Ilustrasi.

Kisah rumah tangga Ijem (32) nama samaran, sungguh memilukan. Setelah lima tahun menjanda pasca ditinggal cerai suami, Ijem kembali merasakan pahitnya dikhianati laki-laki. Ijem dijadikan bahan ‘icip-icip’ perjaka muda yang meminangnya setelah menjalin asmara cukup singkat. Alamak.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Petir, siang itu Ijem terlihat begitu percaya diri meski hanya mengenakan pakaian serbaminim dengan rambut basah dan lepek sehabis mandi. Dengan tersipu malu-malu, Ijem bercerita panjang lebar soal masa lalunya yang kelam soal hubungan asmara. Penasaran dengan kisah Ijem? Simak tuk ceritanya.

Awalnya Ijem yang berstatus janda anak satu merasakan indahnya cinta bersama seorang bujangan yang usianya lebih muda, sebut saja Edoy (30). Perjumpaan Ijem dengan Edoy bermula saat keduanya menikmati hiburan dangdut di pernikahan teman Ijem. Malam itu Ijem sedikit berpakaian seronok yang cukup memanjakan mata para lelaki hidung belang. Asoy deh pokoknya. Pemandangan itu pula yang menarik perhatian Edoy. Bak kucing melihat ikan langsung diterkam, Edoy menghampiri Ijem dan langsung mengajak berkenalan. Merasa ada kecocokan, keduanya saling bertukar nomor ponsel. Mengetahui status Ijem seorang janda anak satu tak mengendurkan semangat Edoy untuk meluluhkan hati Ijem.     

Baru sepekan menjalin hubungan, Edoy bahkan berani mendatangi rumah Ijem untuk menemui anak dan keluarga sang pujaan hatinya itu. Kedatangan Edoy tentu saja disambut Ijem yang rindu belaian laki-laki.

“Soalnya lama banget saya hidup sendiri. Pas ada Kang Edoy, hidup saya serasa muda lagi,” ucap Ijem mesem-mesem.

Penilaian Ijem, Edoy bukanlah lelaki tampan seperti aktor India Shahruk Khan, tetapi termasuk lelaki baik dan menarik. Penampilan juga menjanjikan ditambah statusnya yang masih perjaka tingting membuat Ijem semakin kesemsem. Ijem juga terkesima sifat Edoy yang dinilainya cukup dewasa dan perhatian. “Dia orangnya kalem, sopan, bahkan ke anak saya cepat akrab,” kenang Ijem.

Meski janda, Ijem tak kalah menggoda. Wajah Ijem cukup rupawan, lekukan tubuhnya juga bak gitar spanyol, kulitnya juga putih dan mulus sehingga bukan perkara sulit bagi Ijem bisa membutakan laki-laki mana pun untuk dijadikan pendamping. “Banyak yang naksir dulu walaupun saya janda. Tapi kebanyakan statusnya masih suami orang,” akunya. Yaelah, sudah pasti itu mah Mbak, suami orang kan nyarinya janda. “Saya enggak mau merusak rumah tangga orang, takut karma,” imbuhnya.

Setahun Ijem menjalani masa pacaran dengan Edoy. Omongan miring tetangga pun tak dihiraukan karena kebiasaan mereka pacaran di depan rumah setiap malam Minggu. Dianggap tetangga, keduanya sudah berbuat maksiat. “Padahal kita enggak ngapa-ngapain, cuma pegang-pegangan doang,” kata Ijem. Eaaaa, sama kali Mbak.

Singkat cerita, Edoy yang saat itu belum bekerja nekat melamar Ijem dengan modal seadanya. Meski begitu, Ijem yang ngebet ingin dinikahi menerima lamaran Edoy. Sebulan setelah lamaran, mereka melangsungkan pernikahan secara sederhana, tanpa pesta pernikahan, hanya ada penghulu dan keluarga dari kedua mempelai. “Ya waktu itu cuma makan-makan bareng saudara saja. Mau dirayain juga enggak ada dana,” curhat Ijem. Yang penting halal Mbak.

Awal pernikahan, Ijem dan Edoy bahagia meski harus tinggal bersama keluarga Ijem di kawasan Kecamatan Waringinkurung. Bahtera rumah tangga mereka di awal-awal cukup harmonis dan romantis. Mulai dari sarapan bareng, siang makan bareng, malamnya sudah pasti tidur bareng sampai bangun siang setiap hari. “Soalnya kalau udah berhubungan intim sama Mas Edoy saya suka minta nambah, Mas Edoy juga perkasa,” umbar Ijem. Kaya nasi padang Mbak minta nambah.

Selama berumaha tangga, keduanya tak memikirkan punya keturunan. Mereka hanya menikmati masa-masa indahnya pernikahan. “Kita sih santai saja, urusan anak biar Tuhan yang atur,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, Edoy mulai mencari kerja di wilayah Cilegon. Karena hanya berlatar belakang lulusan SMP, Edoy kesulitan mencari pekerjaan. Tiga pekan kemudian, Edoy mendapat penawaran kerja di Jakarta. Dengan berat hati, Ijem melepaskan kepergian Edoy yang hendak mencari nafkah keluarga. Sejak kepergian Edoy yang mencari peruntungan di Ibukota, Ijem merasa menjadi janda kembali. Janji Edoy yang akan mengabari Ijem setelah bekerja tak kunjung datang.

Lima bulan kemudian, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Edoy pulang dan memberi uang hasilnya bekerja kepada Ijem. Sayangnya, semenjak pulang dari Jakarta sikap Edoy berubah, cuek dan banyak diam. Ujung-ujungnya Edoy berpamitan kepada Ijem. “Waktu itu dia cuma kasih uang dua juta, habis itu pergi lagi dan enggak ada kabar,” sesalnya.

Sejak itu, batang hidung Edoy tak pernah muncul lagi sehingga Ijem menganggap hubungannya dengan Edoy sudah berakhir. “Entah ke mana Mas Edoy, hilang gitu aja. Saya cuma diicip-icip doang. Ya sudah terima nasib aja,” keluhnya. Sabar ya Mbak. Yassalam. (Haidaroh/Nizar)