Love Story: Bigos dan Garang, Tetap Tersayang

0
856 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

ISTRI Boim (29), nama samaran, sebut saja Nenah (23), bukan kali ini dimusuhi tetangga atau bahkan saudara-saudaranya. Hal itu dipicu, sifat Nenah yang kekanak-kanakan dan gampang terhasut dengan gosip murahan.

Parahnya, gosip murahan yang setiap ia dengar, selalu disebar ke mana-mana dan ditambah-tambahkan. Nenah juga orangnya keras kepala, tak pernah mau menerima nasihat orang. Lantaran itu, kehadiran Nenah di mana pun, dianggap sebagai biang masalah. Otomatis, Boim selaku suami sah Nenah kena imbasnya. Kondisi demikian, membuat pasangan Boim dan Nenah selalu berpindah-pindah kontrakan menjalankan rumah tangganya.

“Capek sama kelakukan istri nih. Sudah kelima kalinya, kita pindah kontrakan,” keluhnya. Kenapa Kang, diusir? “Bukan diusir, saya aja yang tahu diri. Daripada jadi bahan gunjingan tetangga,” ujarnya. Hmmm, makin enggak ngerti nih?

Diceritakan Boim, ia mempunyai istri bigos alias biang gosip. Makanya, menetap di lingkungan mana pun setelah menyadari sifat buruk Nenah, pasti ujung-ujungnya dimusuhi tetangga. Namun, sampai saat ini pria bertubuh sedang itu, masih memaklumi dengan karakter Nenah yang keras dan berapi-api. Mungkin, karena jiwanya masih muda sehingga tak pernah berpikir penjang setiap mengambil keputusan. Setiap disalahkan orang karena perilakunya yang dianggap telah mengadu domba, Nenah selalu tak pernah menerima. Malah, anak bungsu dari tiga bersaudara itu, suka berbalik menyerang lawan.

“Udah jelas salah juga, maunya menang aja. Mulutnya enggak bisa dijaga. Dasar keras kepala, capek deh,” kesalnya. Sabar Kang.

Pria berambut cepak itu pun mencontohkan salah satu perilaku sang istri yang membuat para tetangga geram. Kalau soal penyebaran gosip sih, itu biasa. Ini, Nenah sengaja membuka usaha warungan tepat di sebelah tetangga yang jelas-jelas membuka warung duluan di rumah kontrakan. Kemauan Nenah itu tiba-tiba, tanpa direncanakan. Tepat dua hari setelah tetangga sebelahnya mulai membuka usaha warungan.

Melihat warung tetangga yang didekor sederhana, sekadar menggunakan etalase bekas berjualan pulsa, serta jajanan seadanya, Nenah malah semakin tak mau kalah bersaing. Dia sengaja membeli etalase lebih besar daripada yang dimiliki tetangga. Aneka jajanan yang disediakan Nenah juga lebih beragam.

Tentu saja, situasi itu membuat tetangganya risi dan semakin geram. Terlebih, ketika konsumen lebih memilih belanja di warung milik Nenah, karena dirasa lebih lengkap dan banyak pilihan. Akhirnya, upaya Nenah yang dinilai iri itu, mendapatkan teguran dari tetangga. Bukannya meminta maaf, dalam artian menjelaskan secara lebih dewasa seperti yang diharapkan Boim, Nenah justru bereaksi keras atas teguran tetangga.

“Bukannya ngaku salah, istri malah ngajak berantem. Yang malu saya. Masa sama tetangga sebelah enggak akur. Gimana anggapan tetangga yang lain,” tukasnya. Jelasin aja, kalau Nenah sama tetangganya lagi beradu akting film berjudul ‘tawuran’. Hehehe.

Daripada tidak ada kerukunan tetangga, Boim kerap memilih cari aman, yakni pindah kontrakan. Meskipun Boim harus menahan caci maki istrinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya Nenah mengikuti keputusannya untuk pindah. Nenah yang memang naksir lebih dulu sebelum memutuskan untuk menikah dengan Boim, secara bertahap terbujuk rayuan sang jantan.

Berkat sifat kesabaran yang dimiliki Boim, setahap demi setahap Nenah luluh juga. Namun, peringatan dari Boim itu tak membuatnya sadar akan kesalahannya. Perbuatan Nenah itu, terus berulang setiap pindah kontrakan. Situasi itu, membuat kehidupan Boim dan Nenah tak pernah mempunyai banyak kawan.

“Jangankan tetangga, sama keluarga juga dia mah dimusuhi. Soalnya, kalau ngomong, suka merasa paling benar,” kilasnya. Padahal? “Ya, menurut saya sih enggak pernah ada yang benar. Yang bicara selalu emosi,” yakinnya. Eit dah, segitunya.

Diceritakan Boim. Dulu, Nenah adalah gadis yang baik dan manis, cuma manja-manja dikit. Namun, sifat itu pula yang mampu mencuri perhatian Boim sehingga ingin mengenalnya lebih dekat.

Pertama ketemu Nenah, saat Boim ikut menjadi panitia kegiatan peringatan HUT RI di kampungnya. Atau lebih dikenal dengan kegiatan Agustusan. Boim senior di karang taruna di salah satu kecamatan wilayah Serang, sementara Nenah salah satu anggotanya. Dari sekian banyak perempuan yang tergabung di organisasi sosial itu, Boim dari awal memang merasa Nenahlah yang paling mencuri perhatian. Cantik, lucu, imut, dan masih muda karena baru lulusan SMA.

“Pokoknya, menarik deh orangnya. Di organisasi juga banyak yang naksir. Cuma, Nenah lebih merhatiin saya dulu,” akunya bangga. Idih, pede banget.

Merasa ada chemistry, Boim berbalik memberikan sinyal kepada Nenah. Tentu, sikap lebih yang ditunjukkan Boim kepada Nenah, membuatnya semakin kegeeran. Merasa sudah tidak bisa menahan perasaannya terhadap Boim, Nenah akhirnya nembak duluan. Dor. Tentu saja tembakan Nenah langsung mengena di hati Boim dan tidak perlu berpikir panjang untuk menerimanya.

“Pikir saya dulu, kapan lagi dapat ABG, orangnya baik, cakep lagi. Lumayan, rezekilah,” celotehnya.

Setelah berhubungan cukup lama, Boim tak pernah lagi berpikir panjang untuk segera melamar Nenah. Apalagi, Nenah berasal dari keluarga cukup dihormati di kampungnya. Belum lagi, selama setahun berpacaran, selain cantik, Nenah dikenal baik, ramah dan tahu etika. Hal itu yang membuat Boim langsung kepincut.

Boim juga tak kalah mapan. Lelaki berkumis tipis itu, selain tenar dan dikenal positif di kampungnya, juga sudah menyandang status PNS. Singkat cerita, mereka pun menikah dan mulai menjalani bahtera rumah tangga. Namun, seiring berjalan, setelah dua bulan berumah tangga sifat aslinya pun keluar.

“Dua bulan pertama doang dia baik. Ke sini-sininya, hmm, garang. Tapi, gimana pun, dia tetap istriku tersayang. Apalagi, sekarang kita sudah punya anak. Jadi, harus bisa menerima kekurangan pasangan kita,” pungkasnya. Syukur deh Kang. (Nizar S/Radar Banten)