Longsor Nyaris Gerus Satu Kampung di Tunjungteja

0
515 views
GERUS SATU KAMPUNG : Tanah permukiman warga di bantaran sungai sepanjang satu kilometer tergerus longsor selebar sepuluh meter akibat luapan Sungai Ciujung di Kampung Jambu Araudoh, Desa Bojongpandan, Kecamatan Tunjungteja, Kamis (23/2). Akibat longsor yang mengancam puluhan rumah di kampung itu, aktivitas warga lumpuh.

TUNJUNGTEJA – Aktivitas warga di Kampung Jambu Araudoh, Desa Bojongpandang, Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang, sudah dua hari lumpuh. Longsor di sepanjang bantaran sungai yang berlangsung pada Rabu (22/2), nyaris menggerus tanah satu kampung. Diduga, tanah longsor akibat derasnya aliran sungai, dipicu hujan deras dan pembedolan Bendung Pamarayan.

Tanah longsor pun kini jadi tontonan warga yang melintas dan belum ada upaya perbaikan. Kepala Desa Bojongpandan Hulman menjelaskan, longsor di Kampung Jambu Araudoh RT 18 RW 4 terjadi dini hari sekira pukul 03.00 WIB saat warga sedang tidur pulas. Panjang longsoran di bantaran sungai, lebih dari satu kilometer dengan lebar sekira 10 meter. Longsoran tanah juga, kata Hulman, mengancam sekira 15 rumah yang berada di bantaran sungai. “Malah, ada tiga rumah mepet dengan tanah yang longsor, sekitar satu meteran. Ada dua keluarga yang paling dekat longsoran. Sekarang sudah mengungsi ke rumah orangtua masing-masing,” terang Hulman, kemarin.

Menurut Hulman, tanah longsor akibat derasnya aliran air Sungai Ciujung setelah wilayahnya terus diguyur hujan. Diperparah, dengan adanya kegiatan pembedolan Bendung Pamarayan pada Selasa (21/2), membuat aliran air sungai semakin deras. “Sebetulnya, sudah ada beronjong yang dipasang setahun kemarin. Sekarang, sebagian sudah enggak ada karena tergerus air,” jelasnya.

Dengan kondisi demikian, Hulman mengaku khawatir, longsoran tanah mengancam rumah warga yang berada di bantaran sungai. Katanya, kondisi longsor sudah dilaporkan kepada kecamatan dan ditinjau oleh penyuluh Dinas Pekerjaan Umum (DPU). “Dari PU sudah memeriksa kondisinya. Besok (hari ini) saya diminta menghadap ke kantor PU,” ungkapnya.

Lantaran kondisinya mengkhawatirkan karena bisa mengancam permukiman warga, Hulman pun menginstruksikan warga kampung agar melakukan ronda setiap malam. Hal itu agar warga selalu waspada, karena beberapa rumah warga mepet dengan tanah longsoran. “Bahkan, ada yang fondasi rumahnya retak-retak. Makanya, dua keluarga kurang lebih 10 jiwa milih mengungsi,” katanya.

Hulman berharap, tanah longsor bisa segera diperbaiki dan perbaikan tanah longsor tidak menggunakan beronjong, melainkan dipasang tiang pancang agar lebih kuat menahan derasnya air sungai. “Kalau dibiarkan, tanah bisa terus tergerus. Apalagi, jarak dari longsoran ke jalan utama hanya 50 meteran,” tandasnya.

Salah satu warga yang rumahnya terancam kena longsoran, Jasrana mengaku, keluarganya sengaja diungsikan untuk mencari selamat. Soalnya, kondisi rumah mengkhawatirkan karena paling dekat dengan longsoran. Katanya, longsor terjadi diawali hujan besar. “Pada saat lagi enak-enak tidur, tiba-tiba terdengar suara gemuruh subuh-subuh. Kayak suara tanah jatuh. Pas dicek keluar, benar, warga langsung pada bangun. Paginya, kita mengungsi, nyari selamat,” tuturnya. (Nizar S/Radar Banten)