La Nina Ancam Banten, Waspadai Banjir dan Longsor

0
318 views

SERANG – Fenomena La Nina akan terjadi di sebagian wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Banten. Pemerintah kabupaten kota harus menyiapkan diri sekaligus mengantisipasi potensi terjadinya bencana hidrometeorologi.

La Nina merupakan fenomena iklim. Saat La Nina, yang umum terjadi adalah  curah hujan sangat tinggi dan musim dingin. Kondisi itu berpotensi menimbulkan bencana longsor, banjir, hingga merusak tanaman dan padi yang menyebabkan gagal panen.

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG) Wilayah II-Tangerang Selatan memperkirakan La Nina terjadi pada periode Oktober-November 2020 di delapan kabupaten kota di Provinsi Banten.

Berdasarkan catatan historis Balai Besar MKG Wilayah II-Tangerang Selatan, La Nina dapat menyebabkan peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia 20 persen hingga 40 persen di atas normalnya bahkan bisa lebih. Namun demikian, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Provinsi Banten dampak dari La Nina bisa tidak serentak karena karakteristik iklim wilayah berbeda.

La Nina merupakan fenomena proses menurunnya suhu muka laut dari biasanya yang terjadi di wilayah Samudera Pasifik. La Nina  memiliki dampak umumnya meningkatkan curah hujan di Indonesia khususnya wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur.

Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar MKG Wilayah II-Tangerang Selatan Sutiyono mengatakan, pada bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia termasuk wilayah Provinsi Banten. “Curah hujan seiring dengan awal musim hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor,” ujarnya kepada Radar Banten, Rabu (14/10).

Pada bulan Oktober-November ini, kata Sutiyono, terdapat peningkatan hujan dari biasanya. Peningkatan hujan di bulan Oktober dan November antara 15-30 persen dari biasanya.  “Di bulan Desember 2020 dan Januari 2021 curah hujan meningkat antara 300-400 mm/bulan,” katanya.

Kata dia, untuk wilayah Tangerang Selatan bulan Oktober sudah memasuki musim hujan. Perlu diwaspadai pada Oktober dan November terkait peningkatan curah hujan dari biasanya. Untuk prakiraan wilayah Serang, Cilegon, dan Tangerang Raya memiliki karakter yang sama dengan wilayah Tangsel. Kecuali wilayah Pandeglang dan Lebak khususnya di wilayah bagian selatan diprakirakan bulan November 2020 hingga Januari 2021.  “Curah hujan diprakirakan masuk kategori sangat tinggi antara 400-500 mm,” terangnya.

Lebih lanjut Sutiyono mengatakan, berdasarkan kerja sama BBMKG Wilayah II dengan Badan Perencanaan Penanggulangan Daerah (BPBD) setiap kabupaten kota, wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di Banten antara lain Kabupaten Pandeglang bagian Barat, sebagian besar Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, dan Kota Serang.

Para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalnya penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk mengantisipasi debit air yang berlebih. “Masyarakat diimbau terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat,” katanya.

Sementara Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas II-Tangerang Selatan Yanuar Henry Pribadi mengatakan, untuk wilayah Tangerang Selatan bulan Oktober sudah memasuki musim hujan. “Perlu diwaspadai pada bulan Oktober dan November terkait peningkatan curah hujan dari biasanya. Sedangkan untuk puncak musim hujan kami prakirakan akan terjadi di Februari 2021,” katanya.

ANTISIPASI

Dihubungi terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang Diat Hermawan mengatakan, ada dua hal yang dilakukan BPBD Kota Serang merespons informasi BMKG terkait La Nina. Yaitu mitigasi bencana dan mempersiapkan penanganan bencana. “Kota Serang menjadi salah satu daerah yang diperkirakan terjadi La Nina,” katanya.

Kata dia, BPBD melakukan pemetaan wilayah dan titik potensi banjir dan longsor di Kota Serang. Untuk Banjir terdapat di empat kecamatan yakni Kecamatan Serang, Cipocokjaya, Kasemen, dan Walantaka. Sedangkan potensi longsor terjadi di Kecamatan Taktakan dan Curug. “Kami berharap masyarakat memantau perkembangan cuaca sehingga bisa meminimalisasi korban,” terangnya.

Ia juga mengimbau  masyarakat membiasakan membuang sampah pada tempatnya. “Jangan sampai saluran air dan sungai menjadi tempat sampah sehingga ketika ada hujan aliran air tersumbat yang mengakibatkan banjir,” katanya.

Hal senada disampaikan Manajer Krisis Center BPBD Kabupaten Serang Jhoni Efendi. Kata dia, Kabupaten Serang juga menjadi salah satu wilayah yang rawan terdampak La Nina. Berdasarkan letak geografis, wilayah Kabupaten Serang rawan banjir, longsor, hingga angin kencang yang mengakibatkan pohon dan rumah roboh.

Dikatakan Jhoni, secara letak geografis, Kabupaten Serang terbagi ke dalam beberapa segmentasi. Mulai dari wilayah pegunungan, pesisir, hingga perkotaan. Kemudian, wilayah Kabupaten Serang juga dialiri tiga sungai yang terhubung dengan kabupaten kota lainnya. “Berdasarkan pengalaman, potensi banjir bisa terjadi,” ujarnya.

Ia mengaku sudah meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi La Nina salah satunya mengoordinasikan semua relawan kebencanaan baik di tingkat kabupaten hingga seluruh kecamatan. “Tim kita siap siaga 24 jam, kita tingkatkan kesiapsiagaan,” katanya.

Jhoni mengatakan, pihaknya juga sudah menyiapkan segala peralatan dan sistem koordinasi dan komunikasi yang cepat jika terjadi bencana. “Komunikasi kita terus lakukan dengan BMKG setiap waktu untuk memantau kondisi cuaca, kemudian bersama seluruh tim di kecamatan juga terus standby,” ujarnya. (fdr-jek/alt)