Limbah di Sungai Ciujung Diduga dari Industri Tekstil

0
113

SERANG – Menindaklanjuti laporan masyarakat dan instruksi Bupati terkait persoalan pencemaran sungai, jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan penelitian ke sejumlah lokasi aliran Sungai Ciujung dan Cidurian, Selasa (24/7). Hasilnya, diduga kuat sungai tercemar limbah industri tekstil.

Diberitakan sebelumnya, aliran air Sungai Ciujung wilayah Kecamatan Tirtayasa dikeluhkan warga karena menghitam dan menimbulkan bau menyengat. Diduga air sungai tercemar limbah industri. Keluhan itu mendapat respons serius Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan meminta DLH melakukan tindakan tegas terhadap perusahaan pencemar lingkungan.

Sidak dipimpin langsung Kepala DLH Kabupaten Serang Sri Budi Prihasto. Di lokasi sungai, petugas DLH mengambil sampel air untuk penelitian selain menelusuri sumber pembuangan limbah.

Kepala DLH Kabupaten Serang Sri Budi Prihasto mengungkapkan, beberapa wilayah aliran sungai, terutama bagian hilir kondisi airnya berwarna hitam dan menimbulkan bau menyengat. Untuk wilayah hulu, dipastikan Budi, kondisi air masih normal. Berdasarkan penelitiannya dari sampel air, Budi menduga kuat sungai tercemar limbah. “Sebagai penguat data dan analisa, sampel air sudah kita ambil dan segera dilakukan uji laboratorium,” ujarnya.

Budi pun meyakini, sejumlah perusahaan diduga kuat telah melanggar aturan karena membuang limbah yang tidak terolah ke aliran sungai yang mengakibatkan air sungai menghitam dan menimbulkan bau. “Datanya (data perusahaan yang diduga kuat pencemar lingkungan-red) sedang kita inventarisasi. Di bagian hulu diklarifikasi beberapa perusahaan sebagai penyebab, terutama industri tekstil,” ungkapnya.

Budi pun mengancam, akan memberikan sanksi tegas terhadap perusahaan yang terbukti mencemari sungai sesuai intruksi Bupati. “Akan segera diarahkan (perusahaan-red), ditekankan, dan diberi sanksi,” tegasnya.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengancam, akan menutup perusahaan yang membandel dan membuang limbah berlebihan ke sungai. Pihaknya pernah melakukan teguran kepada perusahaan yang melanggar aturan dan diminta agar perbaikan sistem pengolahan limbah. “Kalau tidak dan masih terus melanggar, akan kami tutup,” tegasnya. (Rozak/RBG)