Love Story: Cinta Terlilit Utang

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

CINTA itu terkadang memang tak memandang segala jenis genre, umur maupun lainnya. Seperti kisah dua sejoli yang disatukan karena terlilit utang. Sebut saja laki-laki tajir berstatus duda dua anak itu Malih (45) dan perempuannya, Marni (26). Keduanya nama samaran.

Cinta memang terdengar seperti hal membahagiakan, menyenangkan bahkan didambakan. Tapi semua itu tidak bagi Marni yang menghuni rumah ala-ala Betawi di daerah Pamulang, Tangsel. Memang cinta itu tidak memandang status, umur tetapi terkadang cinta juga datang karena hal-hal terdesak. Salah satunya karena orangtua Marni yang bekerja di DKPP Tangsel dan malamnya sebagai security di salah satu komplek di Pamulang.

Semua itu memang berawal dari takdir, tapi terkadang takdir itu cukup menggelitik. Bagaimana tidak, Marni yang  kembang desa dipersunting laki-laki uzur, duda bahkan sudah memiliki dua anak. Pastinya berita tersebut sudah menyebar kemana-mana.

Awalnya dimulai dari ibu-ibu yang rutinitas membeli bahan sayuran di tukang sayur keliling sembari bergosip di pagi hari. Sebenarnya banyak warga yang tidak tahu, Marni itu menikah dengan laki-laki tua. Orang-orang satu kampung sebenarnya tahu Marni akan dinikahkan, tapi yang mereka tidak tahu Marni menikah dengan lelaki tua. Padahal Marni merupakan sosok yang ramah, murah senyum dan banyak digila-gilai pemuda kampungnya.

“Kabar Marni mau kawin tuh sudah tersebar banget, wah kembang desa berkurang satu nih,” tukas Saprol, sebut saja begitu yang  merupakan salah satu pemuda desa.

Marni pun serba salah di posisi tersebut, jika tidak mengiyakan perintah orangtua, ia akan menambah masalah baru di keluarganya. Tapi jika mengiyakan perintah orangtuanya pun, Marni seperti setengah-setengah. Bagaimana tidak, Marni sudah menjalin pacaran cukup lama dengan salah satu laki-laki yang ia kenal di tempat kerjanya di daerah Epicentrum Jaksel. Tapi apa boleh buat, Marni menuruti perintah orangtuanya. Karena utang mereka sudah cukup banyak. Dengan cara inilah utang tersebut hilang.

Suara-suara petasan menggema di seluruh kampung, pertanda besan dari keluarga Malih sudah datang. Sontak seluruh tamu undangan itu kaget bukan kepalang. Marni yang berstatus kembang desa dipersunting Malih, lelaki tua bangkotan. “Masyallah si Marni sudah gila kali ya, atau memang suka sama yang tua-tua,” tukas Saprol, sebut saja begitu, yang menjadi tamu di pernikahan Marni bercerita.

Tak lama, Marni pun keluar, raut wajahnya senang namun di dalam hatinya campur aduk tak karuan. Tetapi semua itu tertutupi oleh paras cantik nan ayu dari Marni. Dengan disuguhkan makanan cukup wah, undangan pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu karena jarang terjadi. Makanan selalu habis.

“Jarang-jarang nih kita makan enak seperti ini, biasanya kondangan makanannya gitu-gitu doang, mainstream,” curhat Saprol lagi yang kala itu mengambil satu piring penuh berisi dimsum.

Marni memang anak yang baik, ia rela mengkebiri keinginannya untuk kebahagiaan keluarganya. Cerita ini layaknya pada masa-masa lampau, mirip-mirip seperti kisahnya Siti Nurbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih. Bedanya ini terjadi di zaman milenium.

Saprol melanjutkan, Marni memang nampak bahagia saat di pelaminan. Namun setelah pesta usai, kata Saprol, Marni sempat menangis pilu dan tersedu-sedu.

“Wajar dong, cewek cantik begitu kan banyak yang mau. Eh ini malah kawin sama yang bangkotan,” kata Saprol menggebu-gebu. Hmmm, sepertinya Saprol ini ada rasa sama Marni?

“Iya lah, laki-laki mana yang nggak mau sama kembang desa begitu. Lah yang bangkotan aja mau,” Saprol malu-malu.

Setahun sudah pernikahan Marni dan Malih. Tapi biduk rumah tangga mereka belum dikaruniai anak. Desas-desusnya, Marni enggan satu kamar dengan Malih. Bahkan lebih parahnya, kabar yang beredar, Malih sudah terlalu loyo untuk melayani Marni. Wah wah, sayang sekali kembang cantik seperti Marni kalau sudah begini.

“Iya lah, kalau kata pepatah mah, kutunggu jandamu aja,” Saprol terkekeh. Wah, Saprol modus banget nih kayaknya. Ditanya begitu, Saprol malah makin malu-malu. (Rizky-PPL/Radar Banten)