Lalala Festival, Festival Musik di Tengah Hutan. Apa Serunya?

0
419
Lalala Festival di Cikole, Bandung.
Zetizen

LALALA Festival 2k16: The First Forest Festival in Indonesia baru aja diselenggarakan di Hutan Pinus Cikole, Lembang, Bandung, pada Sabtu (5/11). Festival musik garapan The Group itu menjadi yang pertama yang memadukan euforia festival dengan syahdunya suasana alam.

Mulai pemilihan tempat acara hingga dekorasi pun seolah menyatu dengan alam.Misalnya, panggung yang dibangun di tengah pepohonan atau booth yang sengaja dibuat dari tenda. Di tengah area festival sebuah api unggun dinyalakan terus-menerus untuk menghangatkan pengunjung yang nggak terbiasa dengan dinginnya udara Lembang.Karena festival tersebut berlangsung hingga malam, tentunya penerangan juga disiapkan. Lagi-lagi, konsepnya pun dibuat menyatu dengan alam. Iya, pihak panitia menyulap pepohonan di area acara dengan menempelkan lampu di batangnya. Alhasil, pohon yang berpendar warna-warni pun ikut menghiasi meriahnya suasana festival musik itu.

Namun, meski dekorasi dan konsep yang diusung udah begitu fun dan exciting, sayang seribu sayang, semesta berkata lain. Menjelang open gate pukul 12.00 pada hari H, hujan deras mengguyur wilayah Cikole. Meski sempat mereda, guyuran hujan justru makin deras dan baru berhenti sekitar pukul 16.00.

Hasilnya bisa ditebak. Venue LaLaLa Fest 2k16 di tengah hutan pinus itu pun berubah jadi sangat becek. Tanah hutan berubah jadi lumpur tebal yang menutupi seluruh area festival. Padahal, rentang waktu tersebut adalah syarat masuk bagi penonton yang memiliki tiket early access.

Guyuran hujan juga hampir merobohkan setup panggung yang udah terpasang rapi. Efeknya, festival mengalami delay yang cukup lama. Perubahan jadwal pun membuat Isyana Sarasvati yang seharusnya naik panggung sekitar pukul 14.00 batal tampil.

Paduan hujan deras, lumpur, dan jumlah penonton yang membeludak membuat suasana sempat chaos. Di sana sini, pengunjung berebut membeli jas hujan dan sepatu bot. Bagi yang nggak membeli, sepatu mereka pun seketika berubah cokelat. Meski panitia udah berusaha mengantisipasi tanah becek dengan menaburkan jerami, tetap aja lumpur tebal membuat jalan sangat licin dan kotor.

Penonton yang udah tampil stylish pun harus rela sepatunya berlumur lumpur. Namun, euforia penonton perlahan-lahan pulih seiring dengan redanya guyuran hujan. Penampilan MYMP yang diikuti Payung Teduh di future stage sekitar pukul 16.00 jadi yang pertama membangkitkan suasana festival sore tersebut.

Bukan hanya itu, suasana alam yang indah dan crowd yang super-fun juga sukses mengembalikan mood pengunjung. ’’Sebenarnya dari awal kami emang udah lebih cari vibe festival hutannya. Lumayan sih, meski harus main lumpur gini, vibe-nya dapet lah,’’ ungkap Indriyane Vera, salah seorang penonton. Iya, gara-gara crowd yang seru itu, hujan dan becek nggak lagi terasa mengganggu.

Meski begitu, tentu ada juga penonton yang tetap menantikan penampilan para guest star. Misalnya, Tazkia Wigati dan Tamara Herdiani asal Jakarta. Mereka mengaku datang cuma untuk nonton Maliq & D’Essentials dan Kodaline. ’’Iya nih kami pengin banget nonton Maliq sama Kodaline. Tapi, karena hujan tadi, katanya acaranya delay ya? Jadinya masih nunggu mereka tampil,’’ ujar mereka.

Untuk menyiasati keterlambatan jadwal tersebut, pihak penyelenggara me-reschedule jadwal penampilan dengan cepat. Yep, mereka rupanya cukup peka dengan keinginan penonton yang begitu antusias menunggu penampilan pemungkas Kodaline. Alhasil, begitu Kodaline naik ke panggung sekitar pukul 22.00, euforia pun pecah.

Penonton begitu antusias menyaksikan penampilan bintang asal Irlandia tersebut. Bahkan, Kodaline sampai mengabulkan permohonan penonton untuk encore dua lagu. ’’Terima kasih udah menjadi crowd yang begitu luar biasa! Aku berharap bisa main ke Indonesia lagi next time,’’ ujar vokalis Kodaline Steve Garrigan dari atas panggung.

Setelah penampilan Kodaline tersebut, para penonton pun mengaku puas. ’’Begitu tahu Kodaline nggak jadi molor sampai tengah malam, aku senang banget. Soalnya, aku emang udah nunggu penampilan mereka bertahun-tahun,’’ ujar Hilda Soedjito, penonton asal Bandung.

Hal yang sama juga diakui Fadzri Syukmadji asal Jogjakarta. ’’Ya senang banget lihatnya, kami jauh-jauh dari Jogja kehujanan cuma buat nonton Kodaline,’’ ungkapnya, lalu tersenyum.

Well, terlepas dari kurang sempurnanya acara, LaLaLa Festival 2k16 emang sukses jadi festival pertama yang menyajikan pengalaman berbeda dan seru bagi penonton. Bravo!

Lebih Dari Festival

Bagi Generasi Z, festival musik sudah seperti hal wajib untuk dikunjungi dengan berbagai maksud. Berbagai konsep festival juga sudah banyak disajikan, termasuk konsep outdoor. Konsep ini memang punya kelebihan tersendiri, suasana alam terbuka akan menimbulkan kesan berbeda dalam menikmati musik dibanding konsep indoor. Tahu apa alasannya festival musik sudah menjadi hal wajib untuk Generasi Z?

“Menurut saya, festival musik bukan sekadar ajang menikmati musik tapi juga ajang kita untuk eksis, kenal banyak orang baru, bertemu teman-teman dan nyanyi bareng. Bisa juga dibilang hangout tapi dengan suasana beda. Datang ke festival musik juga bisa ketemu langsung dengan penyanyi aslinya dan bisa up to date tentang dunia permusikan,” tutur Nuraini Indah, Gen Z yang duduk di bangku SMAN 1 Kota Serang ini.

Festival outdoor biasanya menunjuk suatu tempat yang memiliki kontur alam yang indah. Seperti perbukitan, pinggir danau, padang rumput, bahkan hutan. Fitur alam inilah yang menjadi daya tarik bagi penonton untuk ikut menghadiri acara-cara festival musik.

Salah satunya adalah Lalala Fest. Sobat Z sudah ada yang tahu tentang Lalala Fest? Atau mungkin kalian salah satu yang menonton acara tersebut? Untuk yang belum tahu, nih kita kasih tahu. Lalala Fest adalah festival musik internasional dengan konsep alam yang diselenggarakan oleh THE Group. Lalala Fest diselenggarakan di hutan Cikole, Lembang, Bandung. Waw, seperti apa ya festival musik di tengah-tengah hutan? Ini pendapat Gen Z mengenai Lalala Festival.

“Asalkan itu festival musik, saya pasti menikmati kok, tapi kalau ada festival musik dengan konsep di hutan terbuka gitu, kayaknya suasana bakal beda banget dan berkesan karena udara yang dingin itu pasti bawa hawa yang berbeda. Selain itu, main guest star-nya dari luar negeri dan artis Indonesia yang hadir juga nggak kalah kece, pasti seru banget. Sayangnya, saya nggak bisa datang karena ada ulangan di sekolah,” curhat Laysa Halifa Asha, Gen Z yang duduk di bangku SMAN 1 Kota Serang itu. (hellen-zetizen/cr22/zee)