Love Story: Berabe, Suami Kaya Tapi Kere

0
859 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

AWALNYA, Juju (29) bak mimpi kejatuhan durian runtuh bisa mendapatkan suami sekaya dan seganteng Joko (30), keduanya nama samaran. Wajar, wanita berperawakan agak sintal itu berasal dari keturunan keluarga sederhana. Juju tak lebih dari anak seorang buruh serabutan. Ibunya pun hanya pegawai salon biasa.

Meski demikian, Juju tidak pernah merasa minder, meski baru pertama kali menjalin hubungan dengan lelaki dari keluarga kalangan berada. Meskipun sebelumnya, mantan-mantan Juju memang tak lebih dari orang-orang biasa.

“Ya jelas bangga punya pacar ganteng dan kaya. Mimpi juga enggak pernah. Biasanya kan, pacar saya di kampung, anak tukang ojek, tukang bangunan. Sama anak tukang kuli panggul juga pernah,” ungkapnya. Eit dah, petarung semua dong.

Beruntung, Juju orangnya terpelajar sehingga bisa menyeimbangkan dengan keadaan Joko. Setelah lulus SMK, Juju mendapat tawaran bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan bidang pariwisata. Profesi itu pula yang menghantarkan Juju bertemu dengan Joko yang berperawakan kurus.

Suatu waktu, Joko tak sengaja menyewa kamar bersama keluarganya di tempat penginapan di mana Juju bekerja. Pandangan pertama, Joko langsung tergoda. Maklum, badan Juju dulu belum seboros sekarang. Saat masih gadis, tubuh Juju tinggi langsing, wajahnya manis, dan memiliki senyum menawan.

“Kalau Joko sudah pasti, saya suka dia karena ganteng. Kurus sih bukan masalah. Pikir saya, nanti juga sudah rumah tangga bakal gemuk,” harapnya. Gemuk enggak? “Kagak, malah tambah kerempeng,” candanya. batin kali? “Enggak lah,” sanggah Juju.

Tak hanya itu, Juju pun mau diajak berkenalan dan mengenal Joko lebih dekat pada pertemuannya yang singkat saat itu. Alasannya, terdorong penampilan Joko yang terlihat perlente. Widih, matrealistis juga.

Sepulang Joko dari tempat penginapan, komunikasi mereka berlanjut lewat ponsel hingga saling mengajak janji ketemuan. Mulai dari ketemuan di mal, tempat makan, sampai ke tempat rekreasi. Juju semakin bangga karena jalan bareng Joko, selalu diantar jemput menggunakan kuda besi beroda empat. Tentu saja, pemandangan itu membuat Juju sedikit jemawa di hadapan teman, kerabat, atau bahkan tetangganya.

“Ya, kelihatan lebih terhormat saja kalau diantar jemput mobil. Dia juga jorjoran. Bukan matre ya! Lagian, Joko tuh yang mengejar-ngejar saya,” akunya. Masa sih? “Benaran, swear deh,” balasnya. Iya iya percaya.

Selama hampir setahun menjalin hubungan dengan Joko, Juju tidak pernah tahu persis perangai Joko sebenarnya. Karena yang ada di depan mata, Joko selalu tampil sempurna dan bersikap seolah dia pantas disebut lelaki idaman. Terang saja, Joko pintar menutupi kekurangannya dengan cara menjaga image di depan Juju maupun kedua orangtua.

Lantaran itu, ketika Joko berniat meminang dan mengajukan lamaran kepada orangtua, Juju tak kuasa menolaknya. Terlebih, Juju saat itu berpikir, siapa tahu dengan menikahi pria kalangan berada, bisa membanggakan dan menyenangkan, serta tidak lagi membebani orangtua.

“Saya terimalah. Selain kaya, bapaknya pengusaha, kerjaan Joko juga mapan. Katanya, dia kerja di bagian keuangan di perusahaan industri,” terangnya.

Situasi itu semakin memantapkan hati Juju untuk segera duduk di kursi pelaminan bersama Joko. Singkat cerita, Juju dan Joko menikah. Hanya, Juju merasa sedikit janggal karena prosesi pernikahannya tak sesuai ekspektasi. Joko meminta pernikahan berlangsung secara sederhana.

Untuk menyiapkan pesta pernikahan, sumbangan dari keluarga Joko tak lebih dari Rp5 juta. Tak sebanding dengan keadaan ekonomi keluarga Joko yang dinilai Juju lebih dari itu. Juju berpikir pesta pernikahannya bakal wah. Ternyata, keluarga Joko meminta biasa-biasa saja. Meski kecewa, Juju dan keluarga tetap memenuhi keinginan keluarga Joko.

“Ya, malu saja. Keluarga sudah pamer ke tetangga bakal dapat menantu kaya, masa nikahnya biasa saja,” ujar Juju dongkol. Jangan begitu teh, yang penting kan sakral.

“Iya sakral. Tapi bikin tekor. Duit Rp5 juta mana cukup. Keluarga saya habis puluhan juta, enggak kembali modal tuh,” keluhnya.

Meski begitu, Juju dan keluarga tetap menikmati momen membahagiakan namun diselimuti tanda tanya dari pihak keluarga Juju, serta undangan yang hadir, termasuk tetangga. Uniknya, Joko dari sejak prosesi akad sampai selesai proses nikah, tampak acuh. Bahkan, tak ada satu pun keluarga atau kerabat Joko yang hadir ke pernikahan mereka. Semua tamu yang hadir, berasal dari undangan pihak keluarga Juju.

“Heran, kok orang setajir itu, masa enggak punya kerabat atau keluarga,” tukasnya keheranan.

Namun, Juju kembali berusaha untuk tidak berpikir negatif dan menikmati masa-masa indahnya pasca pesta pernikahan. Seiring berjalan, sebulan berumah tangga, Juju mulai merasakan keanehan itu datang lagi.

Ya, gaji bulan pertama Joko tidak sepenuhnya diberikan kepada Juju. Padahal, demi fokus menjadi istri terbaik bagi suami, Juju rela meninggalkan pekerjaannya. Namun, sepertinya keputusan Juju salah besar. Joko malah makin bertingkah, merasa dia yang mencari nafkah, Juju terus dirundung kebohongan suaminya. Bahkan, omong kosong Joko sampai terdengar ke telinga tetangga hingga rekan Juju.

Ya, Joko mengaku jabatannya manajer perusahaan lah, gajinya di atas Rp10 juta lah. Paling parah, mengaku ke teman-temannya, kalau semua gajinya diserahkan ke Juju selaku istri. Sementara, Joko mencari sampingan lain untuk menambah penghasilan.

“Iya, image dia bagus, image saya yang hancur. Kita tinggal di rumah besar punya bapaknya, tapi makan seadanya. Duit jarang pegang, setengahnya juga gaji Joko enggak dikasih ke saya. Kadang enggak sama sekali. Tapi, mengaku saya yang boros, kan jengkel jadinya,” kesalnya. Astaga, terus dikemanakan itu gaji? “Enggak tahu tuh juntrungannya,” ketusnya.

Ternyata, setelah Juju menanyakan kebenaran soal Joko di kantor Joko tempat bekerja, gajinya tak lebih dari Rp2 juta. Joko juga bukan bagian keuangan, melainkan hanya bagian gudang. “Ngakunya, enggak kasih gaji karena banyak keperluan, tapi keperluan yang mana? Dia enggak pernah jujur,” keluhnya.

Usut punya usut, ternyata keluarga Joko, termasuk Joko sendiri, sudah dijauhi keluarga atau bahkan kerabat-kerabatnya akibat mulut mereka penuh dengan kebohongan. Situasi demikian, berlangsung sampai mereka dikaruniai anak.

“Masalah kaya sih iya. Tapi, pelitnya itu, minta ampun. Masa orang kaya, tiap hari makannya ikan asin terus. Sayurnya, kangkung lagi kangkung lagi, mana ada gizinya,” keluhnya. Hemat mungkin Teh, hemat kan pangkal kaya. “Itu bukan hemat, tapi keterlaluan,” kesalnya.

Terus sekarang bagaimana? “Saya bertahan kayak begitu, karena lihat anak. Sekarang, sudah sebulan kita pisah ranjang. Percuma, punya suami kaya tapi kere, bikin berabe. Kita lihat saja, mau sampai di mana dia kayak begitu terus,” pungkasnya. Sabar ya Teh. (Nizar S/Radar Banten)