Love Story: Astaga, Mimpi Kok Jadi Istri Tetangga

0
2.195 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

APA yang diharapkan Juminten (34), nama samaran, tidak wajar. Ia bermimpi bisa menjadi istri tetangganya, sebut saja Doni (34). Hal itu dipicu, perangai suaminya, sebut saja Subhan (35) yang tidak mampu menunjukkan sebagai sosok suami yang baik.

Subhan tidak pernah jujur terhadap Juminten sejak mereka menikah. Belum lagi, Subhan juga kurang perhatian terhadap anak-anak, kasar kepada istri, dan kurang menafkahi keluarga. Masih ada lagi, utang suaminya itu juga, tersebar di mana-mana. Sementara, pekerjaannya hanya buruh tani. Alamak.

Kondisi demikian, membuat kehidupan Juminten dan anak-anaknya selalu didera serba kekurangan. Lantaran itu, Juminten memutuskan pisah ranjang dan keluar dari rumah mertua, di mana mereka tinggal. Untuk bertahan hidup, warga Serang ini kini bekerja sebagai pedagang di pasar dan kembali tinggal di rumah orangtuanya, tanpa sepengetahuan suami.

Lain Subhan lain dengan Doni. Tetangganya itu, dinilai Juminten merupakan sosok suami sempurna. Selain wajahnya terbilang lumayan rupawan dan memiliki tubuh atletis, Doni juga baik, setia, dan begitu perhatian terhadap orang lain. Begitu pula kepada keluarga Juminten, terlebih kepada anak istrinya.

“Jujur saja, saya pernah bermimpi jadi istri tetangga. Antara Mas Subhan sama tetangga saya itu, ibarat langit dan bumi,” ungkap Juminten menengadah sedikit membayangkan wajah Doni sambil mesem-mesem.

Sayangnya, kenyataan soal Doni tak seindah yang dibayangkan. Karena, ternyata Doni yang memang tetangga impiannya itu, sudah memiliki istri dan dikaruniai dua anak. Yang memicu Juminten kasmaran untuk kali kedua itu, diawali sikap Doni yang memang memiliki sikap ramah terhadap siapa saja yang ditemui. Begitu pula terhadap Juminten. Doni tak pernah menolak jika dimintai bantuan oleh tetangganya, termasuk kepada keluarga Juminten. Padahal, jarang-jarang lelaki setajir dan seganteng Doni bisa sepengertian itu. Biasanya, lelaki yang berasal dari kalangan berada itu, sifatnya sombong dan angkuh. Doni justru malah sebaliknya.

“Pokoknya, Doni itu sosok suami sempurna. Beruntunglah yang menjadi istri Doni,” ujar Juminten.

Pertama kali Juminten merasa empati terhadap Doni, ketika anak Juminten yang bungsu sakit radang dan panas. Sementara, ia tidak bisa mengajak anaknya berobat karena dilanda kesusahan ekonomi. Tentu saja, kondisi itu membuat Juminten benar-benar kebingungan, tak tahu harus berbuat apa untuk menyembuhkan anaknya.

Orangtuanya juga orang susah, bapaknya buruh bangunan, sementara ibunya hanya seorang buruh cuci. Juminten semakin stres karena suaminya juga sama sekali tidak bisa membantunya. Malah, Subhan terkesan acuh menyadari anaknya sakit parah. Makanya, Juminten tidak pernah memohon bantuan kepada suaminya, ketika anak-anaknya sakit. Juminten, sepertinya tahu betul dengan sifat buruk Subhan yang tidak pernah mengindahkan permintaannya.

“Kesal Kang, punya suami enggak ada rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga. Malah menanam saham di mana-mana, makin streslah saya,” ungkapnya. Saham bagaimana maksudnya. “Iya itu, sahamnya utang. Hasil dari bertani, enggak pernah sampai tuh ke tangan saya. Suami saya tuh, enggak pernah jujur,” keluhnya.

Beruntung Juminten bertetangga dengan orang sebaik Doni yang memang perhatian terhadap sesama. Demikian pula dengan istrinya Doni. Setiap mengetahui keluarga Juminten kesusahan, Doni dan istrinya selalu respons. Mereka tak sungkan untuk membantu kesusahan keluarga Juminten.

Nah, suatu ketika anak bungsu Juminten sakit, Doni menawarkan bantuan untuk mengantarkan Juminten ke dokter. Awalnya Juminten menolak karena malu. Keluarga Juminten sering kali dibantu keluarga Doni. Baik bantuan uang untuk makan sehari-hari maupun untuk sekadar berobat. Namun, melihat anaknya yang tak kunjung sembuh setelah diberikan obat warung, Juminten terpaksa menerima bantuan Doni.

“Saya juga heran, kok masih ada orang ganteng dan sebaik Doni,” ujarnya memuji. Eits, kok pakai bahasa gantengnya segala! Inget Mbak, sudah punya istri tuh.

Ceritanya, Juminten pun diantar Doni ke dokter kenalannya. Anak Juminten pun diperiksa, lalu diberikan resep obat yang langsung ditebus Doni. Perlakuan Doni terhadap Juminten, saat itu sudah layaknya suami kepada anak-anaknya. Benar-benar perhatian dan memberikan kasih sayangnya secara utuh.

Tak berapa lama, anak Juminten pun, sembuh total. Situasi itulah, yang membuat Juminten baper alias terbawa perasaan. Sejak itu, Juminten tak pernah henti-hentinya memikirkan Doni. Di pikirannya pun, selalu terbayang wajah Doni, bukan suaminya yang lusuh, berkulit hitam pekat, serta kurus.

“Saya juga enggak tahu, sejak itu bayangan wajah Doni enggak bisa hilang di pikiran saya. Kayaknya, puber kedua deh,” akunya.

Kebaikan Doni pun, sering diceritakan Juminten kepada suaminya. Subhan yang tak terima dibanding-badingkan, mulai berlaku kasar terhadap Juminten. Bahkan, saking emosinya Subhan sampai menampar pipi Juminten dan mengusirnya dari rumah. Tentu saja Juminten yang memang sudah tidak tahan menjalani rumah tangga dalam kebohongan suaminya, tak berpikir panjang untuk pergi jauh dari bayang-bayang wajah Subhan.

“Buat apa diteruskan juga. Enggak ada untungnya, bikin susah,” tukasnya.

Juminten malah curiga, kalau Subhan kelilit utang karena ketagihan bermain judi di luaran. Makanya, utangnya di mana-mana dan penagih utang tak pernah ada habisnya. Hampir setiap hari, ada saja yang menagih utang Subhan ke rumah.

“Saya enggak pernah tahu, dia pinjam buat apa. Bikin pusing, malu juga sama tetangga. Kalau memang dia pinjam, harusnya kan ada buktinya, apakah buat makan atau apa. Ini kan, makan saja menumpang di mertua, hadeuh,” kesalnya.

Lantaran itu, Juminten memutuskan untuk pisah ranjang pada saat Subhan mengusirnya dari rumah dan mengajak anak-anaknya kembali tinggal di rumah orangtua. Kini, Juminten pun mengaku merasa lebih tenang dibandingkan tinggal dengan suaminya yang memang jarang pulang. Juminten pun, bahagia dengan profesi barunya sebagai asisten di pasar ikut membantu jualan dagangan milik saudaranya.

Tiga bulan sudah, Juminten pun tak pernah lagi berkomunikasi dengan suaminya dan tidak memikirkan lagi nasibnya. Bahkan, Juminten berencana mengajukan gugatan cerai. “Ya, sekarang lumayan, dari upah ikut dagang cukuplah buat makan. Daripada mikiran suami, malah bikin pusing, mending mikiran Doni,” katanya. Yaelah. “Soalnya, masih kebawa mimpi sih,” akunya. Janganlah Mbak, ingat dosa. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)