Kurangi Jatah Bulanan Istri Berakhir Tragis

Kisah rumah tangga Somad (65) nama samaran, cukup menggelikan. Niat mendidik istri, sebut saja Midah (61), yang mempunyai sifat boros dengan mengurangi jatah bulanan, malah meninggalkannya dan mengubah statusnya menjadi duda. Yassalam.

Somad yang ditemui Radar Banten di sebuah warung di Kecamatan Kragilan sambil menyeruput segelas kopi awalnya malu-malu menceritakan kisah masa lalunya. Somad hanya mengumbar senyum. Seiring perbincangan, Somad mulai terbuka soal rumah tangganya yang kelam. Kita simak ceritanya yuk!.

Somad mengaku terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya buruh tani. Kehidupan keluarganya mulai berubah seiring sang kakek meninggal dunia dan menyerahkan sebagian besar harta warisannya kepada sang ayah. Kayak mendadak pokoknya. Hidup bergelimang harta tak membuat Somad lupa diri. Somad tetap sederhana dan bekerja keras membantu ayahnya menggarap sawah dan kebun hingga kebanggaan orangtua.

Beranjak dewasa, Somad memutuskan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi gadis pujaan hati. Wanita itu tak lain ialah Midah, anak kerabat sang ayah yang lama diincarnya. Tak mau keduluan orang lain, Somad dengan gagahnya berniat melamar Midah dan diterima dengan baik oleh Midah maupun calon besan. Beruntung Somad dianugerahi wajah cukup tampan sehingga Midah tak mampu menolak. Somad juga dikenal baik dan ramah. Midah tak kalah menawan, Midah dianugerahi wajah cantik dan banyak pemuda yang mengincar di kampungnya. Lekukan tubuh Midah menggoda, kulitnya juga putih yang bisa siapa aja yang melihatnya bisa klepek-klepek.

“Saya suka enggak tahan kalau udah lihat dia (Midah-red) lagi pakai kain batik sehabis mandi. Suka langsung saya ajak ke kamar,” aku Somad disambut tawa kecilnya. Untung bukan kain kapan Mas.

Tiga bulan menjalin hubungan, Somad melanjutkan hubungannya ke pelaminan. Pernikahan Somad dan Midah berlangsung lancar dan dimeriahkan dengan hiburan musik dangdut. Setahun berumah tangga, mereka dikaruniai anak pertama yang membuat hubungan mereka semakin harmonis. Dua tahun menjalani rumah tangga, Somad yang masih menjalankan usahanya bertani kebun pun akhirnya membeli rumah sendiri.

Seiring waktu, kebutuhan ekonomi keluarga mereka semakin membengkak. Merasa memiliki suami mampu dan mandiri, Midah mulai berulah. Sikap Midah berubah dan tiada hentinya minta ini itu untuk memenuhi keinginannya. Mulai sering beli baju baru, tas, sepatu, bahkan minta dibelikan mobil. “Wah pokoknya penginnya foya-foya aja,” curhat Somad. Ke laut aja Mas.

“Padahal dulu, dia bukan tipe perempuan suka belanja. Sederhana pokoknya,” ujarnya.

Menyadari perilaku istrinya akan membuat sengsara, Somad mulai mengambil sikap. Ia mulai berhemat dengan mengurangi jatah bulanan istri. “Niatnya sih mendidik,” terangnya. Siswa kali dididik.

“Orang-orang sih lihatnya saya hidup bahagia dapat warisan, padahal pusing. Istri tiap hari mintanya macam-macam,” keluhnya. Asal jangan minta kawin lagi aja Mas.

Menyadari jatah bulanan sudah berkurang, Midah bukannya mengerti dengan tujuan suami malah makin beringas dan tak mendengarkan nasihat Somad. Sejak itu, setiap hari rumah tangga mereka ribut berdebat soal jatah bulanan. Bukannya menyadari kesalahan, Midah malah menuduh Somad berselingkuh. Perselihan di antara mereka pun tak terhindarkan sampai akhirnya Midah memilih pulang ke rumah orangtua membawa serta anaknya.

“Karena dilaporkan selingkuh sama istri, mertua sampai datang ke rumah bawa bambu. Set dah. Saya dikeroyok mertua sama keluarganya. Padahal, salah paham. Untung dilerai saudara sama tetangga,” katanya.

Menyadari sikap istri yang seolah sudah tidak percaya lagi dengan Somad, akhirnya perceraian jadi solusi. Midah sudah menikah lagi dengan lelaki kaya di Tangerang dan hidup bahagia. Sementara Somad saat ini statusnya menduda. Ya ampun, sabar ya Kang Somad. (Haidaroh/zai/ags)