Lima Pengoplos Miras Ditangkap Satreskrim Polres Cilegon

Wakapolres Cilegon Kompol Fredya Triharbakti (ketiga kiri) dan jajarannya memperlihatkan barang bukti miras oplosan dan para tersangka, di Mapolres Cilegon, Kamis (8/11).

CILEGON – Lima orang tersangka pengoplos minuman keras (miras) impor palsu diamankan Satreskrim Polres Cilegon di Jalan Lingkar Selatan (JLS) Cilegon, tepatnya di Lingkungan Glereng, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, Jumat (2/11) malam. Selain mengamankan para tersangka, turut disita ratusan miras impor palsu hasil oplosan yang siap edar serta barang-barang yang digunakan untuk membuat miras palsu.

Wakapolres Cilegon Kompol Fredya Triharbakti mengatakan, pengungkapan kasus pembuatan miras palsu berdasarkan laporan masyarakat. Terdapat sebuah rumah yang dijadikan tempat pembuatan miras impor palsu seperti Martell, Chivas Regal, Jack Daniels.

“Hampir sebulan anggota kami melakukan penyelidikan, dan ternyata benar. Anggota kami mendapati sebuah kos-kosan yang dijadikan tempat pembuatan miras oplosan. Saat penggrebekan, petugas menemukan penghuni di dalam kos-kosan sedang meracik minuman palsu,” kata Fredya kepada awak media, Kamis (8/11).

Fredya menambahkan, saat dilakukan pemeriksaan para tersangka mengaku mendapatkan keuntungan yang sangat menggiurkan. Apalagi, miras diedarkan di sejumlah tempat hiburan malam yang berada Cilegon dan Serang.

“Modus pelaku adalah melakukan peracikan bahan-bahan tertentu antara lain alkohol murni yang biasa digunakan untuk medis, Autan (lotion anti-nyamuk), sirup, dan minuman ringan. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam botol bekas miras dan selanjutnya diedarkan ke tempat hiburan malam di Cilegon dan Serang,” jelasnya.

Pasca penangkapan lima orang tersangka yang terdiri dari seorang pemilik, dua orang pengedar, dan dua orang peracik miras palsu, polisi melakukan pengembangan di sejumlah tempat hiburan malam yang menjadi sasaran penjualan minuman palsu.

“Kita langsung melakukan razia di tempat hiburan yang biasa menerima barang (miras) dari tersangka. Modus penjulan yang dilakukan tersangka tidak langsung dijual kepada pengunjung hiburan malam melainkan bedasarkan pesanan, jadi antara tersangka dan pemesan yang merupakan pegawai hiburan malam sudah saling kenal,” paparnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kelima tersangka dijerat Pasal 62 Ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf A UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, dan atau Pasal 88 Ayat (1) UU RI Nomor 18 tahun 2012 Tentang Pangan dan atau Pasal 106 Jo Pasal 24 Ayat (1) UU RI No 07 Tahun 2014 Tentang Perdagangan. “Dengan ancaman hukuman lima tahun penjara,” tegas Fredya.

Sementara itu, salah seorang tersangka BY mengungkapkan, dalam satu hari mereka bisa mengahasilkan sekitar puluhan botol miras palsu. BY bisa mendapatkan keuntungan ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Untuk mengelabui para pelanggan, BY menggunakan gulungan plastik untuk pengemasan tutup botol minuman agar terlihat rapi dan tidak mencurigakan. “Untungnya bisa dapat Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Tergantung ramai apa sepinya. Kalau saya jual ke pengedarnya Rp60 ribu per botol,” jelasnya.

Sedangkan ER yang merupakan pengedar mengatakan bahwa ia menjual minuman palsu bedasarkan pesanan dari pekerja di beberapa tempat hiburan malam di Cilegon dan Serang. “Salah satu pelanggan saya adalah oknum karyawan Lounge Modern (LM). Saya kenal sama orang dalam di LM, saya antar sesuai pesanan dan kebutuhan. Per botol harganya Rp100 ribu hingga Rp150. Mereka tahu kalau ini minuman oplosan, tapi mereka tetap membeli,” tuturnya. (Andre AP/RBG)