Love Story: Bercermin dari Sang Ayah

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Bercermin dari kehidupan ayahnya yang seorang tukang kawin ditambah pengalaman pahit yang dialami, Dewi (20), nama disamarkan, sangat membenci pria.

Kebencian ini dimulai dari perceraian kedua orangtuanya. Tanpa pikir panjang sang ibu pergi meninggalkan anaknya dan kembali ke rumah orangtuanya. Sedangkan sang ayah tidak pernah peduli dengan anaknya. Dewi beserta adiknya yang laki-laki diurus nenek dari ayahnya. Dewi tinggal di suatu desa di Kabupaten Serang.

Walaupun tinggal bersama sang ayah tapi Dewi dan adiknya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir angkot kerap kali pulang sangat larut dan berangkat pagi sekali. Tapi bukan hanya itu penyebabnya, ayahnya juga seorang pemabuk. Belum lama setelah perceraian dengan istri pertama, sang ayah sudah kembali menikah.

Hal inilah yang membuat Dewi merasa sangat muak. Dia tidak pernah diperhatikan dan diberi arahan karena sang nenek sudah sibuk untuk mengurusi adiknya yang kecil. Belum lagi sang nenek juga harus mencari biaya tambahan untuk Dewi sekolah karena ayahnya tidak pernah memberikan uang. Uang ayahnya dihabiskan untuk berjudi dan mabuk-mabukan.

“Saya benci banget sama ayah saya. Awalnya saya tidak mengerti apa saja yang dilakukan ayah saya. Saya pikir dia pergi pagi banget terus pulang sampai larut itu karena dia kerja, tapi ternyata dia malah menghamburkan uang, utang di mana-mana sampai main perempuan. Saya tahu ini dari gosip tetangga. Pertamanya nggak percaya tapi waktu itu dia bawa perempuan dan menyuruh saya memanggil mama kepada perempuan itu. Saya benar-benar kaget. Walaupun saya waktu itu masih terbilang kecil untuk mengerti tapi saya paham semuanya,” curhat Dewi.

Dewi yang kurang kasih sayang mulai ikut-ikutan temannya. Saat masih SMP dia sudah mencoba rokok. Dia merasa disayangi jika bersama temannya.

“Saya selalu senang bareng mereka, lagipula beberapa teman saya ada yang nasibnya sama, jadi kita saling mengerti rasanya nggak diperhatikan itu bagaimana. Mereka semua juga sudah seperti orangtua saya. Mereka selalu menjaga saya. Kalau masalah rokok atau pakaian, mereka itu nggak jadi masalah untuk saya. Lebih baik yang seperti mereka lah daripada ayah atau ibu saya. Teman-teman saya ini selalu ada saat saya sedih dan senang,” tutur Dewi.

Dewi yang sudah memasuki masa SMA, masih bisa percaya kepada pria. Dia berpacaran dengan Toni, teman satu kelas yang juga teman satu geng. Karena tidak pernah dikontrol baik oleh nenek maupun ayahya, Dewi yang memang sudah nakal sejak SMP semakin menjadi-jadi. Masa SMA nya dia pergunakan untuk mencoba segala jenis minuman. Pacarnnya pun sudah tidak terkendali. Dewi kerap kali tidak pulang ke rumah, dia mulai sering bolos. Bahkan dia sudah pernah mendapat surat pemanggilan orangtua, tapi tidak pernah dihiraukan.

“Buat apa juga saya kasih ke nenek atau ayah? Toh mereka juga nggak akan peduli. Pasti nanti nenek alasannya sibuk ngurusin adek, kalau ayah bagaimana caranya ngomong, dia aja nggak pernah di rumah lagi semenjak menikah sama istri barunya,” kata Dewi kesal.

Dewi begitu benci pada sang ayah. Dia meluangkan kekesalannya lewat minum-minuman. Sampai suatu hari dia mencoba narkoba. Awalnya Dewi hanya mencicipi, namun lama-kelamaan dia ketagihan. Dia juga hamil di luar nikah. Dewi hamil oleh Toni. Tapi begitu tahu Dewi hamil, Toni langsung menghilang. Dia tidak bertanggung jawab. Dari situ Dewi semakin kecewa. Dia berpikir, laki-laki itu sama semua. Dia mulai membenci pria, bahkan dia hanya berteman dengan perempuan.

Sebelum menyelesaikan SMA-nya, Dewi harus berhenti sekolah karena kehamilannya. Dia tidak menggugurkan bayi, dia urus hingga lahir. Lagi dan lagi setelah kelahiran sang bayi, diserahkan ke sang nenek. Dewi kemudian pergi dan memutuskan mencari kerja ke Jakarta. Dia berpikir, hidupnya tidak bisa seperti itu terus. Harus ada perubahan.

“Saya akhirnya mengerti kenapa ibu saya dulu pergi meninggalkan saya dan adik saya. Dia ternyata punya kepahitan yang sekarang saya rasakan dan dia pasti bertekad untuk bangkit agar hidupnya tidak seperti ini terus,” ujarnya.

Dewi berpikir, anaknya akan mengerti saat besar nanti alasan kenapa dia pergi. Di Jakarta, kehidupan Dewi bukannya semaikn membaik malah semakin kacau. Memang dia mendapat pekerjaan dengan standar UMR. Dewi mendapat pekerjaan sebagai pelayan di salah satu bar Jakarta. Lingkungan pekerjannya yang sangat bebas membuat Dewi lagi-lagi terjerumus ke dalam masalah perjudian, minuman keras, dan seks bebas.

Tapi ada yang beda kali ini, dia tidak bergaul dengan laki-laki melainkan perempuan. Setahun pertama setelah bekerja di Jakarta, Dewi sudah mempunyai pacar perempuan. Rambutnya yang dipotong pendek dan pakaiannya yang sangat tomboy menyerupai laki-laki, membuat Dewi merasa bahwa takdirnya seharusnya seperti ini.

“Saya lebih nyaman dengan perempuan, karena lebih mengerti. Lagi pula saya sudah kapok dikecewakan oleh laki-laki. Selama saya pacaran dengan perempuan buktinya saya biak-baik aja, dan juga saya nggak pernah sakit hati,” aku Dewi.

Dewi bahkan sudah berani membawa pacar perempuannya itu ke rumah neneknya sewaktu liburan. Di sana ternyata ada ayahnya yang sudah kembali ke rumah ibunya. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Dewi. Penampilannya yang sangat mencolok membuat Dewi menjadi bahan tontonan. Tapi dengan percaya diri Dewi masuk ke rumah neneknya itu. Neneknya pun sama terkejutnya, dia tidak menyangka cucunya akan seperti ini. Ayahnya hanya bisa diam melihat mata Dewi yang sangat dipenuhi kebencian.

Akhirnya detik itu juga ayahnya menyadari selama ini dia tidak pernah memperhatikan Dewi. Dia tidak pernah jadi tempat untuk Dewi bercerita. Dan saat itu hanya ada penyesalan. Tapi tidak dengan Dewi yang justru berbangga diri, karena dengan hasil kerjanya dia sekarang sudah tidak lagi berkekurangan, dan mendapat pacar perempuan yang kaya.

“Saya bangga dengan diri saya, saya bisa seperti sekarang punya rumah dan mobil itu hasil kerja keras sendiri tanpa bantuan orangtua saya,” tutup Dewi. (Hellen-Zetizen/Radar Banten)