Love Story: Bukan Kepelet, Cuma Cinta Monyet

0
607 views
Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

MONA, nama samaran, masih terlalu muda untuk menyandang status janda. Perempuan berkulit putih ini, baru menginjak usia 22 tahun, tetapi sudah dikaruniai anak berusia enam tahun. Kalau dihitung-hitung, berarti saat Mona menikah baru menginjak usia 16 tahunan.

Hal itu tak lain akibat termakan rayuan mantan suaminya yang saat itu juga masih ABG, sebut saja Jaja (22). Karena sama-sama muda dan sepertinya belum siap betul membangun rumah tangga, kehidupan Mona pun bak lagu yang populer pada 2011 berjudul Butiran Debu, yakni tenggelam dalam lautan duka lara.

Iya, selama berumah tangga, Mona tak pernah merasakan sedikit pun kebahagiaan dari Jaja. Yang ada, Mona terus meratapi kesedihan karena terus diselingkuhi pria yang merupakan teman sekolah sekaligus tetangganya itu. Padahal, saat masih ABG Jaja dikenal pendiam. Namun, seiring kedewasaannya tumbuh, Jaja semakin beringas terhadap setiap wanita. Ow ow ow. Dasar lelaki buaya darat. Mungkin Jaja sudah merasakan nikmatnya menjadi orang dewasa. Merasa dipermainkan, Mona akhirnya angkat kaki mengajak anaknya meninggalkan karyawan pabrik di industri Serang itu untuk selamanya.

“Kalau dipertahankan, kasihan ke anak, Kang. Yang ada malah bikin sakit hati. Jaja sudah enggak pernah mikirin keluarga sejak nikah. Anak enggak keurus, mikirin diri sendiri, kayak anak kecil,” keluh perempuan berambut panjang ini.

Alasan kuat Mona meminta cerai ke Jaja, sudah tidak terhitung berapa kali ia memergoki Jaja selingkuh. Baik dengan teman kerjanya di pabrik, tetangga, hingga mantan yang dulu pernah Jaja tinggalkan. Jaja tak pernah jujur dan hanya mementingkan kebutuhan pribadi. Seperti ponsel saja, Mona tak pernah dibelikan. Yang pegang ponsel hanya Jaja. Pengakuan Jaja, gajinya tak cukup untuk membeli ponsel lagi.

“HP dia yang pegang, alasannya dia lebih banyak keperluan dibanding saya. Tapi, kalau saya pinjam sebentar saja, enggak pernah dikasih. Bilangnya, pasti gini ‘percuma kamu pinjam juga, enggak ada pulsanya’ sambil dimasukin lagi HP-nya, bikin jengkel kan?” kesalnya. Mona yang merasa bosan dengan bualan Jaja tak tahan lagi sehingga mantap dengan keputusannya meninggalkan Jaja.

Proses perceraian Mona dan Jaja tidak ada acara ke pengadilan. Sebab, mereka hanya menikah siri. Sampai sekarang mereka bahkan belum isbat nikah. Maklum, keduanya berasal dari kampung. Prosesi ijab kabul pernikahan mereka enam tahun silam, cukup dipercayakan kepada tokoh agama setempat, disaksikan kedua belah pihak keluarga. Lantaran itu, perceraian mereka pun cukup dengan kata talak dari suami.

“Setiap saya singgung soal wanita lain, dia pasti marah dan mengancam dengan kata talak. Tapi, saya masih tahan karena lihat anak. Padahal, secara agama kan, kalau suami sudah ngucapin talak, artinya kita sudah dicerai. Tapi, mau gimana lagi?” terangnya.

Hebatnya, Mona mampu mempertahankan rumah tangganya selama lima tahun, meskipun terus meratapi kesedihan terus dibohongi dan disakiti oleh Jaja. Jaja sendiri tak tahu diri, awal-awal pernikahan mereka, Jaja masih berstatus pengangguran. Selama lima tahun itu pula, Mona terus merasakan pahit dan getirnya berumah tangga dengan Jaja yang ternyata aslinya buaya. Padahal, tidak ada yang bisa dibanggakan dari Jaja. Rumah tangga mereka dibiayai orangtua, banyaknya mengutang ke tetangga karena Jaja tak pernah memberikan nafkah.

“Orangnya cakep kagak, kaya juga kagak, brengsek iya. Heran saya juga, kok dulu bisa suka sama dia,” sesalnya. Jadi, ceritanya kepelet nih. “Kepelet sih enggak, cuma dulu, namanya ABG, masih cinta-cinta monyet gitu,” akunya. Nah loh, ini yang bercinta orang apa monyet.

Mona mengaku menyesal pernah menikah saat usianya masih belia, hanya karena didorong nafsu sesaat. Diceritakan Mona, Jaja adalah teman SMP sekaligus tetangganya di kampung wilayah Kabupaten Serang.

Jaja sudah lama menaksir Mona yang memang memiliki paras manis. Mona tadinya tidak terlalu menanggapi sikap Jaja yang sudah menunjukkan tanda-tanda suka sejak lama. Namun, sikap Jaja yang pantang menyerah untuk mendapatkan pujaan hatinya, mampu meluluhkan hati Mona juga. Padahal, saat itu Mona sudah memiliki pacar.

“Namanya cinta monyet, ya sama pacar jalan, sama Jaja juga coba saya jalani,” ucapnya. Yaelah, ternyata sama-sama buaya. “Yang jelas, saya enggak bisa nolak waktu itu. Soalnya, Jaja janji bisa membahagiakan saya. Kan ada orangtua pernah bilang, kalau cari pasangan itu yang sayang sama kita,” katanya. Iya, tapi hati-hati ketipu sama orang yang pura-pura sayang juga.

Singkat cerita, setelah lulus sekolah, berawal dari coba-coba gaya berpacaran ala Eropa, ya nakal-nakal gimana, Mona kebablasan. Untuk menjaga nama baik kedua belah pihak keluarga, Mona dan Jaja dinikahkan karena hamil duluan. Benar saja, ada pepatah mengatakan, rumah tangga yang diawali dengan tidak baik maka akan berakhir dengan tidak baik pula. Nah, hal ini pula yang dialami Mona.

“Terus terang saya nyesel. Padahal, jujur saja, waktu itu enggak terlalu suka tuh sama Jaja, cuma terbawa suasana saja,” akunya. Enak mah enak saja Teh. Hehehe. “Swear Kang, dari sejak nikah, enggak ada yang bisa dinikmati hidup sama Jaja, makanya sekarang pilih pisah,” tegasnya.

Untuk melanjutkan hidup dan menghidupi anaknya, kini Mona harus berjuang keras mencari nafkah sendiri. Mona menjalani profesi sebagai sales di salah satu produk kecantikan. Penghasilannya lumayan per bulan, paling tidak bisa mencukupi biaya makan sehari-hari dan sekolah anaknya.

Lain dengan dulu waktu masih menjadi istri Jaja, Mona begitu menderita. Ia terpaksa terus mengutang ke sana kemari, sampai utangnya menumpuk dan tidak terlunasi agar tetap bisa makan untuk bertahan hidup. “Alhamdulillah, sekarang enggak terlalu sulit ekonomi. Makanya, saya enggak mau salah lagi nyari calon suami, harus pilih-pilih. Yang terpenting, dia sayang anak sama istri,” katanya. Bagus deh, saya doain semoga dapat yang terbaik. Amin. (Nizar S/Radar Banten)