Kuras Harta Asal Jangan Kuras Air Mata

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

1. Korban ‘Rampok’ Suami

Sejak awal menikah, Jono (nama samaran), memang sering sekali meminjam uang pada Jini (juga nama samaran). Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya sampai puluhan juta rupiah. Astaga, mungkin Jono pikir, istrinya punya pohon duit kali ya.

Seharusnya Jini (33) waspada level satu. Saat ini bukan hanya perampok yang harus diwaspadai. Suami sendiri pun patut dicurigai. Apalagi jika sudah ada tanda-tanda dan gejalanya. Memang sih tidak semua suami seperti itu. Tapi setidaknya dengan perangai macam Jono (48), Jini bisa lebih hati-hati supaya tidak menjadi korban perampokan oleh suaminya sendiri. Karena itu, dia pun mantap menggugat cerai ke Pengadilan Agama (PA) pekan lalu. Memang bagaimana ceritanya?

Jono sukses menguras uang tabungan Jini di bank. Menurut Jini, sebenarnya perbuatan itu sudah cukup sering terjadi sejak awal-awal menikah sebelas tahun lalu. Modusnya sih Jono sering meminjam uang kepadanya dengan alasan untuk tambahan modal usaha. Jini sih oke saja. Mungkin wanita yang masih cantik dan ramping di usia kepala tiga ini berpikir, toh jika usaha Jono berhasil, ia juga yang akan mencicipi.

“Dia tahu uang saya cukup banyak di bank. Waktu awal pernikahan, dia bilangnya butuh uang untuk modal usaha dengan teman. Ya masak saya nggak kasih?” tutur Jini merangkai kejadian yang menimpanya.

Jini merasa santai seperti di pantai dan nyaman seperti di pegunungan alias tak berpikir hal negatif apapun. Apalagi beberapa kali, sang suami rajin melaporkan bisnisnya sudah ada untungnya. Hasilnya bisa dinikmati oleh dirinya dan keluarga. Yihaa, Jini senang bukan kepalang.

Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Selang beberapa bulan, Jono sudah minta uang lagi. Alasannya, butuh tambahan uang lagi. Ih si Jono ini sebenarnya suami atau pengemis di lokasi wisata ziarah ya. Sama istri kok minta-minta. Bisa diusir petugas keamanan tuh.

Jini yang cinta mati stadium akut pun tanpa curiga memberi Jono uang sebagai modal secara cuma-cuma. Hingga akibatnya, Jono jadi ketagihan minta uang itu rutin beberapa bulan sekali. Ya iyalah, siapa yang tidak ketagihan jika setiap kali meminta uang diberi secara mudah. Namun berbeda dari sebelumnya, hasil dari usaha Jono yang disampaikan ke Jini ternyata tidak pernah terlihat. Malah yang terjadi, duit Jini di tabungan ludes tanpa sisa. Duh ya Mas, tidak kasihan apa ya sama istrinya?

“Eh, pas saya sudah nggak punya duit lagi, dia kok marah-marah. Uring-uringan, katanya karena usahanya gagal,” Jini mulai berapi-api.

2. Dipakai untuk Janda Beranak Dua

Di sinilah Jini mulai curiga. Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga bukan? Hingga akhirnya, kedok Jono terbuka. Tanpa sengaja, Jini mendengar pembicaraan Jono lewat telepon. Dalam pembicaraan itu, dia membentak-bentak orang lewat telepon. Katanya, dia akan segera mengirim uang dalam waktu dekat. Haduh, siapa pula lawan bicara dalam telepon itu? Mencurigakan kan?

“Suaranya perempuan. Eh, belakangan ternyata itu adalah simpanannya,” cetus Jini dengan nada kecewa.

Seperti percikan api dalam genangan minyak, perang dunia dalam rumah tangga Jini pun tak terelakkan. Jono pun akhirnya mengaku, dirinya memang punya simpanan wanita lain di kampungnya. Wanita itu adalah janda muda yang sudah beranak dua. Hmmm, dasar otak lelaki, padahal kutang baik apa Jini selama ini? Eh malah bermain api dengan wanita lain yang jelas-jelas membuat Jono repot.

Jono selama ini ternyata tipu-tipu pada sang istri. Selama ini, uang yang diporotinya dari Jini digunakan untuk mengirimi janda beranak dua itu untuk biaya hidup sehari-hari termasuk uang kontrak rumah. Weleh-weleh.

“Duwe wadonan ning kampung rupane (ternyata punya perempuan lain di kampungnya-red). Tiga tahun menikah dengan saya, dia pulang ke kampungnya cuma saat Lebaran. Itu yang dipakai kesempatan untuk menemui selingkuhannya,” curhat Jini sambil terisak-isak.

Jini pun tak mau berpikir panjang. Meski Jono bilang akan meinggalkan Sephia-nya, namun Jini sudah tidak ingin tertipu lagi. Sudah cukup tabungannya habis untuk menghidupi parasit dalam keluarganya. Ia tidak akan memberi lagi Jono kesempatan untuk menipu dirinya. Saatnya Jini mendepak sepasang parasit dalam kehidupannya itu. Jini tak ingin membiarkan hidupnya terluka hanya gara-gara laki-laki yang berpura-pura mencintainya itu.

“Masih akeh wong lanang sing luwih waras ketimbang Jono (Masih banyak pria yang lebih normal dari Jono-red),” tandas Jini sambil mengurai senyum.

Duh Mbak tegar sekali ya? Tapi ngomong-ngomong, uang jutaan rupiahnya bagaimana ya? Duh, mungkin Jini berpikir biarlah rekening terkuras habis asalkan air matanya tidak ikut terkuras. Ada-ada saja ya perilaku Jono. Sekarang akhirnya harus mencari cara memenuhi kebutuhan janda beranak dua di kampung sana. Hmmm, cari istri yang punya banyak harta lagi aja Mas, tapi itu pun kalau masih ada yang mau ya? Hehe. (RB/zee)