Love Story: Banyak Utang, Malas-malasan, Ya Sudah!

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

BOHAI (27), nama samaran, tampak kusam dan lemas saat ditemui di teras rumahnya. Maklum, baru saja pisah ranjang dengan suaminya, sebut saja Dakro (30). Biduk rumah tangga yang dijalani Bohai terlalu rumit. Ini memaksanya kabur dari kontrakan dan pergi meninggalkan Dakro. Yang pasti, alasannya tak jauh dari masalah ekonomi.

“Suami tuh tadinya karyawan, sekarang jadi pengangguran, gimana sih rasanya?” kata Bohai bertanya-tanya. Tentu menyedihkan dong Teh? Hehehe.

Sekarang, bukan hanya penghasilan Dakro yang tidak menentu, malah pulang hanya membawa cerita. Bukan cerita suka tentunya, melainkan berita duka. Dalam arti kata, selalu bilang tidak dapat uang, untuk membeli beras. Apalagi sebongkah berlian.

Awalnya, Bohai menerima Dakro apa adanya. Karena, keluarnya sang suami dari pekerjaan bukan seutuhnya kesalahan Dakro, melainkan perusahaan. Itu berdasarkan pengakuan Dakro. Namun, Bohai juga sedikit ragu yang memang mengenal watak sok gengsi Dakro.

Sebelumnya, Dakro bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan properti. Selain penghasilannya jelas setiap bulan, ditambah bonus setiap mampu menjual rumah terbilang cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Buah pernikahan mereka, dikaruniai satu anak laki-laki. “Saya enggak ngerti pikiran Mas Dakro sampai keluar dari kerjaan yang dulu. Tadinya, ekonomi kita lumayan. Paling tidak, enggak pernah dikejar penagih utang lah,” akunya. Enak dong.

Meski begitu, Bohai menghargai keputusan Dakro yang nekat keluar dari pekerjaanya setahun silam. Hal itu dipicu iming-iming Dakro yang mendapat tawaran pekerjaan baru dari temannya dan dinilainya lebih baik. Pengakuan Dakro itu, sedikit membuat Bohai lega. Dipikir Bohai waktu itu, Dakro ternyata masih memikirkan anak istri di rumah. Namun, sampai sekarang Bohai masih selalu bertanya-tanya, ada masalah apa sampai Dakro memutuskan keluar setelah lima tahun bekerja dan mendapat kepercayaan dari pimpinan perusahaan.

Seiring waktu, Bohai yang memang perawakannya lumayan montok, berkulit putih, dan rambut agak pirang ini mencoba sambil menyelam minum kopi. Bohai sambil menenangkan pikiran Dakro agar tetap semangat mencari uang, juga mencoba mencari tahu alasan Dakro sebenarnya.

Usut punya usut, ternyata alasan Dakro keluar kerja tak pernah disangka-sangka Bohai. Suaminya itu, ternyata tukang menilap uang konsumen. Belum lagi, sering mengutang sana-sini terhadap sesama rekan kerjanya. Ke koperasi juga utangnya menumpuk. Ow ow ow. Lantaran itu, perusahaan memecat Dakro, bukannya mengundurkan diri.

“Pantesan. Saya sudah curiga dari dulu. Soalnya, kok Mas Dakro, uangnya ada saja. Katanya sih bonus hasil penjualan rumah, ternyata hasil pinjam sana-sini,” terangnya.

Sejak keluar kerja, Bohai semakin memahami tabiat buruk Dakro. Buktinya, sampai saat ini pekerjaan yang dijanjikan Dakro, tak pernah ada. Alasannya, belum menerima tawaran temannya karena masih serius menjalankan bisnis. Namun, sampai sekarang hasil dari usahanya berbisnis tak pernah kelihatan. Yang ada, sering meminta meminjamkan uang ke keluarga Bohai. Katanya, untuk memulai bisnis barunya. Padahal, dari modal motor masih kreditan, Dakro mengikuti jejak temannya yang berprofesi sebagai penjual jasa antar jemput orang alias ngojek.

Keputusan Dakro menjalani profesi barunya itu, justru menjadi awal petaka keretakan rumah tangga mereka. Masalahnya, profesi itu dinilai Bohai tidak akan bisa menyelamatkan rumah tangga mereka dari jeratan utang. Penghasilan Dakro hanya cukup untuk membeli beras. Lembur sampai tengah malam pun, paling hanya bisa menutupi pembayaran listrik dan kontrakan. “Utang mana kebayar? Malunya itu loh, tiap hari ditagih utang,” keluhnya.

Lama-lama Bohai kewalahan. Karena penagih utang yang datang, bukan hanya dari leasing motor, tetapi dari tetangga, kerabat, sampai keluarga. Kondisi itu, membuat Bohai mengorbankan perabotannya dijual untuk membayar utang demi menutupi rasa malu. Tak sampai di situ, untuk biaya dan jajan anak ke sekolah pun terbengkelai.

Terdesak kebutuhan itu, Bohai kerap mengutang ke warung. Sayangnya, melihat Bohai yang dilanda kesusahan, Dakro malah cuek dan terkesan tak mau mengetahui urusan di rumah. “Yang penting, pas di rumah makanan harus tersedia, gitu. Bikin jengkel kan?” kesalnya. Jengkol enak ya teh!

Bohai semakin naik pitam karena Dakro kerap menyalahkannya yang dinilai tak becus mengatur keuangan di rumah. Padahal, jelas-jelas uang yang diberikan Dakro tidak cukup. Bahkan tak jarang, Dakro pulang tanpa membawa satu pun recehan. Alasannya, habis untuk beli bensin dan makan di jalan. Padahal, Bohai paham betul kalau Dakro paling doyan merokok, sudah seperti kereta api. Begitu padam, rokok berikutnya pasti kembali dinyalakan. Sehari, Dakro bisa menghabiskan rokok lebih dari dua bungkus. Sikap Dakro itu, tak jarang membuat Bohai geram.

“Ceritanya saya ingetin biar Kang Dakro kurangi ngerokok, eh malah ngeledek. Katanya, ‘justru rokok dia penginnya bakar pabriknya. Karena enggak mampu, makanya rokoknya dibakar satu-satu’ dasar, sudah susah, ngeselin. Enggak sadar kalau di rumah anak istri kelaparan,” sesalnya. Sabar Teh, masih hidup kan?

Merasa tidak ada perubahan, Bohai yang sudah merasa tak tahan dengan tingkah suaminya, akhirnya mengajak anak semata wayangnya pergi ke rumah orangtua dan meninggalkan Dakro. Soalnya, sehari-hari di kontrakan, Bohai kerap menghadapi penagih utang. Belum lagi, barang-barang juga ludes dijual. Terakhir, motor ditarik petugas leasing. Astaga.

“Saya capek Kang. Sebetulnya gampang, Kang Dakro mau berubah aja, terus cari kerja halal, selesai,” ujarnya. Ya berdoa saja, semoga Kang Dakro dapat hidayah. Yang penting kan Kang Dakro enggak main perempuan. “Kata siapa? Belum ketahuan aja,” tudingnya. Eeeaaa.

Sejak keluar dari pekerjaan, sifat Dakro malah semakin malas-malasan. Meski demikian, Bohai mengaku masih menunggu kehadiran Dakro yang dicintainya sejak masih sekolah menengah. Tentunya, dengan perubahan Dakro ke arah lebih baik dan menyadari semua kesalahan yang Dakro perbuat.

“Saya tuh enggak muluk-muluk Kang orangnya. Asalkan dia berjanji mau berubah, sama ada usaha lah. Itu aja kok,” tegasnya. Insya Allah, Kang Dakro bisa berubah. Amin. (Nizar S/Radar Banten)