Landmark di Simpang Tiga Cilegon Mulai Alami Kerusakan

Tugu baja sebagai landmark Kota Cilegon kondisinya mulai rusak, kemarin. Pemkot pun pada tahun ini sudah mengalokasikan anggaran hampir Rp100 juta untuk memperbaiki ikon kota tersebut.

CILEGON – Sejumlah komponen landmark yang berada di Simpang Tiga Cilegon mulai mengalami kerusakan. Berdasarkan pantauan Radar Banten pada malam hari, konstruksi yang sekira 80 persen terbuat dari baja itu tampak gelap. Warna-warni efek lampu tidak lagi terlihat. Sejumlah tanaman hias yang berada di bagian bawah landmark pun tampak rusak.

Kondisi itu sangat berbeda dengan saat awal-awal berdirinya tugu kota tersebut. Permainan cahaya lampu serta hiasan tanaman membuat ikon yang berdiri di antara Jalan Sudirman dan Jalan Sultan Ageng Tirtayasa itu menjadi magnet bagi warga untuk swafoto.

Kondisi itu pun dibenarkan oleh Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Cilegon Ahmad Azis Setia Ade Putra. Menurutnya, kerusakan itu sudah terjadi sejak dua bulan lalu. Pihaknya pun berjanji akan segera memperbaiki bagian yang rusak.

Dijelaskan Azis, yang paling menonjol, komponen yang mengalami kerusakan adalah pada bagian pencahayaan landmark. Sebelumnya, setiap malam ikon kota yang dibangun sejak 2015 tersebut tampak lebih berwarna setiap malam hari. Namun, sejak beberapa bulan lalu akibat sistem pencahayaan rusak, ikon yang menjadi simbol kota baja itu tampak gelap dan dinilai kurang indah pada malam hari.

Menurut Azis, saat ini pemeliharaan landmark sudah berada di bawah tanggung jawab Dinas Perkim. Anggaran untuk tahun 2018 sebanyak Rp96 juta. Menurutnya, Dinas Perkim akan melakukan perbaikan komponen-komponen yang mengalami rusak itu menggunakan anggaran pemeliharaan yang ada. “Saya rasa anggaran itu cukup sepertinya tidak akan habis semua, kan anggaran itu untuk satu tahun,” ujar Azis.

Selain pada pencahayaan, komponen landmark yang mengalami kerusakan adalah tanaman hias, warna yang mulai memudar, dan jaringan kabel yang kurang teratur. Kemungkinan menurutnya ada komponen lain yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu, Azis mengaku sebelum proses perbaikan dilakukan, sudah meminta kepada pegawai yang bertanggung jawab di bidang itu untuk menyusun rencana anggaran biaya (RAB) perbaikan landmark itu.

Dalam penyusunan RAB, pegawai akan secara perinci melihat komponen apa saja yang perlu diperbaiki atau diganti sehingga landmark itu kembali terlihat indah baik siang atau malam hari. “Kemungkinan RAB selesai dalam waktu dua minggu. Untuk perbaikannya, kemungkinan membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan,” ujar Azis.

Menurut Azis, perlu peran serta bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keindahan landmark. Rencananya, Pemkot Cilegon akan menempatkan sejumlah petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menjaga landmark tersebut dari tangan jahil oknum-oknum tertentu. Petugas Satpol PP tidak hanya akan ditempatkan di landmark, tapi juga di Alun-alun Kota Cilegon dan taman anak. “Cuma kita belum tahu kapan tuh mulai dijaganya,” ujar Azis.

Sementara itu, Kabid Sarana dan Arsitektur Kota Edhi Hendarto menambahkan, pihaknya perlu memeriksa secara detail karena ada sejumlah kabel putus dan penempatan panel. “Karena waktu oleh pihak ketiga kan yang penting nyala dulu saja,” ujar Edhi.

Edhi memperkirakan, biaya yang diperlukan untuk memperbaiki landmark itu tidak besar. Namun, Edhi belum bisa menjelaskan besaran kebutuhan biaya untuk memperbaiki tugu yang ada tidak jauh dari Puspemkot Cilegon itu.

Dijelaskan Edhi, selain memperbaiki atau mengganti komponen yang rusak, Dinas Perkim akan menambah ketinggian teralis yang mengelilingi tower landmark itu. Soalnya berdasarkan laporan, teralis yang ada masih bisa dipanjat oleh oknum seseorang dan menjadikan bagian atas landmark itu sebagai tempat tidur. “Rencana akan kita tutup. Kalau ada yang sudah berkarat akan kita cat lagi, kalau keropos akan kita lakukan pergantian,” ujarnya. (Bayu M/RBG)