Love Story: Biar Banyak Utang, yang Penting Gaya

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

BAGUS (37), bukan nama sebenarnya, sudah dibikin pusing tujuh keliling oleh kelakuan istrinya, sebut saja Ojah (36). Perilaku Ojah sudah kelewat batas. Bagaimana tidak, Ojah tidak pernah mengukur diri dengan kehidupannya bersama Bagus yang memang pas-pasan.

Profesi Bagus hanyalah seorang buruh pabrik, sementara Ojah sendiri hanya ibu rumah tangga yang sesekali berjualan berbagai jenis pakaian secara kredit door to door. Tapi, Ojah nekat bergaya sok borjuis dan mengikuti pergaulan ala ABG (anak baru gede) akibat bergaul dengan teman-temannya semasa SMA yang bergaya sosialita. Ojah pun larut di dalamnya.

Padahal, jelas-jelas penghasilan Bagus hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Lantas, bagaimana Ojah bisa mengikuti gaya sosialita teman-temannya yang jelas-jelas memiliki kehidupan lebih glamor? “Justru itu, Ojah mengandalkan berutang untuk bisa bergaya sosialita. Otomatis, utang saya jadinya ke mana-mana, bikin stres,” keluh Bagus sambil garuk-garuk kepala.

Ya, Ojah mengandalkan berutang untuk bisa meniru gaya perlente teman-teman sejawatnya. Lantaran itu, hampir setiap hari ada saja yang menagih utang ke rumah. Kondisi itu, membuat keluarga Bagus dan keempat anaknya tidak tenang. Soalnya, utang Ojah tak hanya ke saudara dan tetangga, melainkan juga langganan Ojah yang biasanya membeli pakaian pun menjadi korbannya. Belum lagi, rentenir yang terus menaikkan bunga setiap kali Bagus terlambat mencicil utang setiap bulan. “Kalau begini terus, lebih baik pisah,” kesalnya. Sabar Bang, setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya.

Diceritakan Bagus, perilaku Ojah muncul sepulang mengikuti acara reuni dengan teman-teman SMA-nya setelah delapan tahun pisah. Reuni berlangsung di sebuah kafe plus karaoke di Serang. Sebelum berangkat reuni, dua hari sebelumnya Bagus sudah disibukkan oleh Ojah yang ingin terlihat sempurna di depan alumni SMA-nya dulu. Ojah minta dibelikan semua perlengkapan yang dibutuhkan agar Ojah bisa pergi ke tempat reuni dengan penuh percaya diri. Mulai dari perhiasan emas untuk mempercantik dirinya, gaun mahal, sepatu, sampai kosmetik bermerek. Terakhir, sehari sebelum berangkat, Ojah meminta biaya tambahan untuk perawatan di salon. Belum lagi, uang untuk bekal di jalan. Jelas, permintaan Ojah itu sempat membuat Bagus kebingungan.

Akhirnya, demi menyenangkan sang istri, Bagus terpaksa meminjam uang ke koperasi perusahaan dan merelakan gajinya dipotong setengahnya setiap bulan. “Waktu itu, pikiran saya enggak mau istri malu di hadapan teman-temannya. Sebagai suami yang baik, akhirnya saya turuti saja,” katanya. Oh so sweet.

Disadari Bagus, jika acara reuni di mana-mana image-nya memang negatif. Rata-rata, kata ‘reuni’ hanyalah formalitas. Karena kenyataannya, reuni bukan ajang silaturahmi, melainkan hanya dijadikan ajang adu gengsi. Seperti yang terjadi pada Ojah dan teman-temannya. Masing-masing memamerkan segala yang mereka punya. Termasuk profesi suami dijadikan kebanggaan. Termasuk Ojah, yang tak mau mengakui kalau suaminya hanyalah seorang buruh pabrik. “Ojah ngaku ke teman-temannya kalau saya seorang pengusaha, bagaimana enggak pusing Mas. Harusnya, kan jujur saja, kenapa harus malu,” ketusnya. Benar Bang, Pengusaha itu kan pengangguran yang utangnya dijadikan usaha. Hehehe.

Untungnya, Ojah tak pernah mengajak teman-temannya ke rumah kontrakan. Mungkin Ojah takut ketahuan kalau realitanya memang tak punya apa-apa. Singkat cerita, Ojah terbujuk ajakan teman-temannya untuk mengikuti gaya mereka. Sejak itu, Ojah yang ingin mengimbangi gaya sosialita teman-temannya, akhirnya mulai pinjam uang ke saudaranya. Soalnya, Ojah tahu kalau Bagus gajinya pas-pasan. Apalagi, setelah dipotong koperasi, buat makan pun mulai berkurang. Bahkan, anak-anak ke sekolah juga sudah mulai jarang jajan karena keterbatasan anggaran di kantong Ojah maupun Bagus. “Tahu saya sudah minus gajinya, Ojah mulai berani pinjam uang ke mana-mana. Bikin malu saja. Padahal, cuma buat gaya-gayaan doang,” terangnya.

Dari coba-coba, akhirnya terbiasa. Upaya meminjam uang terus dilakukan Ojah hingga berlanjut ke tetangga, langganan pembeli pakaian, bahkan ke sejumlah rentenir. Usaha pinjam meminjam dilakukan Ojah karena kepepet. Alasan Ojah, tak ingin dipermalukan di hadapan teman-temannya kalau kenyatannya dia memang bukan orang mampu. Semua itu dilakukan Ojah tak lain hanya demi gaya. Padahal, menurut pria berjanggut itu, apa yang dilakukan istrinya, sama sekali tak ada untungnya. “Kita sudah susah, dengan kelakuan istri tambah susah. Capek Mas, malu, utang istri saya di mana-mana. Ke kontrakan juga sudah banyak yang nagih, bingung bagaimana bayarnya,” tukas Bagus kebingungan.

Tentu saja, situasi itu membuat Bagus geram. Bagus menyadari kalau tingkah Ojah sudah keterlaluan. Tak hanya menelantarkan anak-anaknya, Ojah juga sudah jarang di rumah akibat sibuk bergaul dengan rekan-rekannya. Ojah hampir setiap hari, pergi pagi pulang malam. Sementara anak-anaknya sering ditinggalkan di rumah. Kondisi itu, membuat rumah tangga Bagus dan Ojah selalu terlibat pertengkaran hingga diambang perceraian. “Ojah itu keras kepala. Dinasehati enggak terima. Padahal, sudah jelas-jelas kelakuannya itu salah. Makanya, saya ancam cerai saja. Eh, malah menantang,” ujarnya.

Lantaran itu, Bagus sudah tak tahan dan pergi dari rumah kontrakan sambil membawa anak-anaknya tanpa sepengetahuan Ojah. Maksud Bagus, supaya Ojah sadar dan mau introspeksi kesalahannya. Namun, Ojah malah balik ke rumah orangtuanya. Bahkan, Ojah mengadukan Bagus yang dinilai tak bertanggung jawab karena meninggalkannya. Padahal, Bagus sudah lebih dulu menjelaskan ke mertuanya kalau kelakuan anaknya sudah kelewat batas.

Benar saja, di rumah orangtuanya juga kelakuan Ojah tak berubah. Ojah malah makin berulah, yakni mulai pinjam uang kepada orangtuanya untuk kembali ke dunia pergaulan yang dinilai Bagus tak pantas ditiru. “Mertua saja katanya pusing menghadapi kelakuan Ojah. Makanya, saya biarkan saja. Sebelum dia berubah, saya enggak mau ketemu dia. Lebih baik saya fokus kerja sambil mengurus anak-anak,” tegas Bagus yang kini menumpang tinggal di rumah orangtuanya selepas pergi dari kontrakan. Ya, saya hanya bisa mendoakan saja, semoga Mbak Ojah cepat sadar dan kembali ke pelukan Abang dan anak-anak. Amin. (Nizar S/Radar Banten)