwa. Sejak putus dengan sang mantan sewaktu kelas X SMA, ia belum mendapat penggantinya.

Namun, bukan Kunti namanya kalau menyerah begitu saja. Mengubah penampilan menjadi lebih terlihat menggoda, Kunti sukses menarik perhatian pria di kampungnya. Bahkan, beberapa tetangga yang sudah mempunyai anak istri pun, kalau Kunti lewat depan rumah, diam-diam pasti melirikkan mata. Wah-wah, ini kok kesannya jadi kayak wanita penggoda?

“Enak saja, enggaklah, Kang. Mereka saja yang kegenitan. Orang saya cuma ganti penampilan doang kok, yang tadinya sering pakai rok, ganti jeans, kaus ya pokoknya yang minim-minimlah,” aku Kunti. Ya, terserah Teh Kunti sajalah.

Namun, bagai memancing di air keruh, para lelaki yang dirasa mulai tertarik, nyatanya hanya bisa bersiul di pinggir jalan tanpa berani datang ke rumah. Jadilah Kunti galau tingkat dewa. Tapi, seolah Tuhan menjawab doanya, berkat kenalan seorang teman, Kunti dipertemukan dengan Juling (40) bukan nama sebenarnya.

Baru dipertemukan sekali di sebuah taman di Kota Serang, Kunti berani mengundang Juling datang ke rumah menemui sang ayah. Hebatnya, seolah ingin menunjukkan keseriusan, lelaki berbadan kekar dengan rambut ala-ala anak muda zaman now itu menyanggupi permintaan Kunti.

Tepat di hari yang sudah dijanjikan, Juling datang membawa serta kakak dan dua temannya. Lantaran sang ayah yang sudah tiada, ia berkata apa adanya dan berniat ingin langsung menuju jenjang pernikahan. Beruntungnya, keluarga Kunti yang tak begitu selektif soal materi langsung menerima.

Singkat cerita, keduanya pun sepakat menuju jenjang pernikahan. Merayakan pesta sederhana, hanya mengundang kerabat dan teman kedua mempelai, pernikahan Kunti dan Juling berlangsung lancar. Mengikat janji sehidup semati, mereka resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Juling bersikap sebagai seorang pemimpin rumah tangga yang menyayangi istri. Tinggal bersama keluarga Kunti, ia selalu menunjukkan perilaku baik. Bekerja sebagai pelayan di sebuah perusahaan ternama di Kabupaten Serang, Juling turut membantu ekonomi keluarga.

Menginjak tahun kedua usia pernikahan, rumah tangga mereka semakin berwarna dengan hadirnya anak pertama. Hubungan kedua keluarga pun semakin harmonis, tak dinyana, Juling pun semakin menyayangi Kunti sang istri tercinta. Cie… romantis begini, mana peristiwa penyiksaannya, Teh?

“Hem… atuh ini kan waktu masih tinggal di rumah keluarga saya,” tukas Kunti. Lah memangnya? Ya coba diteruskan ceritanya, Teh!

Di tengah kebahagiaan menyambut kehadiran sang buah hati tercinta, musibah itu datang tak terduga. Tengah malam ketika ia baru selesai membersihkan badan sepulang bekerja, Juling dikagetkan kabar ibunya meninggal dunia. Tanpa banyak kata, ia bergegas pulang dan mendapati bendera kuning di pagar rumahnya.

Juling amat terpukul akan kematian sang ibu soalnya ia tak memiliki siapa-siapa lagi. Kakak-kakaknya sudah menikah, dan parahnya, semenjak kematian sang ayah dahulu, ia sering ribut dengan sang kakak karena masalah warisan. Oalah, kasihan amat ya Kang Juling.

Semua harta orangtua direbut kakaknya, Juling hanya diberi warisan rumah yang segala isinya pun dibawa serta. Ia memutuskan membawa Kunti tinggal di rumah bekas almarhumah ibu. Hari demi hari dilalui, Juling tak romantis lagi. Mungkin karena stres dan masih belum bisa menerima kenyataan, ia lebih banyak diam.

Kunti tak menyangka, semua masa indah di awal pernikahan berubah menjadi penderitaan. Tepatnya sebulan setelah kepindahan, Juling dipecat dari tempatnya bekerja karena terlibat keributan. Alih-alih menenangkan, Kunti malah jadi bahan pelampiasan.

“Duh, Kang, setahun lebih saya bersabar mempertahankan rumah tangga. Dia enggak bisa berubah,” kata Kunti.

Memar di bagian bibir, mata sembab karena menangis sehari semalam, menjadi bukti kisah pilu Kunti bersama sang suami. Hingga suatu hari, lantaran tak kuat menanggung sakitnya rumah tangga dengan Juling, Kunti memilih jalan perpisahan. Ia sudah pesimistis, jika dilanjutkan rumah tangganya tak akan menemukan titik kebahagiaan seperti di awal pernikahan.

Ya ampun, sabar ya Teh Kunti. Semoga Kang Juling dapat hidayah. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)