Lonjakan Pasien Covid-19, Rumah Sakit Penuh

0
2287
11 Pasien dipulangkan dari Hotel Siti, Karawaci, Kota Tangerang, karena sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

SERANG  – Lonjakan pasien harian terkonfirmasi virus corona di rumah sakit rujukan khusus Covid-19 di Provinsi Banten meningkat dalam sepekan terakhir.

Di Kabupaten Tangerang, lonjakan pasien terjadi tidak hanya pada rumah sakit rujukan Covid-19 milik pemerintah. Melainkan milik swasta, juga rumah singgah.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) tercatat sejak Kamis (10/12) hingga Rabu (16/12) kasus baru mencapai 64 orang. Penyababnya, disinyalir kurang disiplin warga menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes), Dinkes Kabupaten Tangerang, Achmad Muchlis mengatakan, sebanyak 180 kamar di Hotel Singgah Yasmin terisi. Tidak hanya penuh, jumlah antrean pasien baru Covid-19 yang akan isolasi sebanyak 30 orang.

Jumlah antrean tersebut belum dihitung klaster perkantoran yang terinfeksi 43 orang. Hanya saja, masih dalam proses konfirmasi ulang.

Kata Muchlis, jumlah antrean yang akan diisolasi di Hotel Singgah Yasmin mencapai 73 orang.

“Total di Yasmin ada 240 kamar di mana 180 kamar untuk pasien dan 60 kamar untuk relawan atau tenaga kesehatan yang bertugas. Keputusannya, tidak akan membuka rumah singgah baru. Opsinya memperpanjang Hotel Yasmin sampai dengan Maret,” jelasnya kepada Tangerang Ekspres (Radar Banten Group), Rabu (16/12).

Ia menuturkan, apabila tidak memungkinkan dilakukan isolasi di Hotel Singgah maka pasien yang terinfeksi Covid-19 bisa isolasi mandiri. Soal kesahatan akan menjadi tanggungjawab puskesmas terdekat dari rumah pasien. “Kalau di rumah tidak memungkinkan  isolasi maka akan di Hotel Singgah Yasmin,” katanya.

Muchlis mengatakan, efek lonjakan pasien Covid-19 juga membuat ruang isolasi di rumah sakit se-Kabupaten Tangerang penuh. Baik milik swasta maupun pemerintah yang menjadi rujukan perawatan pasien terinfeksi Corona. “Di Siloam penuh, rumah sakit Tangerang penuh dan RSUD Balaraja juga penuh,” paparnya.

Ia memaparkan, total ada kamar isolasi di rumah sakit mencapai 450 ruang yang menurut data terakhir sudah terisi 90 persen oleh pasien Covid-19. Kepenuhan juga terjadi di ruang Insentive Care Unit (ICU) yang merawat pasien terpapar Corona dalam kondisi kritis. “Ada 31 ICU di Kabupaten Tangerang yang khusus Covid-19. Datanya, sudah terisi penuh 100 persen,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pasien yang baru datang akan dirujuk ke rumah sakit jejaring yang ada di Kabupaten Tangerang. “Pasien yang dirawat tidak melihat alamat KTP sehingga rumah sakit yang penuh bisa saja bukan warga Kabupaten Tangerang. Kalau rumah sakit penuh pasien  Covid-19 akan dirawat di rumah sakit di luar Kabupaten Tangerang. Bisa di Banten, bisa di Jakarta,” pungkasnya.

RUANGAN TAMBAHAN

Di RSUD Drajat Prawiranegara Serang (RSDP) pun kondisinya sama. Humas RSDP drg Khoirul Anam mengatakan, pihaknya menyiapkan 42 ruang perawatan pasien Covid-19. Kemarin, tidak ada satu ruangan pun yang kosong. “Semuanya saat ini (kemarin-red) penuh,” katanya.

Ia mengatakan, 42 ruangan tersebut sudah merupakan ruangan tambahan. Beberapa ruangan perawatan umum dijadikan ruangan perawatan khusus pasien Covid-19. “Ruang isolasi sudah diperluas dan ditingkatkan jumlahnya, yang terdiri dari ruang Muzdalifah, Arafah, dan Mina,” ujarnya.

Kendati sudah penuh, pihaknya belum ada rencana untuk menambah kembali ruang isolasi pasien Covid-19. “Setiap hari ketersediaan ruang isolasi fluktuatif, yang saat ini berasal dari tiga kabupaten kota, Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon,” terangnya.

Dikatakan Anam, pihaknya sudah membuat jaringan bersama rumah sakit swasta dan puskesmas se-Kabupaten Serang dan Kota Serang. Ketersediaan ruang perawatan pasien Covid-19 dikomunikasikan dalam satu jaringan. “Jika ruangan penuh, kita informasikan tidak bisa menerima rujukan pasien Covid-19,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Serang, drg Agus Sukmayadi mengatakan, pihaknya berencana akan memperbanyak ruang isolasi pasien Covid-19 di Kabupaten Serang. Salah satunya, dengan menunjuk rumah sakit swasta supaya dapat merawat pasien Covid-19.

“Sesuai dengan amanat Menkes, harus ada penunjukan terlebih dahulu kepada rumah sakit swasta, sehingga rumah sakit swasta itu dapat melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19. Kemungkinan kita akan lakukan penunjukan itu,” katanya.

Ia mengatakan, rumah sakit swasta yang akan ditunjuk sebagai rumah sakit perawatan Covid-19 harus memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya, mempunyai ruangan khusus yang terpisah dari ruangan perawatan umum, mempunyai tenaga kesehatan yang mumpuni, dan sarana prasarana penunjang lainnya.

Di RS Sari Asih, Kota Serang hingga sore tadi belum bisa menerima pasien Covid-19. Dari 3 kamar dengan 12 bed untuk penanganan pasien Covid-19 dalam kondisi penuh. RS Sari Asih bersama empat RS lainnya merupakan RS penyangga penanganan pasien Covid-19 ditetapkan Pemkot Serang. “Sampai sore ini penuh, terisi semua,” ujar Humas RS Sari Asih Agus Ramdani kepada Radar Banten.

Agus mengatakan, RS Sari Asih melayani pasien Covid-19 ditetapkan Pemkot Serang pada April 2020. Awalnya RS Sari Asih menyiapkan enam tempat tidur. Kemudian, menambah menjadi 12 tempat tidur atau tiga kamar. “Sampai saat ini kami telah merawat sekira 186 pasien positif Covid-19,” katanya.

Agus menjelaskan, mekanisme penerimaan pasien Covid-19 di RS Sari Asih, pasien yang datang dengan gejala akan ditangani melalui ruang Isolasi. Jika penuh, pihaknya baru merujuk pasien ke RS Rujukan Covid-19.

RUANG ISOLASI TINGGAl 15

Pasien Covid-19 Kota Cilegon sejauh ini masih dirujuk ke RSU Banten serta Rumah Sakit Khusus Covid-19 Wisma Atlet, Jakarta.

Sedangkan fasilitas isolasi bersama yang disediakan oleh Pemerintah Kota Cilegon adalah Hotel Trans di Kecamatan Cibeber.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinkes Kota Cilegon Dana Sujaksani menjelaskan, RSUD Kota Cilegon hingga saat ini belum dijadikan rumah sakit rujukan.

Adapun kondisi fasilitas isolasi bersama saat ini tinggal tersisa 15 kamar atau hanya untuk 15 pasien.

“Dari 41 kamar terisi 26 kamar, kosong 15,” ujar Dana, Rabu (16/12).

Kata Dana, guna mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19 pasca pilkada, pihaknya akan semakin gencar mengajak semua pihak untuk meningkatkan protokol kesehatan.

“Kuncinya ada di disiplin protokol kesehatan, kalau itu dilakukan semua pihak, bisa terkendali,” ujarnya.

Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pandeglang, Achmad Sulaiman mengatakan, sejak pertama dibuka baru ada 16 masyarakat yang menggunakan wisma PKPRI untuk melakukan isolasi. Begitu juga dengan RSUD Berkah Pandeglang, hingga saat ini tidak ada pasien yang dirawat karena virus corona. “Untuk wisma PKPRI tinggal beberapa waktu lagi habis kontraknya. Di RSUD berkah awal-awal memang ada pasien yang dirawat, tapi sekarang udah enggak ada pasien Covid-19,” katanya.

Asda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Pemkab Pandeglang, Ramadani mengatakan, dipilihnya wisma PKPRI karena beberapa hal, di antaranya memiliki banyak ruangan untuk melakukan isolasi pasien poaitif corona. Selain itu, kata dia, di wisma tersebut juga sudah ada petugas untuk membantu pasien selama melakukan isolasi. “Daya tampung wisma PKPRI ini ada 32 kamar dengan kapasitas dua bed. Ada dua shift mulai dari jam delapan pagi sampai jam delapan malam dan jam delapan malam sampai jam delapan pagi petugas medis akan melakukan pengecekan kesehatan setiap hari bagi para OTG,” katanya.

TAK MILIKI RS RUJUKAN

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Lebak, Firman Rahmatullah menyatakan, Kabupaten Lebak tidak memiliki rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19. Lebak hanya memiliki rumah sakit darurat corona, yaitu RSUD Adjidarmo dan ruang isolasi di Rumah Sakit Islam (RSI) Haji Madali. Di RSI Haji Madali, dari kapasitas 40 kamar, hanya 20 kamar yang digunakan untuk isolasi pasien covid dengan status orang tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan.

“Dari 40 ruangan, terisi 20 ruangan untuk isolasi OTG dan pasien yang memiliki gejala ringan. Kalau pasien dengan penyakit penyerta dirawat di rumah sakit darurat corona di RSUD Adjidarmo dan pasien dengan gejala berat dirujuk ke rumah sakit rujukan di Banten,” kata Firman Rahmatullah kepada Radar Banten, kemarin.

Dijelaskannya, kasus terkonfirmasi Covid-19 di Lebak per 15 Desember 2020 mencapai 546 orang. Dengan rincian, 352 orang sembuh, 176 orang diisolasi, dan 18 orang meninggal dunia.

“Hari ini ada penambahan lagi. Tapi saya lupa angkanya dan belum kita update. Kalau gak salah bertambah 18 atau 20 orang,” jelasnya.

SARANKAN ISOLASI MANDIRI

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, per kemarin, 130 tempat tidur pasien Covid-19 di RSUD Banten penuh terisi. Bahkan, 30 ruang ICU juga seluruhnya terisi. Lantaran gedung depan RS yang berada di Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani itu mengalami kerusakan akibat puting beliung tahun lalu maka gedung itu sedang diperbaiki. “Otomatis tidak bisa digunakan untuk pasien Covid-19,” ujar Ati. Untuk itu, saat ini pihaknya memaksimalkan gedung bagian belakang RSUD Banten.

Untuk ruang ICU saja, ia mengatakan ada penambahan 10 unit dari 20 ruang yang sudah ada karena kondisi penyebaran Covid-19 semakin meluas.

Selain RSUD Banten yang menjadi RS rujukan Covid-19, Ati mengatakan, ada 99 RS lainnya yang menangani pasien Covid-19 se-Banten. Per kondisi kemarin, 98 persen ruang rawat inap di 100 RS itu sudah penuh. Bahkan seluruh ruang ICU se Banten penuh.

Ati mengatakan, meskipun jumlah RS di Banten seluruhnya sebanyak 113 RS. Namun, 13 di antaranya adalah RS Ibu dan Anak sehingga tidak dapat menangani pasien Covid-19. Apabila ada pasien yang membutuhkan ruang rawat inap, setiap RS yang menangani Covid-19 memiliki sistem informasi ketersediaan tempat tidur (sisrute).

Untuk itu, bagi pasien yang tanpa gejala sebaiknya melakukan isolasi mandiri. Sedangkan ruang rawat inap di RS hanya untuk pasien dengan gejala sedang dan berat.

Kata dia, RS bukan tidak ingin menambah fasilitas ruang rawat inap. “Tempat tidur bisa dibeli tapi untuk tenaga kesehatan tidak bisa dibeli. Ini yang sulit dipenuhi RS yang ada di Banten,” ujarnya.

Untuk itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Banten ini juga meminta masyarakat memperketat protokol kesehatan. Hal itu dilakukan agar penyebaran Covid-19 tidak semakin meluas. Apalagi ruang perawatan di RS kerap penuh.

Kata dia, dari delapan kabupaten/kota sudah tujuh daerah yang memiliki rumah singgah. Sedangkan Kabupaten Serang sedang mempersiapkan salah satu puskesmasnya untuk menjadi rumah singgah. Lantaran ranah rumah singgah ada ada di pemerintah kabupaten/kota, maka Pemprov Banten tidak jadi menjadikan gedung OPD di KP3B untuk menjadi rumah singgah.

Ati mengungkapkan, dari delapan wilayah itu, kasus Covid-19 paling banyak terjadi di Kabupaten Tangerang. Namun karena jumlah penduduk Kabupaten Tangerang maka persentasenya tidak tinggi. Selain itu, di Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan juga memiliki jumlah kasus konfirmasi yang tinggi. “Yang dirawat cukup banyak,” tuturnya. Hanya saja, saat ini juga penyebaran Covid-19 sudah merata di seluruh wilayah Banten. Bahkan di Kabupaten Serang juga kini menjadi zona merah. (nna-jek-fdr-bam-tur-dib-sep/rbnn/air)