Love Story: Anak Dimanjakan, Istri Terlupakan

0
1.057 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

ALIH-alih bakal mendapat keuntungan, malah berujung kecemburuan. Setelah melewati hadangan mertua yang sempat mencoba menjadi duri dalam rumah tangga, tak lantas membuat kehidupan pasangan suami istri Oneng (34) dengan Bopeng (30), keduanya nama samaran, berakhir bahagia.

Sikap suami, Bopeng, yang terlalu memanjakan anak, sebut saja Toing (7), justru membuat keberadaan Oneng di rumah mulai terlupakan. Ow ow ow. Ceritanya, penderitaan berlanjut nih.

“Enggak begitu juga. Cuma heran saja, padahal, si Toing kan anak tiri tapi Kang Bopeng kayaknya sayang banget. Benar-benar dimanja,” ungkapnya. Harusnya kan Teteh ikut senang? “Iya sih, tapi bagaimana ya,” ujarnya kebingungan.

Awalnya, setelah berbaikan dengan mertua, Ipah, yang sadar akan kesalahannya dan tak kuasa menahan haru melihat keakraban Bopeng dengan anak tirinya membuat Oneng mulai lega. Namun, seiring waktu berjalan, perhatian suami ditumpahkan sepenuhnya kepada anaknya, Toing. Kondisi itu membuat Oneng merasa kurang diperhatikan di rumah.

Bopeng hanya mementingkan dan memikirkan masa depan Toing. Sementara Oneng seolah dianggap tidak ada. Bagaimana tidak, baik sedang usaha atau di rumah, yang diperhatikan dan ditanyakan pasti Toing. Terkadang sedang usaha, sengaja pulang hanya untuk berguyon dengan anak tirinya itu.

“Kang Bopeng memang dari awal ingin punya anak cowok. Eh, kebetulan anak saya dari suami pertama kan cowok, anaknya juga pintar ambil hati bapak tirinya,” terangnya. Bagus dong.

Hanya saja, menurut Oneng, sikap Bopeng yang memanjakan anaknya terlalu berlebihan. Apapun kemauan Toing pasti dituruti. Keseharian Toing juga harus terus diperhatikan. Oneng bahkan sebagai ibu kandungnya pun diancam Bopeng agar jangan sampai lalai mengurus anak semata wayangnya tersebut. Terlebih, disadari Bopeng kalau Oneng hampir dipastikan tidak akan memiliki keturunan lagi. Oneng divonis dokter mengalami gangguan pada rahim berupa kista sehingga terpaksa kista rahimnya harus diangkat. Lantaran itu, pusat perhatian Bopeng saat ini hanya tertuju pada Toing. Menurut Bopeng, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dan diharapkan selain anak tiri semata wayangnya.

“Ya, enggak baik terlalu memanjakan anak. Nantinya, malah besar kepala dan jadi nakal” kesalnya. Yaelah, Teteh nih aneh. Jarang-jarang loh bapak tiri sayang sama anaknya.

Diakui Oneng, perasaan iri terhadap anaknya itu muncul setelah sebulan dirinya berdamai dengan mertua. Perhatian terhadap Toing juga bukan hanya didapat dari bapak tirinya, bahkan dari mertua yang tadinya benci kepada cucu tirinya tersebut. Situasi itu semakin membuat Oneng merasa tersingkirkan oleh keluarga besar Bopeng.

Masalahnya, bukan hanya perhatian yang hilang, soal gairah Bopeng di ranjang pun mulai berkurang. Bopeng lebih memilih tidur dengan anaknya ketimbang dengan wanita berkulit putih itu. Waktu seharian bisa dihabiskan untuk mengurus anaknya tanpa mempedulikan keberadaan Oneng.

Ke mana-mana Toing harus dikawal, bahkan ke sekolah pun harus diantar jemput. Sampai mandi pun Toing harus dimandikan. Oneng dipaksa tak boleh lengah. Kalau ada Bopeng, pasti suaminya yang memandikan. Hal itu pun dilakukan Bopeng secara berulang seolah tidak memiliki perasaan bersalah.

“Di rumah ya begitu, saya tuh dianggap enggak ada. Pulang usaha, Kang Bopeng pasti menanyakan si Toing. Makan saja ingin ditemani. Tidur ingin dipeluk Toing. Herannya, si Toing juga nurut, enggak pernah melawan,” keluhnya. Widih, terus Teteh maunya bagaimana? “Ya, sekali-sekali dong meluk mesra istri. Sudah sebulan ini jarang dibelai,” tukasnya.

Ketidakharmonisan mulai ditunjukkan Bopeng tatkala Oneng mengeluhkan kondisi tersebut. Menurut Bopeng, alasan Oneng tidak rasional dan sekadar mencari-cari alasan untuk berselisih paham. Tak terima dengan jawaban Bopeng, Oneng saat itu langsung bereaksi sehingga pertengkaran di antara keduanya pun tak terhindarkan.

Sejak perselisihan itu, keduanya memutuskan untuk saling mendiamkan dan pisah ranjang meski masih satu rumah. Oneng tidur di kamar utama, Bopeng tidur di kamar anaknya bareng Toing. Kondisi itu berlangsung hingga dua pekan. Kalau Bopeng sih, masih bisa melampiaskan dengan bermain dengan anak, terus curhat dengan keluarga besar. Nah, Oneng? Sudah tidak mendapatkan servis Bopeng di ranjang, di rumah juga semakin diacuhkan.

Beruntung Bopeng orangnya sabar. Suaminya itu, tak terpancing emosi sehingga tak sampai mengurangi jatah keuangan istrinya sehari-hari.

“Sempet bingung lihat kondisi waktu itu. Tapi, akhirnya saya yang ngalah,” akunya. Ya, memang harus begitu kalau memang sayang anak dan suami.

Setelah Oneng berpikir panjang dan merasa tidak ada untungnya cemburu terhadap anak, akhirnya Onemg mengalah dan meminta maaf kepada Bopeng atas sikap kurang dewasanya selama ini. Oneng mulai berpikir positif kalau semua yang dilakukan Bopeng menunjukkan kasih sayangnya yang tulus terhadap anak tirinya. Jadi, tak sepatutnya Oneng merasa tersingkirkan dengan kehadiran anaknya. Permintaan maaf Oneng pun disambut baik suami.

“Dari awal enggak seharusnya aku berpikir yang bukan-bukan sama si Toing. Memang egois. Harusnya bersyukur, tahu kalau Mas Bopeng enggak main sama cewek lain,” sadarnya. Nah, begitu dong.

Sejak itu, Oneng mulai berusaha mengerti dengan sikap yang diambil Bopeng sebagai suami sekaligus ayah dari anaknya sekarang. Harusnya juga, Oneng bangga karena Toing yang jenius dalam hal pelajaran, tak hanya menjadi kebanggaan suami, melainkan juga mertua dan keluarga besarnya. “Sebaiknya memang saya nikmati saja selama suami enggak macam-macam,” pungkasnya. (Nizar S/Radar Banten)