18-LOVE STORY.indd

Jika tak siap mental dan materi, menikah di usia muda nyatanya tak seindah apa yang dibayangkan. Bukan hanya soal ekonomi, selektif dalam memilih istri pun patut diperhitungkan demi kebaikan di masa depan. Seperti halnya cerita bahtera rumah tangga Mukin (40) dan Nani (39), keduanya nama samaran.

Alkisah, Mukin yang terlahir di salah satu kampung di Kabupaten Serang, memiliki kehidupan penuh kesederhanaan serta perjuangan. Ia pemuda miskin yang sejak kecil ditinggal mati sang ayah tercinta. Jangankan bermimpi punya rumah mewah, katanya, untuk sekolah saja ia masih berpikir dua kali karena masalah biaya.

Beruntung, lantaran sejak SD ia termasuk anak berprestasi, Mukin mendapat beasiswa. Sampai akhirnya masuk SMA, prestasinya tak pernah turun. Meski awalnya sempat tak mau melanjutkan sekolah, akhirnya, mungkin itulah yang dinamakan keberuntungan, Mukin mendapat beasiswa lagi.

Kedua orangtua menaruh harapan besar padanya. Diberi anak yang pandai seperti Mukin, bapak dan ibunya sangat bahagia. Rezekinya terus mengalir. Sampai suatu hari, Mukin ditawari sekolah ke perguruan tinggi, tapi apesnya, ia malah menolak karena tak tega melihat orangtua dan keluarga kesusahan setiap hari. Akhirnya, dengan alasan ingin mandiri, Mukin memilih bekerja di perusahaan ternama di daerahnya. Ya ampun, kenapa enggak lanjut kuliah, Kang?

“Ya waktu itu saya enggak bisa lihat orangtua susah terus. Saya merasa, sudah saatnya saya bantu ekonomi keluarga,” aku Mukin.

Mukin menjalani hari penuh semangat bak hidup di dunia selamanya. Meski sibuk bekerja, tak membuatnya lupa pada keadaan sosial masyarakat. Ia termasuk pemuda yang aktif berkegiatan. Sifat yang baik dan rajin beribadah membuat Mukin mudah diterima di berbagai kalangan.

Menjadi lelaki yang banyak membantu orang, bukan hal sulit baginya untuk bertahan hidup. Hingga suatu hari, Mungkin itulah yang dinamakan rezeki anak saleh, Mukin diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaan tempatnya bekerja. Sejak saat itu, hidup Mukin berubah. Ekonomi keluarga pun meningkat.

Merenovasi rumah, membeli kendaraan pribadi, bahkan sampai membiayai adik sekolah, Mukin menjadi anak kebanggaan keluarga. Tak hanya orangtua, saudara dan tetangga pun sering memuji dan menjadi bahan percontohan baik untuk anak-anak mereka.

Hingga suatu hari, mungkin lantaran tak tahan melihat teman seusia menikah duluan, Mukin pun membulatkan tekad dan keyakinan untuk mengakhiri masa lajang. Tapi sayang seribu sayang, pernikahannya tak direncanakan dengan matang. Baru dipertemukan sekali dengan wanita kenalan teman, ia langsung mengajak ke pelaminan.

Sang wanita tak lain ialah Nani, warga kampung sebelah. Mengikat janji sehidup semati, Mukin dan Nani resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan pesta pernikahan sederhana, tamu undangan tampak ikut berbahagia. Sosok Mukin yang bersahaja, akhirnya menemukan wanita yang akan menemani hidupnya.

Di awal masa pernikahan, Mukin bersikap penuh perhatian. Seraya menjaga kelakuan agar terlihat baik di depan keluarga sang istri, dengan status karyawan tetap, ia sering membelikan makanan dan pakaian. Pokoknya, apa yang diminta istri, pasti dituruti. Widih, cari perhatian nih ye.

“Ya maklumlah, Kang. Namanya juga pengantin baru, hehe,” ungkap Muin.

Seiring berjalannya waktu, sang istri tercinta pun melahirkan anak pertama. Membuat hubungan mereka semakin mesra. Berkat kehadiran sang buah hati, Mukin pun menjadi lebih leluasa tinggal bersama keluarga istri. Ia tak canggung lagi. Meski begitu, nyatanya keadaan harus memaksa Mukin berbesar hati. Wah, memang kenapa, Kang?

“Waktu itu saya baru tahu sikap asli dia, bikin saya serba salah dan pusing, manjanya itu enggak ketulungan,” curhat Mukin. Waduh.

Seperti diceritakan Mukin, awalnya ia memaklumi sikap sang istri yang selalu ingin dimanja. Tapi lama-kelamaan, kesabarannya habis juga. Soalnya, tak boleh berkata kasar apalagi membentak, Nani selalu merasa benar. Tak hanya itu, yang membuat Mukin tak habis pikir, ketika sang istri sakit, ia tak diperbolehkan pergi. Apa mau dikata, terpaksa ia bolos bekerja. Lah, kok gitu amat sih?

“Wah, kalau mau saya ceritain lengkapnya mah banyak Kang. Oiya, dia juga sering tuh ngajak jalan-jalan pas saya kerja, kan pusing, Kang!” tukas Mukin emosi. Trus dituruti, Kang?

“Pernah enggak saya turuti, terus dia ngamuk-ngamuk malamnya. Akhirnya, ya sudah deh saya enggak bisa menolak kalau dia minta jalan,” terangnya.

Lantaran keseringan bolos, apa mau dikata, Mukin dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Seluruh keluarga kaget, heran, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mukin pun menceritakannya, sontaklah mereka kesal. Sejak saat itu, bagai buih di tengah lautan, hidup Mukin jadi tak jelas dan bingung akan apa yang harus dilakukan.

Akhirnya, demi mencukupi kebutuhan hidup, sambil menunggu jawaban lamaran pekerjaan, Mukin berjualan gorengan. Bukannya mendukung suami, Nani malah marah-marah, tak terima suaminya jadi penjual gorengan. Jadilah pertengkaran menghiasi rumah tangga mereka setiap hari. Lantaran tak tahan, Mukin pun menceraikan. Astaga. Sabar ya, Kang!

Semoga dapat istri yang lebih baik lagi dan usaha Kang Mukin terus maju serta sukses selalu. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)