Laba Bank Bukopin Meningkat 40 Persen

JAKARTA – Bank Bukopin berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp190 miliar pada tahun 2018, meningkat 40% dibandingkan dengan pencapaian laba pada tahun 2017.

Berdasarkan Laporan Keuangan Perseroan per Desember 2018 yang dipublikasikan pada 30 Maret 2019, posisi laba sebelum pajak Perseroan pada tahun 2018 tumbuh 78% menjadi Rp216 miliar dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya.

Pada periode tersebut, realisasi penyaluran kredit Bank Bukopin mencapai Rp66,44 triliun dan mobilisasi dana pihak ketiga sebesar Rp76,15 triliun. Dengan kinerja tersebut, aset Perseroan per 31 Desember 2018 tercatat sebesar Rp95,64 triliun.

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin M Rachmat Kaimuddin mengatakan, pada 2018 Perseroan fokus untuk memperbaiki rasio kecukupan modal, kualitas kredit dan mengelola biaya overhead.

“Pada tahun 2018 Perseroan berkonsentrasi menyiapkan fondasi yang kokoh untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya,” ujar Rachmat Kaimuddin saat berbicara pada Paparan Kinerja Bank Bukopin tahun 2018, Senin (1/4).

Pencapaian kinerja Perseroan per Desember 2018 menunjukkan bahwa kinerja Bank Bukopin semakin membaik dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan kinerja Perseroan pada periode tersebut didorong oleh perbaikan kualitas kredit, serta penurunan biaya dana dan biaya overhead.

Rachmat menjelaskan pada 2018 Bank Bukopin berhasil merealisasikan agenda penting yaitu pelaksanaan rights issue. Melalui aksi korporasi tersebut permodalan Bank Bukopin menjadi semakin kuat. Di sisi lain, komposisi pemegang saham Perseroan kini juga menjadi semakin lengkap dengan keberadaan PT Bosowa Corporindo mewakili unsur swasta, Kopelindo mewakili unsur koperasi, Negara RI, serta KB Kookmin Bank mewakili unsur global. KB Kookmin Bank merupakan perusahaan jasa keuangan global dan terbesar di Korea.

“Kami yakin dengan dukungan pemegang saham yang solid Bank Bukopin akan dapat melaju lebih pesat lagi untuk mewujudkan tujuan dan visi bank,” ungkapnya.

Di sisi internal, pada 2018 Bank Bukopin juga telah melakukan revitalisasi segmentasi bisnis, penyempurnaan struktur organisasi dan bisnis proses untuk menjaga daya saing Perseroan.

Rachmat menjelaskan sepanjang 2018, sebagian besar kredit Bank Bukopin disalurkan ke sektor ritel, yaitu UMKM Rp29,28 triliun dan konsumer Rp15,26 triliun, sementara kredit ke sektor komersial sebesar Rp21,90 triliun.

Dari sisi rasio kecukupan modal, posisi CAR Perseroan hingga akhir tahun 2018 mencapai 13,41%, meningkat 2,89% dibandingkan dengan posisi CAR pada 31 Desember 2018 yaitu sebesar 10,52%. Di sisi lain, pada periode yang sama ROA dan ROE Perseroan tercatat sebesar 0,22% dan 2,95%.

Sementara itu, dana pihak ketiga Bank Bukopin ditempatkan dalam bentuk Giro sebesar Rp10,04 triliun, tabungan Rp19,92 triliun dan sisanya sebesar Rp46,19 triliun merupakan Deposito. Per 31 Desember 2018, rasio LDR Perseroan tercatat 86,18%.

Pada sisi kualitas kredit, hingga 31 Desember 2018 rasio NPL net Bank Bukopin berada di kisaran 4,75%. Angka tersebut membaik dibandingkan dengan posisi NPL net pada tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,37%. Sementara itu, pendapatan operasional lainnya (fee based income) Perseroan pada periode yang sama sebesar Rp784 miliar.

Rachmat menjelaskan Bank Bukopin akan memacu pertumbuhan kinerja pada tahun 2019 dengan melakukan perbaikan kualitas, peningkatan produktivitas, dan mengoptimalkan proses digitalisasi.

Perseroan juga terus berupaya memacu pertumbuhan bisnis dengan merilis sejumlah produk dan layanan baru. Salah satu produk andalan yang telah diluncurkan Bank Bukopin pada 2018 dan akan dipacu penetrasinya pada 2019 adalah Flexy Bill, yaitu pembiayaan pembayaran tagihan listrik untuk pelanggan korporasi.

Bank Bukopin juga akan terus memperkuat penetrasi di segmen ritel. Menurut Direktur Konsumer Bank Bukopin Rivan A Purwantono, untuk memperkuat bisnis di segmen ritel, strategi yang dijalankan Bank Bukopin antara lain adalah melalui peningkatan penetrasi pada bisnis perbankan digital, pembiayaan perumahan, dan memacu pendapatan dari fee based income. Fokus bisnis lain yang dibidik Bank Bukopin adalah pada kredit personal, terutama di segmen pensiunan dan kredit kendaraan bermotor melalui sinergi dengan PT Bukopin Finance.

“Pada 2018 kami telah menyiapkan sejumlah produk dan layanan andalan berbasis perbankan digital, mulai dari tabungan Wokee hingga rebranding layanan PPOB menjadi Bukopinet. Pada tahun ini, penetrasi produk dan layanan tersebut akan terus diperkuat,” ujarnya. (aas)