Lima Kecamatan di Pandeglang Rawan Longsor

Foto: Facebook Mat Samyong, warga Kabupaten Lebak/ ILUSTRASI

PANDEGLANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang mencatat ada lima daerah rawan longsor. Kelima daerah itu berada di Kecamatan Cadasari, Mandalawangi, Pulosari, Panimbang, dan Kecamatan Angsana.

Penyebabnya, karena tanah di kawasan tersebut labil, sehingga menyebabkan mudah terjadi longsor.

Kepala Seksi (Kasi) Damkar Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Pandeglang Endan Permana mengatakan, kelima daerah yang rawan longsor tersebut berada di jalur wisata.

“Daerah pertama yang rawan longsor ada di jalan AMD yaitu di jalur Lebak Seureruh karena ada penggalian, tahun kemarin juga ada longsor, kemudian di Mandalawangi di tanjakan Bangangah, kita khawatir di sana terjadi longsor, kemudian di daerah yang ke arah Panimbang dan Angsana juga sama, dan yang terakhir di Kecamatan Pulosari, daerah itu yang sering terjadi longsor di sana,” katanya di kantor BPBD Kabupaten Pandeglang, Rabu (14/8).

Endan mengaku, untuk mengantisipasi terjadinya longsor di lima daerah tersebut, instansinya telah memberikan imbauan dan menempatkan petugas untuk berjaga, khususnya di Kecamatan Pulosari, karena daerah tersebut yang paling rawan terjadi longsor.

“Kita sudah memberi imbauan bagi para pendaki gunung untuk hati-hati. Sedangkan untuk yang di jalur wisata, kita selalu melakukan pemantauan terhadap lokasi itu, kalau misalkan ada tanda-tanda akan longsor, kita akan segera bertindak,” katanya.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Pandeglang Yosep Mardini mengatakan, selain menempatkan petugas, instansinya juga telah membentuk 339 relawan untuk memantau kondisi 326 desa dan 13 kelurahan. Apabila terjadi bencana, lanjutnya, para relawan tersebut langsung bergerak dan memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat.

“Tindakan antisipasi dan penanganan pertama ketika terjadi bencana sudah kita lakukan. Keinginan kita jangan sampai terjadi bencana, kalaupun terjadi, tim kita sudah siap untuk melakukan penanganan,” katanya.

Yosep menerangkan, selain bertugas memberikan penanganan pertama saat bencana, para relawan juga harus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tindakan pencegahan bencana agar bisa mencegah korban jiwa.

“Para relawan ini harus bisa menyampaikan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan ketika bencana terjadi. Sasaran utama kita adalah memberikan pemahaman mengenai penanganan bencana kepada masyarakat,” katanya. (dib/zis)