Lebak jadi Daerah Penyerapan Raskin Tertinggi Se-DKI dan Banten

Raskin
Bupati Iti Octavia Jayabaya menyalami Camat Cikulur Sihabudin di aula Multatuli Setda Lebak, Selasa (23/2/2016). Kecamatan Cikulur masuk sepuluh besar terbaik penyaluran raskin tahun 2015. (Foto: Nurabidin Ence)

RANGKSBITUNG – Kabupaten Lebak menjadi daerah dengan serapan beras untuk rakyat miskin (raskin) tahun 2015 tertinggi se-DKI Jakarta dan Banten. Pagu raskin sebanyak 21.246.480 kilogram untuk untuk 118.036 RTS (rumah tangga sasaran), terserap 100 persen dan tanpa tunggakan.

Alhamdulillah, serapan raskin di Lebak tahun 2015 lancar, terserap 100 persen. Begitu juga dengan tunggakan raskin, kosong alias nihil. Kami juga dapat penghargaan serapan raskin tertinggi se-DKI-Banten,” tegas Asisten Daerah (Asda) Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Lebak Budi Santoso usai sosialisasi penyaluran beras bersubsidi bagi masyarakat berpendapatan rendah di Kabupaten Lebak tahun 2016 di aula Multatuli Setda Lebak, Selasa (23/2/2016) seperti dilansir Harian Radar Banten.

Sosialisasi dihadiri Bupati Iti Octavia Jayabaya, Wakil Bupati Ade Sumardi, Sekda Lebak Dede Jaelani, Asda II Budi Santoso, para kepala SKPD, Kepala Bulog Sub Divre Lebak Lukmansyah, Kajari Rangkasbitung Rini Hartati, Dandim 0603 Lebak Letnan Kolonel (Letkol) Czi Ubaidilah, dan ratusan kepala desa.

Tahun ini, pagu raskin untuk Kabupaten Lebak tidak berubah dari tahun 2015, tetap 21.246.480 kilogram. Untuk menyalurkannya, jelas Budi, Pemkab Lebak telah mengalokasikan anggaran transportasi sampai ke desa sebesar Rp2,9 miliar atau Rp133 per kilogram raskin. Bantuan ini belum cukup sehingga harus ada partisipasi dari masyarakat.

“Harga pagu raskin tetap Rp1.600 per kilogram sampai ke titik distribusi (desa-red). Kalau sampai ke RT/RW, harus ada biaya partisipasi dari masyarakat melalui musyawarah. Ya, sampai penerima sebesar Rp1.900 per kilogram,” kata Budi.

Soal pelunasan raskin, Bupati Iti meminta Bulog Sub Divre Lebak bekerja sama dengan Bank BRI yang memiliki jaringan hingga pelosok daerah. Soalnya, setoran pelunasan raskin melalui rekening Bank Bukopin cukup menyulitkan. Bank ini tidak ada di Kabupaten Lebak.

“Sejak saya bersama Pak Ade menjabat Bupati dan Wakil Bupati, saya telah meminta agar Bulog bekerja sama dengan perbankan. Selama ini, setoran raskin melalui Bukopin. Jangankan di tiap kecamatan, di pusat pemerintahan Kabupaten Lebak saja tidak ada Bukopin. Ini tentu sedikit menyulitkan,” tegas Iti.

Iti berharap, kerja sama antara Bulog Sub Divre Lebak dengan BRI terealisasi, apalagi Lukmansyah pernah bekerja di BRI. “Kalau pembayarannya bisa lebih dekat, saya yakin setorannya akan lebih lancar. Kalau setor ke Bukopin yang ada di Cilegon, selain butuh transpor yang besar, biasanya (kades-red) menunggu setoran kumpul dulu. Kalau sudah begitu, (uang raskin-red) kepake sedikit demi sedikit,” ucapnya.

Bupati menjelaskan, dengan pagu raskin yang sama dengan tahun 2015, dengan harga raskin Rp1.600 per kilogram, ada subsidi dari pemerintah sekira Rp121 miliar. Harga raskin itu setara dengan harga beras medium Rp7.300 per kilogram.

“Ini cukup besar dan harus dimanfaatkan. Saya tidak ingin mendengar ada penyelewengan dalam program raskin ini,” tandas Iti mewanti.

Dia mengapresiasi serapan raskin tahun 2015 yang mencapai 100 persen dan nol tunggakan. “Saya berharap bukan hanya serapan raskinnya saja mencapai 100 persen, tapi tunggakan utang berjalannya juga kosong seperti tahun 2015. Kepala desa juga tidak ada yang berurusan dengan aparat penegak hukum karena menyelewengkan raskin,” ujar Iti. (RB/nce/don/dwi)