Lewat Surat, Siti Aisyah Minta Keluarga Tenang dan Yakin Bebas

0
836 views
KELUARGA AISYAH: Orangtua Aisyah, Asriya dan Jubaedah, menceritakan perasaannya kepada Radar Banten di kediamannya, Sabtu (29/7). FOTO: ROZAK/RADAR BANTEN

TERDAKWA kasus pembunuhan King Jong-nam, Siti Aisyah, mencoba menenangkan keluarganya di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. Aisyah yang ditahan di Malaysia itu menulis surat khusus kepada keluarganya agar tidak perlu risau.

Pada Sabtu (29/7), Radar Banten mengunjungi kediaman orangtua Aisyah di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran. Pintu rumah terbuka lebar, namun tidak ada awak media yang bisa datang meliput keluarga itu. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, keluarga Aisyah cenderung mengurungkan diri. Pintu rumah tertutup rapat dan banyak awak media yang menunggu keluarga Aisyah untuk keluar rumah.

Dengan diantar oleh salah satu warga setempat, Radar Banten berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan kedua orangtua Aisyah, Asriya dan Jubaedah. Jubaedah mengaku menerima surat tertulis dari anaknya yang dikirimkan melalui staf Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dua bulan lalu. Sayang, Jubaedah sudah tidak lagi menyimpan selembaran surat dari anaknya itu. Ia pun ingat persis, tanggal berapa surat itu diterima. “Waktu itu datang dari Jakarta (Staf Kemenlu-red) malam-malam ke sini, nganterin surat dari Aisyah,” kata Jubaedah.

Meskipun sudah tidak menyimpan suratnya, Jubaedah masih ingat betul isi dari surat yang disampaikan anaknya itu. Dalam surat itu, Aisyah meminta doa kepada keluarganya untuk proses hukum yang dijalani di Malaysia. Aisyah juga mencoba menenangkan keluarganya agar tidak banyak memikirkan tentang dirinya. “Katanya, Aisyah sebentar lagi mau dikeluarin dari penjara,” kata Jubaedah menuturkan isi surat dari Aisyah.

Kemudian, lanjut Jubaedah, Aisyah juga memberitahukan kondisi dirinya dalam mengikuti proses hukum di Malaysia. “Aisyah sudah banyak yang membela, sudah banyak yang mengurus, di sini sehat-sehat saja. Ibu berdoa saja di rumah. Begitu katanya,” tutur Jubaedah memaparkan isi surat dari Aisyah.

Mendengar kabar itu, Jubaedah mengaku lebih tenang dari sebelumnya. Rasa rindu Jubaedah untuk bertemu dengan anaknya terobati oleh pesan yang disampaikan Aisyah melalui surat. “Kalau Aisyah sudah pulang, di rumah saja. Enggak boleh ke luar-luar lagi,” ujarnya.

Saat berbincang dengan Radar Banten, Jubaedah didampingi suaminya, Asriya. Hingga kini, Asriya masih yakin jika anaknya tidak bersalah dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam di Malaysia. Ia yakin anaknya akan dibebaskan dari jeratan hukum. “Saya yakin, anak saya pasti pulang,” kata Asriya.

Meskipun tidak bisa langsung berkomunikasi dengan Aisyah, Asriya mengaku terus mendapatkan informasi terkait perkembangan kasus anaknya. Informasi itu diterima pihak keluarga dari Kemenlu melalui telepon seluler. “Kemarin juga pas mau sidang, dari Kemenlu ngasih tau,” terangnya.

Hingga kini, Asriya terus meminta doa dari tetangga-tetangganya. Di beberapa kesempatan, warga Desa Sindangsari turut melakukan doa bersama untuk penyelesaian kasus Aisyah. “Kalau punya uang, saya undang warga tahlilan di rumah. Setiap Jumatan juga saya minta jamaah buat doain Aisyah,” tutur Asriya.

Asriya mengaku sudah menyerahkan sepenuhnya proses hukum kasus anaknya kepada penegak hukum. Saat ini, keluarga Aisyah sedang menunggu panggilan dari kuasa hukum di Malaysia. “Kalau ada panggilan, kami berangkat. Kan Bupati (Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah-red) sudah menjamin kalau mau berangkat,” ucapnya.

Aisyah (25) kembali menjalani sidang pada Jumat (28/7). Kali ini, sidang berlangsung di Pengadilan Tinggi Shah Alam. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, pada sidang yang berlangsung selama 20 menit itu, jaksa penuntut umum (JPU) menyampaikan salinan alat-alat bukti kepada tim pengacara. (Rozak/RBG)