Love Story: Anak Lahir Berkebutuhan Khusus Dianggap Bawa Berkah

0
804 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

ADA-ada saja pemikiran Turmin (36), bukan nama sebenarnya. Ia kembali ke pangkuan mantan istrinya, sebut saja Tukiyem (35), hanya karena beranggapan bahwa anaknya yang lahir berkebutuhan khusus sebagai pembawa berkah.

Hal itu dibuktikan dengan perubahan nasib Turmin. Kehidupan Turmin lebih maju pada saat berumah tangga dengan Tukiyem setelah punya anak, di mana buah pernikahan mereka melahirkan anak berkebutuhan khusus berjenis kelamin laki-laki, sebut saja anaknya Tono. Berbeda ketika Turmin bercerai dengan Tukiyem dan meninggalkan anaknya demi menikahi perempuan lain.

Nasib pahit harus diterima Turmin. Ia dipecat dari perusahaan dan harus digempur dengan situasi kesulitan ekonomi sehingga membuatnya kembali bercerai untuk kali kedua.

“Akhirnya, ya saya balik ke istri tua dan minta maaf. Ternyata anak saya yang lahir tidak normal itu bawa berkah,” akunya. Astaga. Tobat Kang. Kalau mau berkah, ya banyak ibadah bukan karena anak lahir tidak normal.

Kini kehidupan Turmin dan Tukiyem berkecukupan dan setiap tahunnya terus mengalami kemajuan. Sejak rujuk dengan Tukiyem dan kembali menjalin rumah tangga untuk kedua kalinya, tak butuh lama untuk Turmin diterima bekerja. Turmin mendadak diterima kerja sebagai sopir pengangkut produk industri. Sejak itu, kehidupan rumah tangga mereka meningkat dari sisi ekonomi dan Turmin mulai menyayangi anak istrinya.

“Jujur, dulu saya cerai sama istri karena malu punya anak tidak normal, kayak anak autis begitu. Takut dicemooh orang saja,” akunya. Yaelah, pemikirannya kok dangkal.

Namun, penilaian Turmin salah besar. Ternyata, seiring perkembangan Tono justru semakin mempererat silaturahmi keluarga, kerabat, dan tetangganya. Anaknya sama sekali tidak menjadi bahan olokan, malah banyak yang iba dan peduli sama Tono. Lantaran itu, Turmin semakin sayang terhadap anak istrinya dan lebih care dibandingkan saat menjadi suami pada pernikahan pertama. Apalagi, keberadaan Tono membuat rezeki Turmin semakin melimpah.

Dari menjadi sopir, Turmin merambah ke dunia usaha. Ya, dari hasilnya menjadi sopir di industri, Turmin mampu mengumpulkan modal untuk membuka usaha. Setelah resign dari perusahaan, uang tabungan dan pesangon Turmin jadikan modal untuk membuka warung sembako di rumah.

“Idenya dari teman yang juga buka warung sembako di rumah. Awalnya coba-coba, ternyata untungnya lumayan. Malah, sekarang saya lebih banyak waktu dengan keluarga di rumah,” terangnya.

Berbeda ketika Turmin menjalani rumah tangga dengan istri keduanya, sebut saja Nunik (25) yang usianya jauh lebih muda. Turmin bertemu dengan Nunik bersamaan dengan perasaan Turmin yang saat itu sedang galau. Turmin mengaku putus asa sejak menceraikan Tukiyem dan meninggalkan anaknya karena terpengaruh perasaan gengsi. Makanya, tergoda untuk menikahi Nunik agar bisa secepatnya melupakan Tukiyem dan anaknya. Namun, Turmin yang tadinya bekerja sebagai satpam perusahaan perbankan, tiba-tiba dipecat dengan alasan harus ada pengurangan karyawan untuk menyelamatkan ekonomi perusahaan.

“Sejak pemecatan itu, saya jadi pengangguran. Nah, Nunik enggak terima. Makanya, hampir setiap hari kita berantem di kontrakan,” keluhnya. Tuh kan makanya dalam sebuah pernikahan kita harus bisa menerima segala kekurangan.

Apalagi, setahun pernikahan Turmin dan Nunik tak kunjung dikaruniai anak. Sontak, situasi itu membuat Turmin makin geram untuk melanjutkan hubungan rumah tangganya dengan Nunik. Turmin makin sebal dengan kelakuan Nunik yang sehari-hari kerjaannya cuma marah-marah.

Menyadari rumah tangganya ada yang tak beres karena terus didera perselisihan, Turmin pun mulai berpikir untuk kembali ke mantan istrinya. Turmin saat itu merasa kalau rumah tangganya yang kedua berantakan akibat karma terhadap anaknya yang lahir dengan kondisi fisik tak biasa.

“Jadi, saya pikir lebih baik cerai dan balik ke mantan istri daripada jadi bulan-bulanan terus dihina istri sama keluarganya karena status pengangguran,” terangnya. Ya iyalah, orang butuh makan. Zaman sekarang itu, ada uang abang disayang, enggak ada uang abang ditendang.

Saat itu juga, Turmin berpikir untuk rujuk dengan Tukiyem yang jelas-jelas sebagai orang yang tersakiti. Turmin yang terus dihantui perasaan bersalah, akhirnya kembali menemui Tukiyem dan meminta maaf. Beruntung, Turmin memiliki mantan istri yang baik dan pengertian sehingga sudi memaafkan suami dan memberi Turmin kesempatan kedua dengan kembali membangun mahligai rumah tangga. Turmin bahkan berani bersumpah bakal mengurus dan merawat anaknya yang berkebutuhan khusus itu.

Sejak itu, kehidupan Turmin dan anak istrinya sedikit demi sedikit mengalami perubahan yang lebih baik. Dimulai dari nol, berkat dorongan anak istri, Turmin mampu mengembangkan sayapnya di dunia usaha dan kini sudah memiliki rumah sendiri, meskipun masih terbilang sederhana.

Alhamdulillah, sekarang saya tidak kekurangan. Ternyata memang dalam hidup itu harus bisa menerima segala kekurangan. Tidak ada yang lebih baik selain doa anak istri,” tegasnya. Subhanallah, syukur deh. (Nizar S/Radar Banten)