Ilustrasi.

Praktik prostitusi online di kota-kota besar di Indonesia mungkin tidak asing lagi. Kini banyak wanita penjaja seks komersial yang menawarkan dirinya tak lagi ‘stay’ di tempat-tempat hiburan, kini cukup memanfaatkan aplikasi media sosial.

Di aplikasi jejaring sosial seperti WeChat, MiChat, dengan mudah menemukan wanita penjaja seks ini. Untuk mengetahui mereka menjual diri, dapat dilihat dari status di akun. Biasanya tertulis BO alias booking order, Open BO, Stay BO, dan lainnya.

Di Kota Serang, hal itu juga dapat ditemui. Mayoritas wanita yang membuka BO ini memasang tarif kisaran Rp800 ribu sampai Rp1 juta untuk short time (ST) dengan waktu tiga jam. Atau untuk long time (LT) Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per enam jam.

Cara menjaring konsumen pria hidung belang beragam. Ada yang langsung menjajakan diri dan melakukan pembayaran via transfer rekening pribadi atau melalui mucikari yang mereka sebut agency.

Jika secara personal, proses booking tidak terlalu ribet. Tapi perlu berhati-hati, salah-salah akun tersebut palsu dan hanya menipu konsumen untuk mentransfer down payment (DP).

Beberapa wanita BO yang beroperasi melalui jasa agency terbilang lebih rapi. Terutama dari pola transaksi. Ini lantaran, mucikari bekerja sama dengan pihak hotel. Sistem pembayaran dan booking kamar hotel sudah ditentukan. Setelah melalui kesepakatan dan mentransfer uang muka melalui jasa penyedia, barulah konsumen bisa menemui ladies yang dijajakan di kamar hotel.

“Iya Mas, kalau mau booking aku lewat LC (lady companion/agency) aku ya. Nanti bos yang atur,” ujar salah seorang wanita BO, sebut saja Okta kepada Radar Banten di salah satu hotel di Kota Serang, akhir pekan lalu. Untuk satu jam, Okta memasang tarif ST Rp1 juta untuk tiga jam dan LT Rp2,5 juta.

Secara face, Okta memang terbilang cantik. Dengan tubuh semampai dan wajah yang terlihat Indo. Wanita 22 tahun ini, mengaku sudah menjalankan praktik prostitusi online hampir dua tahun. Itu dimulai ketika ramai menjamur media sosial. Okta mengaku masih lajang dan belum pernah menikah. Wanita asal Jakarta ini mengaku menjalankan aksi prostitusi online karena di ibukota negara sudah banyak persaingan.

“Kalau di sana udah banyak ya. Jadi coba-coba stay di sini,” ujarnya sembari mengisap rokok mentholnya yang sudah setengah batang.

Faktor kebutuhan dan gaya hidup yang memaksa dirinya untuk menjadi wanita bookingan. Karena lingkungan pergaulan di sekitarnya yang memengaruhi. “Zaman sekarang kita kalau enggak ikuti perkembangan dibilang ketinggalan. Kan mau beli apa-apa pakai uang,” akunya.

Jika Okta punya alasan untuk memenuhi gaya hidup lantaran pengaruh pergaulan, berbeda dengan Lia. Wanita 26 tahun ini mengaku menjajakan diri lewat online lantaran terdesak kebutuhan sebagai single parent. Lia tidak menggunakan jasa mucikari dalam menjaring pria hidung belang.

Hanya berbekal foto-foto seksi yang kerap diunggah di akun medsosnya, ia cukup banyak mendapat bookingan. “Selama buka akun BO sih ada aja yang booking. Cuma aku enggak cuma di sini (Cilegon-Serang) aja, tapi juga di Jakarta,” ujar wanita satu anak ini saat ditemui di salah satu resto di kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS), Kota Cilegon, Kamis (7/2).

Lia mengaku di Jakarta menekuni profesi yang sama, menjajakan diri melalui akun medsos. Meski baru hampir setahun ia menjadi wanita BO, tapi terbersit di hati Lia untuk bisa mengakhiri profesinya ini. “Kalau ada pekerjaan yang lebih baik sih aku mau berhenti. Karena anak aku juga kan cewek, takutnya apa yang aku lakuin terjadi sama anakku,” ucapnya mengakhirnya obrolan.

Kisah lainnya diceritakan wanita berusia 23 tahun. Sebut saj a Irma. “Kita ngobrol-ngobrol aja dulu kan,” kata Irma setelah mengenalkan diri di sebuah kafe di Kelapa Dua, Kota Serang, Minggu (10/2).

Berkulit kuning langsat ditambah wajah cantik menambah kesan menarik. Mahasiswi perguruan tinggi (PT) swasta di Kota Serang ini mengaku menjalani bisnis prostitusi sejak duduk di kelas IX SMA. Tetapi, tidak semua pria hidung belang bisa ia layani. “Saya pemilih. Kalau enggak suka, tinggal bilang lagi PMS (premenstrual syndrome),” kata Irma.

Faktor kebutuhan dan gaya hidup memaksa dirinya menjalani bisnis haram ini. Berawal dari ajakan teman-teman sekolahnya sekadar menemani para lelaki hidung belang makan atau karaoke. “Biasanya dijajanin dulu,” kata Irma.

Selain dibelikan baju, tas atau sepatu, tak jarang Irma diberikan sejumlah uang oleh klien. Irma juga cukup pintar. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tak langsung mengiyakan ajakan kliennya. “Biasanya kalau udah jalan empat sampai lima kali, baru deh mau (berhubungan intim-red),” jelas Irma.

Agar tidak tercium, Irma harus jeli mengatur waktu antara jadwal sekolah dan agenda melayani tamu. “Pokoknya sampai sore aja. Malam enggak bisa. Pasti dicariin mamah,” ungkapnya.

Selain hanya melayani hingga sore hari, Irma hanya melayani tamunya di luar kota. Alasannya sederhana. Ia khawatir ada yang mengenalinya. “Biasa di Cilegon. Kalau di Serang takut ketahuan,” ucap Irma.

Saat berstatus siswi, Irma mengaku tak memasang tarif khusus. Sebab, dia enggan menggunakan jasa mucikari. “Saya enggak mau. Sempat ada yang nawarin,” kata Irma.

Dunia prostitusi ini terus dijalani Irma hingga kini. Selain pelanggan baru, klien lamanya terkadang masih menghubungi. Kali ini, dia hanya melayani kencan kilat. Irma mematok tarif Rp1 juta hingga Rp2,5 juta.

“Sekarang mah, ya langsung aja. Apalagi sekarang butuh duit banyak,” tutur Irma.

Irma berharap dapat berhenti dari dunia prostitusi. Apalagi, saat ini dia sedang menjalani hubungan serius dengan seorang lelaki. “Penginnya kerja di perusahaan. Kayaknya enak,” tutup Irma. (Merwanda/Aditya)