Listrik Padam, Industri Merugi Puluhan Miliar Rupiah

CILEGON – Kerugian yang dialami sejumlah industri di Kota Cilegon akibat padamnya aliran listrik diperkirakan hingga puluhan miliar rupiah. Perhitungan itu ditaksir akibat sejumlah industri terpaksa berhenti beroperasi karena putusnya aliran listrik selama lebih dari 12 jam di Kota Cilegon pada Minggu (4/8).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Cilegon Tommy Rahmatullah menjelaskan, ia mendapatkan informasi sejumlah pabrik berhenti beroperasi. Mayoritas adalah industri yang bergerak di bidang manufaktur. Dengan seperti itu, kerugian pun tak bisa dihindari. “Dengan berhenti beroperasi dia tidak bisa berproduksi,” ujar Tommy saat dikonfirmasi Radar Banten, Selasa (6/8).

Tommy pun memperhitungkan kerugian bisa mencapai puluhan miliar rupiah mengingat sejumlah industri yang berhenti beroperasi adalah industri yang bergerak di bidang petrochemical atau kimia, serta industri besar lainnya.

Kendati seperti itu, secara organisasi, pihaknya belum memikirkan untuk melayangkan gugatan ganti rugi kepada PLN. Menurutnya, untuk urusan ganti rugi diserahkan kepada masing-masing industri. “Karena mereka punya perjanjian sendiri-sendiri dengan PLN,” ujarnya.

Pernyataan Tommy diperkuat oleh Corporate Affair PT Indorama Petrochemical Malim Hander Joni. Menurutnya, akibat padamnya listrik pada Minggu (4/8) dan kembali terjadi pada Senin (5/8) malam, hingga kemarin pabriknya belum bisa beroperasi.

Menurut Joni, untuk menghidupkan operasi pabrik kimia tidak mudah, perlu proses yang panjang, terlebih pabrik tempat ia bekerja itu bergantung pada pasokan produk dari pabrik lain. “Kita off karena kita kan bergantung dari produk orang lain sementara dia belum start up, jadi kita belum start up juga, karena ini bukan masalah lampunya tapi efek,” ujarnya.

Ia memperkirakan hari ini, Rabu (7/8), pabriknya belum bisa beroperasi karena secara hitungan paling tidak PT Indorama harus menunggu enam sampai delapan jam pabrik pemasok produk sudah beroperasi. Setelah itu, baru pabrik kimia yang berada di Kecamatan Ciwandan itu bisa memulai beroperasi.

Disinggung terkait kerugian, menurut Joni, diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Karena dengan berhentinya mesin di tengah-tengah operasi membuat banyak bahan baku terbuang. “Kerugian sekira 500 metrik ton,” ujarnya. (bam/ibm/air/ira)