Kurir Narkotika Jaringan Malaysia Dipidana Mati

Muhammad Adam alias Adam terlihat tenang mendengarkan pembacaan amar putusan hakim Pengadilan Negeri Serang, kemarin (30/1). Kurir 54 kilogram sabu-sabu dan 40.894 butir pil ineks asal Batam ini dijatuhi hukuman mati.

SERANG – Muhammad Adam alias Adam divonis pidana mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Serang, Senin (30/1). Lelaki asal Batam ini dinyatakan terbukti menyelundupkan 54 kilogram sabu-sabu dan 40.894 butir pil ekstasi atau ineks ke Indonesia. Terdakwa merupakan kurir pengedar narkotika jaringan Malaysia.

Adam duduk dengan tenang ketika mendengarkan pembacaan amar putusan oleh majelis hakim yang diketuai Sumantono hingga selesai. Matanya sedikit memerah. Mungkin, akibat kantuk lantaran cukup lama menunggu giliran menjalani sidang. Dia menjadi terdakwa terakhir yang divonis atas kasus penyelundupan dua jenis narkotika itu. Amar putusan terhadapnya baru dibacakan sekira pukul 18.40 WIB.

Sebelumnya, dalam sidang terpisah, tujuh terdakwa lain divonis sama. Terdakwa Ridwan alias Wawan, Hasrianto alias Papi, Syahrir alias Ucok, Hasdavid alias David, Romi Rinaldi, Denny Satria, dan Ade Madya Hermawan alias Billa, masing-masing dihukum pidana penjara seumur hidup.

Hukuman mati itu dijatuhkan setelah hakim sependapat dengan pandangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Cilegon Endo Prabowo dan Wendi. Adam terbukti melakukan permufakatan jahat dengan menjadi perantara narkotika. Perbuatannya melanggar dakwaan primer Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pertimbangan hakim yang memberatkan hukuman lantaran perbuatan Adam bertentangan dan tidak mendukung program pemerintah Indonesia dalam pemberantasan narkotika, terdakwa menjadi anggota jaringan peredaran gelap narkotika, dan pernah dihukum. “Hal meringankan tidak ada,” tegas Sumantono.

Penyelundupan 54 kilogram sabu-sabu dan 40.894 butir pil ineks ini dilakukan setelah Adam menerima telepon dari Acun, warga negara Malaysia, pada Jumat, 29 April 2016. Adam diminta membantu Acun untuk mengatur penyelundupan narkotika tersebut sampai Jakarta. Adam menyanggupinya dengan upah Rp300 juta. Terdakwa lalu menyusun rencana dan mengawali penyelundupan dua jenis narkotika dalam jumlah besar itu dengan membeli dua mobil Toyota Fortuner di Jakarta.

Adam kemudian meminta Syahrir alias Ucok dan Hasdavid alias David untuk membawa dua mobil itu dari Jakarta ke Pekanbaru pada akhir April 2016. Fortuner bernopol B 1704 UJF dikemudikan oleh Hasdavid, sedangkan Fortuner bernopol B 1601 KJC dikemudikan oleh Syahrir.

Sebelum sampai di Pekanbaru, Syahrir berhenti di Pulau Kijang Tembilahan untuk menemui Romi Rinaldi di Hotel Top Lima Tembilahan. Syahrir meminta Romi Rinaldi menggantikan tugasnya mengantarkan mobil kepada Hasdavid di Pekanbaru. Sementara, Hasdavid tetap melaju menuju Pekanbaru.

Adam kembali menghubungi Syahrir pada Kamis, 5 Mei 2016. Terdakwa meminta Syahrir untuk membawa Fortuner bernopol B 1601 KJC kembali ke Jakarta.

Syahrir kemudian meminta Hasdavid agar memerintahkan Denny Satria untuk mengantarkan mobil itu ke Pulau Kijang Tembilahan.

Sebelum Denny Satria melaksanakan tugas itu, Adam memintanya mengganti ban dan velg mobil di sebuah bengkel di Pasarbawah, Pekanbaru. Denny Satria lalu menjemput Syahrir yang mengajak istrinya, Rika Fitri Yanti, ketika mengantarkan mobil ke Jakarta.

Hasdavid yang juga mendapat tugas yang sama dari Adam untuk mengantar mobil Fortuner B 1704 UJF ke Jakarta, bertemu dengan tiga rombongan pembawa Fortuner B 1601 KJC di Pematang Rebah. Di daerah ini, Denny Satria pindah ke mobil yang dikemudikan Hasdavid.

Pengambilan 54 kilogram sabu-sabu dan 40.894 butir pil ineks di laut wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia oleh Ridwan alias Wawan baru dilakukan pada Mei 2016. Sesuai permintaan Adam, Ridwan menggunakan kapal sewaan untuk mengambil narkotika itu dari tangan seorang bernama Minu.

Sabu-sabu dan ribuan butir pil ineks di dalam sebuah tas itu dibawa Ridwan ke pelabuhan tikus di Kotabaru. Ridwan lalu menyerahkannya kepada Hasrianto. Narkotika itu kemudian dipindahkan ke dalam empat buah ban serep mobil, lalu dibawa ke daerah Selensen, perbatasan Riau dengan Jambi.

Di simpang Selensen, Hasrianto menemui Syahrir, Rika Fitri Yanti, Denny Satria, dan Hasdavid. Mereka memindahkan empat buah ban serep mobil itu dari dalam mobil Fortuner yang dikemudikan Hasrianto ke dalam dua mobil Fortuner yang dikemudikan oleh Syahrir dan Hasdavid.

Dari empat ban serep mobil itu, satu ban serep berisi ribuan pil ineks dimasukkan ke dalam mobil yang dibawa Romi Rinaldi, Mitsubishi Pajero B 711 DTO. Pemindahan paket narkotika ini dilakukan di tengah perjalanan Syahrir dan Hasdavid, tepatnya di Simpang Rimbo, Jambi.

Pemindahan paket narkotika kembali dilakukan di sebuah SPBU di Simpang Rimbo. Sesuai permintaan Romi Rinaldi, Hasdavid mengambil satu ban serep dari dari dalam mobil yang dikendarai Syharir, kemudian digantungkan di bawah bodi mobil Pajero yang dikendarai Romi Rinaldi.

Perjalanan dilanjutkan. Tiba di Palembang, Hasdavid mengalami kecelakaan, tapi selamat. Ditemani oleh Romi Rinaldi, Hasdavid mengecek mobil yang dikendarainya. Sementara, Syahrir dan Rika Fitri Yanti tetap melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

“Saksi Syahrir menaikkan kendaraannya ke atas kapal feri menuju Pelabuhan Merak, Kota Cilegon,” kata Ramdes.

Syahril dan Rika Fitri Yanti sempat berhenti di sebuah SPBU di dekat Pelabuhan Merak pada Minggu (8/5/2016). Ketika suami-istri ini beristirahat di dalam mobil Fortuner, anggota BNN menyergap mereka dan menemukan sabu-sabu seberat 10,5 kilogram di dalam satu ban serep mobil.

Hasdavid dan Denny Satria yang mengendarai Fortuner, serta Romi Rinaldi yang mengendarai Pajero ikut disergap. Anggota BNN melakukannya ketika ketiga terdakwa turun dari kapal di Pelabuhan Merak.

Adam dan Ridwan yang masih berada di Pekanbaru tidak mengetahui penangkapan anggota jaringannya. Mereka tetap berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat terbang. Adam dan Ridwan kemudian menginap di sebuah hotel di Jakarta Barat.

Adam baru menanyakan keberadaan Syahrir melalui telepon pada tanggal 8 Mei 2016. Sesuai permintaan anggota BNN, Syahrir kemudian menghubungi Adam. BNN pun menyergap Adam dan Ridwan di dalam kamar hotel yang mereka sewa. Hasrianto ditangkap paling belakang, begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Untuk menangkap Ade Madya Hermawan, BNN memanfaatkan Adam. Terdakwa diminta menghubungi Ade Madya dan berpura-pura akan menyerahkan dua jenis narkotika itu pada 9 Mei 2016. Sesuai arahan BNN, Adam mengatakan bahwa narkotika itu disembunyikan di dalam empat ban serep mobil yang disimpan di area parkir mobil Mal Taman Anggrek P11, Zona Merah 38, Jakarta Barat.

“Saat Ade Mayda Hermawan memeriksa mobil bagian depan, langsung ditangkap,” kata Ramdes.

Pengacara terdakwa bernama Syahrir langsung menyatakan banding. “Setelah mendengar putusan majelis hakim, kami menyatakan banding,” tegasnya.

Syahrir menilai, vonis mati terhadap kliennya itu tidak adil. Dia menganggap, hakim tidak menjatuhkan hukuman sesuai peran masing-masing terdakwa.

“Klien kami ditangkap tidak bersama barang bukti, bahkan klien kami seolah-olah sebagai otak pelaku,” tukasnya.

Dia menuding Ibul sebagai otak penyelundupan narkotika itu ke Indonesia, karena selaku pemesan narkotika. “Harusnya, Ibul ditangkap oleh BNN,” tandasnya. (Merwanda/Radar Banten)