Laporan Wartawan Radar Banten di Papua: Wamena Susah Ditembus

Aparat TNI-Polri bersama masyarakat melakukan pembersihan puing-puing akibat kerusuhan di Wamena, Jayawijaya, Papua, Jumat (4/10). FOTO: TNI AD FOR RADAR BANTEN

PAPUA – Aktivitas warga di Wamena, Papua berangsur normal pasca kerusuhan. Namun tim kemanusiaan Pemprov Banten masih sulit menembus untuk masuk secara langsung ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Jika pun bisa masuk ke Wamena, akan kesulitan untuk keluar kembali dari Wamena. Informasi yang Radar Banten himpun, kesulitan untuk masuk ke Wamena lantaran akses transportasi dan kondisi keamanan tim.

Apalagi jarak tempuh antara Wamena dengan Sentani cukup jauh dan memakan waktu. “Kalau naik darat bisa sampai enam hari karena harus melewati beberapa gunung dan banyak jalan terputus batu-batuan besar dan tidak semuanya aspal,” kata aparat keamanan yang enggan disebutkan namanya saat berbincang dengan Radar Banten di Sentani, Jayapura, Jumat (4/10).

Menurutnya, bisa menggunakan jalur udara dengan jarak tempuh sekira 45 menit. Namun, untuk kembali akan sulit karena akses untuk keluar hanya menggunakan pesawat Hercules milik satuan Angkatan Udara (AU). “Itu pun yang diprioritaskan pengungsi perempuan dan anak-anak dengan kapasitas terbatas,” ungkapnya.

Untuk itu, dia menyarankan Tim Kemanusiaan Pemprov Banten siaga di Sentani, Jayapura. Adapun pencarian warga Banten yang ada di Wamena, pihak aparat keamanan akan membantu dan menjemputnya untuk dibawa ke Sentani.

Ketua Tim Kemanusiaan Pemprov Banten E Kusmayadi membenarkan hal tersebut. Untuk mengurangi risiko, pihaknya memutuskan hanya membuka posko di Sentani, Jayapura. “Yang penting warga kita bisa terdeteksi dan dijemput ke Sentani lalu kita pulangkan ke Banten,” katanya.

Kata dia, saat ini sudah ada 29 warga yang terdata dari penyisiran yang dilakukan. Sebanyak 23 orang sudah siap dipulangkan ke Banten pada Minggu (6/10) dan Senin (7/10). Sedangkan enam orang dari dua keluarga memilih bertahan di Papua. “Kemarin kita sudah dapat laporan dua keluarga yang ada di Wamena. Satu orang sudah kita jemput tapi memilih tinggal di rumah keluarganya di Sentani, Jayapura dan satu keluarga memilih bertahan karena bekerja sebagai guru,” katanya.

Meski tidak ikut pulang ke Banten, ucap Kusmayadi, Pemprov memberikan bantuan sebesar Rp5 juta untuk meringankan bebannya pasca kerusuhan di Wamena. “Sudah diterima melalui aparat kemananan dan satu yang sudah kita jemput kita berikan secara langsung,” ujar pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten ini.

Meski kondisi Wamena berangsur normal, aparat gabungan TNI-Polri masih disiagakan di sejumlah titik untuk antisipasi kericuhan susulan. Apalagi masih banyak warga yang mengungsi pasca kerusuhan yang jumlahnya hampir tiga ribuan.

Laporan yang diterima awak Radar Banten, aparat TNI-Polri dan masyarakat setempat juga mulai melakukan kerja bakti di lokasi kebakaran dan perusakan di Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada Jumat (4/10). Giat yang dimulai sejak 09.10 WIT ini melibatkan 250 orang dan dipimpin langsung Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua.           

Kegiatan pembersihan dari puing-puing bekas kebakaran dilaksanakan di sepanjang Wouma sampai Jembatan Wouma. Kemudian, dilanjutkan membersihkan puing-puing kaca yang berada di sekolah-sekolah yang terkena dampak kerusakan. Di antaranya, SMP N 1 Wamena Jalan SD Percobaan Wamena, SMK Yasores Wamena Jalan Sanger sampai SD Percobaan, dan TK Dian Aksari Jalan Ahmad Yani Wamena.

Perbaikan jaringan listrik juga mulai dilakukan petugas PLN sejak Senin (2/10). Hanya saja, perbaikan tetap dikawal ketat aparat gabungan TNI-Polri. Informasinya, saat ini daya mampu sistem kelistrikan di Wamena mencapai 6,5 MW (megawatt) dengan beban puncak 3,379 MW. Sedangkan jaringan listrik di sisi jaringan, PLN baru memulihkan 117 kms (66 persen) serta 86 gardu atau sekitar 60 persen dari total gardu yang ada.

Pada Senin (2/10) Panglima Daerah Militer XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal Herman Asaribab juga sudah mengunjungi Wamena untuk meninjau langsung, sekaligus meredam hoax di tengah masyarakat yang bisa memicu gejolak lanjutan. Ia datang bersama para ketua komunitas suku Nusantara.

Dalam kunjungannya Herman mengajak agar masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi peristiwa dan berita bohong atau hoax yang terjadi di Papua. Herman menjelaskan, kunjungannya juga sekalian dilakukan untuk mengendalikan situasi keamanan di Papua agar kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan baik.

Ia meminta kepada masyarakat bisa mempercayakan kasus yang dihadapi Papua kepada pemerintah. “Mengenai masalah evakuasi agar Bapak/Ibu percayakan kepada aparat karena penerbangan tersebut ada aturannya dan yang tahu muatan pesawat tersebut adalah aparat penerbangan,” kata putra asli Papua itu. (ken/air/ags)