Love Story: Cinta Tak Selalu Jujur

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Manis di awal pahit di akhir, begitu sindiran banyak orang yang dilontarkan kepada pasangan muda ini. Panggil saja Meli (27) dan Ega (29), bukan nama sebenarnya, pasangan suami istri yang menikah pada awal 2015 di Kota Serang.

Ega yang mencintai Meli, meminangnya dan membuat pernikahan cukup megah. “Kami pacaran selama empat bulan lebih, lalu memutuskan untuk cepat menikah. Saya sangat mencintai Meli, sampai saya tidak pernah marah di depannya walau kadang ada masalah,” kata Ega.

Tidak hanya cinta yang Ega berikan, tapi semua harta yang ia miliki juga diserahkan kepada Meli. Ketulusan Ega saat ini begitu dalam, Meli juga merasa senang dan terlihat mencintai Ega. Kebahagiaan terus terpancar ketika Meli mengandung anak dari Ega. Keluarga kecil ini akan terus bersinar seperti oksigen yang membuat hidup, begitu pikir Ega.

“Saya terharu ketika mendengar Meli hamil, kami akan memiliki anak dan menjadi keluarga bahagia. Meli juga sangat bahagia akan memiliki keturunan, ini terpancar ketika ia memeluk saya. Tapi menginjak usia hamil keempat bulan sikap Meli berubah, dia menjadi angkuh dan tidak mau di dekati. Awalnya saya pikir ada kesalahpahaman yang dia simpan dari saya, sehingga sikapnya berubah,” curhat Ega.

Hari demi hari berlalu hingga tiga bulan lamanya sikap Meli seperti ini. Ia cuek, tidak peduli dan tidak mau berdekatan dengan Ega. Sikap inilah yang membuat hati Ega rapuh dan tidak tahu harus bagaimana. “Saya bertanya kepada mertua saya, kenapa sikap Meli seperti itu? Lalu mereka menjawab, mungkin bawaan janin, nanti juga setelah melahirkan akan berubah lagi karena Meli membutuhkan kamu, suaminya,” begitu anggapan mertuanya.

Hal ini membuat sedikit menenangkan pikiran Ega. Ia tetap sabar mencintai istrinya walau tidak di respon Meli. Sikapnya masih terus sama sampai hari kelahiran buah hati mereka tiba.

Ega pikir ia akan menjadi pria bahagia setelah kelahiran puteranya. Keluarga kecil bahagia, begitu harapan Ega. Tanpa disangka Meli tetap memiliki sikap seperti ini pasca melahirkan. “Saya pikir mungkin Meli lelah karena persalinan yang sulit, jadi dia tidak mau banyak bicara dulu dengan saya,” jelas Ega.

Berminggu-minggu setelah kelahiran putera pertamanya, sikap Meli tidak berubah. Ia masih saja tidak peduli dengan Ega bahkan sekarang menular kepada anaknya, sampai-sampai Ega yang harus mengurus segala kebutuhan anaknya.

“Meli itu wanita apa yah? Saya emosi dengan istri saya. Dia itu sudah menjadi ibu, kenapa anaknya diterlantarkan? Dia boleh menjauhi saya, tapi tidak dengan anak saya,” ucap Ega kesal.

Tidak tahan dengan sikap Meli yang seperti ini, Ega protes dan marah. Ia berusaha untuk menahan semua emosinya dan menutupi semua masalah dari kuping tetangga, bahkan orangtuanya pun tidak tahu. Tapi sekarang tidak ada tempat untuk sabar di hati Ega.

“Sebelumnya saya tidak pernah marah, walaupun kesal tapi saya tahan karena saya mencintai Meli. Saya tidak mau membuat Meli sakit, tapi cukup. Kali ini saya tidak mau diam, saya suaminya dan dia harus taat kepada saya,” katanya.

Ega marah dan tidak bisa menahan emosinya lagi, tapi Meli tetap cuek bebek mendengar perkataan Ega. Tidak tahan melihat istrinya, Ega berlutut dan menangis, meminta maaf kalau Ega punya salah. “Saya tidak menyangka Meli berkata, maaf kalau sikap saya berubah tapi jujur saya lelah dengan sikap kamu. Saya tidak habis pikir Meli berkata seperti itu, apa salah saya? Apa ketulusan saya tidak cukup?” tutur Ega sedih

Ega memutuskan untuk diam dan berharap Meli merasa kesepian dan membutuhkan suaminya. Ega mengurus kebutuhan anaknya dengan setulus hati, walaupun ia tidak tahu cara menggantikan popok, memberi susu hingga memandikan anak, tapi Ega tetap belajar merawat anaknya dengan baik. Sementara Meli, ia hanya mau membereskan rumah tanpa mengurus anaknya sekalipun.

Hari demi hari berganti, bulan demi bulan pun ikut berganti. Meli mulai sibuk keluar rumah dengan alasan mencari kerja. Ega melarang Meli untuk kerja karena Ega lah yang harus menghidupi keluarganya, rumah dan keuangan mereka juga bisa dibilang cukup memadai. “Hampir setiap hari Meli keluar dan pulang larut malam. Saya khawatir karena dia wanita, saya tetap mencintainya walau Meli tidak peduli dengan kami berdua,” tambah Ega.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah juga. Pepatah lama tersebut sangat cocok dilontarkan untuk sikap Meli selama ini. Ia tertangkap basah sedang jalan dengan seorang pria di salah satu mal di Tangerang. Ega yang sengaja mengikuti aktivitas Meli hari itu, panas melihat Meli dan lelaki di sampingnya dan hampir melabrak mereka. Untung saja Ega sangat dewasa dan memilih untuk diam, ia mau menyelesaikannya secara pribadi.

Puncak masalah hubungan Ega dan Meli terjadi. Ega marah, kecewa, dan hampir jatuh karena ulah istrinya. Tapi Ega bukan pria lemah, ia kuat sehingga masalah berat inipun bisa ia kendalikan. “Awalnya saya tanya baik baik, darimana? Tapi dia masih bohong. Suara saya mulai meninggi tapi dia tetap saja bohong dan mengelak. Saya tidak tahan, saya pegang bahu dia sekeras mungkin hingga Meli meringis, akhirnya dia mengaku, habis jalan dengan prianya. Begitu hancur perasaan saya saat itu, saya tidak tahu harus bagaimana,” curhat Ega.

Ternyata Meli sudah dekat hubungan dengan pria itu sejak ia mengandung anaknya dengan Ega. Sebut saja dengan nama samaran Yanto. Meli dan Yanto adalah sepasang kekasih semasa SMA, Yanto pergi merantau ke luar kota mencari uang untuk menikahi Meli. Tapi saat Ega datang dengan banyak harapan, Meli memilih untuk menerima pinangan Ega. Meli berharap Yanto tidak tahu hal ini dan melupakan Meli. Ternyata Yanto kembali dengan harta yang lebih besar, begitupun dengan hati Meli yang sebenarnya masih ada untuk Yanto.

“Sangat aneh memang, kalau Meli masih mencintai Yanto yah harusnya jujur dong dari dulu. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, anak pun sudah ada dan butuh pertanggung jawaban. Saya buka masalah ini di hadapan keluarga besar, saya tidak peduli kalau Meli malu dan bersalah. Sekarang yang terpenting adalah anak, dia anak saya. Saya tidak mau Meli menyentuh anak saya sampai kapanpun,” tutup Ega. (Bita-Zetizen/Radar Banten)