Lebih Berwarna dengan Kopi Nusantara

International Coffee Organization mencatat, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar sekaligus eksportir kopi terbesar keempat di dunia untuk musim tanam tahun lalu. Itu terbukti dari banyaknya hasil olah tangan para peracik kopi dari masing-masing daerah di Indonesia yang bisa merawat biji kopi terbaik yang tumbuh di tanah yang kaya ini.

Memang tak bisa dimungkiri, kopi dari luar negeri pun masih tetap digandrungi beberapa penikmat kopi Indonesia. Seperti halnya di Taman Kopi Serang yang menyediakan berbagai varian kopi nusantara dari Aceh Gayo, Toraja Sapan, Bali Kintamani, Flores Bajawa, Java Barat, Java Andung Sari, dan Sidikalang. Namun, kopi espresso masih menjadi pilihan bagi beberapa orang.

Pugy Gautama, sang owner bilang, untuk Kota Serang, para penikmat kopinya masih dibilang mayoritas adalah penikmat kopi gelombang kesatu. “Artinya, mereka hanya meminum kopi, tidak begitu ingin tahu dari mana kopinya, bagaimana cara pembuatannya, dan sebagainya,” terangnya.

Dari situ dirasa perlunya membuka paradigma baru kalau kopi nusantara mempunyai cita rasa berbeda di setiap tegukannya. “Mereka mulai suka dengan kopi-kopi nusantara yang kini mulai terdengar familiar seperti Gayo dan Toraja. Brand itu lebih dikenal banyak orang. Terhitung enam bulan terakhir, mereka mulai meranjak menjadi penikmat kopi gelombang kedua,” jelas lelaki yang tinggal di Taman Lopang Indah itu.

Tentu, kopi yang ada di kedai di Jalan Raya Serang-Cilegon Km 4 seberang Perumahan Serang City itu melalui proses racik dan perbandingan yang matang, tidak langsung instan. “Kopi saset pastinya enggak pure 100 persen kopi, ada campurannya. Kopi itu sebetulnya pahit, mau diolah bagaimanapun pasti tetap ada pahitnya,” ujarnya.

Pugy bilang, semua peminum kopi yang benar-benar menikmati kopi pasti bakal berpikir untuk membuat kedai kopi atau semacamnya. “Kalau memang individu tersebut sudah memiliki passion dengan kopi, pasti enggak akan capek untuk eksploresi lebih jauh,” jelas penikmat kopi sejak Februari 2016 itu.

Pugy berpesan, untuk bisa menikmati kopi yang sempurna, jangan terlalu men-judge soal harga karena penentuan harga dari sebuah kopi itu diperhitungkan dari berbagai parameter. “Jadi kalau mau ngopi itu ke kedai kopi yang sebenarnya. Lebih sehat dan enggak akan rugi,” tukasnya.

Disadari atau tidak, tren kopi nusantara saat ini seolah menjamur termasuk di Kota Serang. Berbagai kafe dan kedai bermunculan dengan kopi nusantara sebagai menu andalan. Motifnya beragam, ada yang mengikuti pasar tren kopi atau bahkan karena kecintaan terhadap kopi.

Salah satunya, Ahmad Fajar Sidki, owner Kopi 133 di Kaloran Brimob, Kota Serang. Ia mengatakan, mendirikan kedai kopi bukan karena mengikuti tren kopi yang menjamur, tapi karena kecintaan terhadap kopi itu sendiri. “Terinspirasi punya kedai kopi sendiri itu sejak masa kuliah, berawal dari senang minum kopi saat nongkrong. Kopi sudah dianggap sebagai teman pelengkap saat mengobrol dan diskusi,” katanya.

Tidak sekadar kopi, kedai itu juga menjajakan berbagai kopi nusantara. “Kopi yang kami sediakan di sini kopi nusantara yang sudah dikenal sama banyak orang, misalnya Gayo, Toraja, dan kopi lainnya. Selain itu, kami juga punya kopi khas Kopi 113. Komposisinya 70 persen arabika dan 30 persen robusta. Meski orang lupa namanya, tapi dia akan tetap ingat sama rasanya,” terang Fajar, lulusan Universitas Padjajaran 2014 itu.

Meski menjajakan kopi nusantara, tetapi harganya sangat terjangkau, berkisar dari Rp10 ribu sampai Rp17 ribu. Selain kopi, kedai yang dirintis mulai 2015 itu juga menyediakan beragam camilan, seperti kentang, cireng, dan menu lainnya.

Selain Kopi 113, juga ada Padepokan Kupi. Kedai kopi yang berada di jalan Jayadiningrat 48, Lontar Baru, Kota serang itu hadir sebagai wujud kecintaan Alit Prakarsa, sang owner terhadap kopi.

“Berawal dari hobi minum kopi. Karena banyak teman yang suka ngopi di berbagai daerah, akhirnya saya dan teman bikin gerakan barter kopi. Misalnya di Banten ada kopi kupu-kupu, saya barter dengan kopi dari teman di Kalimantan dan Surabaya, dimulai sejak 2010. Tapi sebelumnya juga sudah mulai ngopi lama banget,” katanya mulai bercerita.

“Berlanjut ke komunitas relawan Banten yang bergerak di aktivitas sosial. Dari ngopi itu kita bikin gerakan dan diskusi sambil ngopi berjamaah, responsnya juga banyak mulai dari teman-teman SMA, teman kuliah, guru, dan dosen. Akhirnya kalau di rumah, kurang optimal. Lalu, saya dan kakak saya bikinlah Padepokan Kupi. Intinya, bukan sekadar jualan kopi, tapi padepokan ini menjadi wadah belajar bersama, mulai dari diskusi, pementasan teater, bedah film, dan aktivitas literasi. Kita bisa beraktivitas sambil belajar meraih ilmu,” sambung Alit.

Nama ‘Padepokan’ sengaja digunakan karena fungsinya sebagai tempat belajar, mulai dari belajar silat, agama, sosial, dan musyawarah pada zaman dulu. Dikonsep dengan gaya kekunoan dalam kekinian, kedai kopi yang mulai dirintis 2010 di rumah kecil sang owner itu memiliki menu kopi lengkap nusantara dari Aceh hingga Papua.

“Konsep kekunoan ini menjadi alternatif bagi generasi muda pecinta kopi yang bosan dengan gemerlap kekinian. Kami menyediakan kopi dari nusantara mulai dari Aceh, Sidikalang, Jambi, Lampung, Bali, Flores, Toraja, Papua, dan daerah lain di nusantara. Kopi yang disajikan berasal dari biji kopi langsung, bukan bubuk, dan diolah dengan cara manual. Kalau dari biji, kita bisa mendapat kesegaran aroma kopi. Pelanggan juga dipersilakan memilih sendiri kopi apa yang akan dinikmati,” terang Alit, yang juga merupakan dosen di Fakultas Hukum Untirta itu.

Meski menawarkan kesegaran aroma kopi khas nusantara, segelas kopi yang dijajakan di Padepokan Kupi itu bisa dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau, berkisar dari Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Tidak hanya sekadar menikmati pahitnya kopi, tapi kita bisa menikmati aroma dari biji kopi, aroma kopi baru digiling, aroma kopi baru diseduh, serta aroma khas nusantara dari kopi itu sendiri.

Fenomena menjamurnya kedai kopi saat ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para owner kedai kopi. Di satu sisi, ada penghargaan tersendiri bagi mereka karena ingin belajar mencintai kopi nusantara. Tapi di sisi lain, para owner kopi itu juga harus mampu bertahan, dengan dinamika penikmat kopi. Sehingga harus didasari tidak hanya sekadar mengikuti tren, tapi harus dari hati. (Anwar-Wivy-Zetizen/RBG)